Di Balik Cendela



Sepasang burung dara baru saja terbang meninggalkan atap sebuah rumah sakit. Sekaligus meninggalkan dua pasang manusia yang sedang berbincang hangat.

“Kita pulang?” tanya perempuan yang duduk pada kursi roda.

Si lelaki yang berlutut di hadapannya tersenyum. “Iya. Kamu senang?” tanyanya.

“Tentu. Aku bosan di sini.” perempuan itu menggenggam tangan si lelaki.

Lelaki itu tersenyum penuh misteri. Dia pamit terlebih dahulu untuk menerima telepon yang ia bilang dari rekan kerjanya. Dan tinggalah perempuan itu memandang kosong pada pohon akasia di sebrangnya.

“Yuk.” si lelaki kembali.


“Udah angkat teleponnya, Mas?”

Si lelaki yang ternyata suaminya itu mengangguk. Wajahnya berseri-berseri, tampak seperti orang yang baru mendapatkan hadiah lotre.

“Lussy sudah menunggu. Ayuk kita pulang ke rumah.” ia mulai menjalankan kursi roda istrinya menuju rumah mereka. “Aku baru mengambil rapor Lussy.”

“Oh ya? Bagaimana peringkatnya, Mas?”

“Daraa,”

Dara menoleh. Ia berseru kegirangan mendapati sahabatnya datang dan tengah memeluknya erat. Dia adalah Carl, sahabatnya dan Darrel, suaminya, semasa kuliah dulu.

Carl mengurai pelukan mereka karena merasa sedikit sesak akibat perutnya yang sudah memasuki masa kehamilan tujuh bulan. Lantas menyapa singkat pada Darrel yang sedang sibuk memasukkan kursi rodanya pada mobil.

“Bagaimana kehamilanmu, Carl?” tanya Dara dengan antusias.

Carl tertawa sembari mengelus perut buncitnya dan menjawab dengan jumawa, “Dia sangat aktif, Ra. Untung saja ada suamiku. Jika begitu dia akan menjadi bayi yang begitu tenang.” tawanya yang renyah terhantar.

Dara ikut tertawa. “Kudengar suamimu tampan dan baik? Maaf ya aku tidak bisa hadir pada pernikahanmu waktu itu.” sesalnya.

“Ah, itu benar. Tidak apa. Kamu kan sakit.” hibur Carl.

Dara mengangguk saja. Ia menoleh pada suaminya yang baru saja masuk ke dalam mobil. Lalu melihat lagi pada Carl yang masih mengembangkan senyum manis madunya.

“Kamu sedang apa di sini?” tanya Darrel pada Carl.

“Aku baru menjenguk sanak saudaraku. Dan sedang menunggu taksi.”

“Ikut saja dengan kami, Carl. Aku khawatir jika kamu tidak mendapatkan taksi.” Dara memberi tawarannya.

Carl terlihat berpikir dan tampak tidak enak hati. “Tidak menggangu?”

Dara berdecak. “Kamu ini! Masuklah, aku sudah tidak sabar menemui Lussy.” tangannya melambai-lambai meminta Carl untuk masuk.

Carl tak dapat menolak, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang. Tiba-tiba ia bertepuk tangan, “Lussy, anak cantik itu pasti semakin menggemaskan.”

Dara dan Darrel terlihat mengangguk, merasa setuju dengan perkataan Carl mengenai putri mereka.

Seminggu setelah Dara pulang dari rumah sakit, keadaan di rumahnya masih berbeda daripada sebelum ia pergi ke rumah sakit satu tahun yang lalu. Lussy, putrinya menjadi gadis kecil pendiam yang hobinya memainkan boneka usang di depan jendela yang menyuguhkan pemandangan tiga hektar ilalang kering. Saat ia bertanya keadaan Lussy pada Darrel, suaminya itu hanya menjawab bahwa putri mereka baik-baik saja. Tapi Dara bukan wanita bodoh hingga percaya begitu saja. Dia mulai mengamati semua hal.

Semua. Dari Lussy yang menangis saat malam menjelang, Darrel yang sering pulang tengah malam, dan Carl yang setiap pagi datang ke rumahnya membawa sarapan dengan dalih jika Dara masih tak cukup sehat untuk bersentuhan dengan dapur.

Karena malam itu ia tak bisa tidur dan Darrel masih berada di kantor, Dara memilih pergi ke kamar Lussy dan mendapati putrinya itu menangis sambil menghadap ke jendela kamar. Ia bergegas mendekati putrinya.

Raut wajahnya mendadak cemas, ia memalingkan wajah Lussy padanya dan bertanya, “Cup cup. Lussy kenapa? Bilang sama Ibu, Nak,” ia buat tutur katanya selembut mungkin.

Lussy menggerak-gerakan tangannya membentuk sebuah kalimat, “Aku dan Ayah sudah mati, Bu. Dan Tante Carl yang membunuhnya. Keluar dari rumah ini, Bu. Dia bisa melihat Ibu.” tangannya terhenti.

Dara menatap putrinya tak percaya. Dia mundur menjauhi Lussy dan menutup pintu kamarnya. Saat berbalik, seringai Carl menghalangi penglihatan–


“Anda mengotori tembok lagi?” perawat menatapnya dengan lelah.

“Ck! Suster menghancurkan cerita saya.”

Perawat itu menariknya untuk keluar dari bangsal. “Anda harus keluar, Bu. Dan darimana anda mendapatkan crayon?”

“Permisi,” seorang wartawan menghampiri mereka.

Suster itu tersenyum. “Kenapa?”

“Kalau boleh tahu, kenapa dia mengalami hal ini?” tanya wartawan itu.

“Ah, dia. Itu gara-gara dia disiksa oleh oarangtua angkatnya saat remaja. Karena dia sering berimajinasi tentang hal yang aneh.”

“Halo, aku Dara hehe… sekarang kamu bisa melihat saya tanpa jendela itu.”

Telunjuknya mengarah pada jendela yang selalu ia gunakan untuk melihat dunia luar dan bagaimana imajinasinya dibuat.


Sumber : cerpen.com

No comments

Powered by Blogger.