Guling




"Ahahaha, iya benar benar!” seru ku senang. Aku sedang menelepon temanku, Pia. Kami mulai menelepon saat jam sebelas malam.

Aku melirik jam dinding di kamar kost ku, sudah jam satu lewat. Terkadang, gibah bagi wanita itu menyenangkan, sehingga membuat lupa waktu. Aku teringat akan mata kuliah pagiku besok.

“Pi, udahan dulu, yuk. Aku ada matkul besok pagi, diajar nya sama Pak Yos pula. Kalo telat, mampus aku,” ucap ku. Pia mengiyakan ku, seolah mengerti betapa galaknya dosen ku pagi besok.

“Yaudah, dadah Pia Pia. Guling ku sudah mau ngajak ngapel nih,” canda ku. Pia tertawa. “Hati hati dengan ucapan mu,” ledek Pia.


Setelah mengucapkan ‘dadah’ berkali kali, akhir nya sambungan telepon putus. Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menarik selimut hingga dada.

Aku membuka ponsel, ingin bermain sebentar dengan benda pipih itu sebelum akhirnya rasa kantuk menyerang mataku.

Aku bergelung dibawah selimut, memeluk guling empuk yang menemaniku selama aku tinggal di kost ini. Perlahan aku memejamkan mata, mulai membuka kilas kilas mimpi dialam bawah sadarku.

Eh?

Bau apa ini?

Aku mengendus, mencium bau pandan yang menyeruak hebat di dalam kamarku. Sejak kapan ada pandan di kamar ku?

Aku dengan malas membuka mata. Aih, bau ini begitu menyengat, menganggu pernapasan ku.

Aku duduk ditepi kasur dengan gontai, berniat untuk minum air. Seteguk, dua teguk. Aku menaruh gelas setelah meneguk air yang ke empat.

Aku kembali ke kasur, lalu mencoba tidur, lagi. Bau pandan itu semakin parah. Seolah bau itu berada di dekatku.

Aku menutup hidung dengan gulingku, tetap positif thinking bahwa bau pandan itu dari musang pandan yang mungkin ada diatap. Besok aku harus menyuruh Mang Usep memeriksa atap.

Percuma, gulingku yang wangi bahkan tak mampu mengalahkan bau bau tidak sedap ini. Aku mendengus kesal, ingin tidur pun susah banget.

“Bau banget sih, bikin mual aja,” decakku kesal. Musang nya ada berapa sih? Satu? Dua? Kenapa bau sekali?

Aku hendak memejamkan mata lagi saat aku merasakan bulu kudukku meremang. Pikiranku mulai kalut, tidak tenang. Astaga, berpikir positif, Dira. Berpikir positif.

Hawa dingin menusuk leherku. Seakan belum cukup membuatku ketakutan, aku merasakan sesuatu memeperhatikan ku dari jauh.

Aku berusaha bodo amat dan menutup seluruh tubuh ku dengan selimut. Aku seakan ingin mati dari dunia ini ketika selimutku ditarik paksa dan melihat sosok tinggi seperti guling yang tersenyum lebar, memperlihatkan mata bolong, wajah berdarah, bernanah, dan belatung dimana mana.

Sosok itu tersenyum begitu lebar, seolah merobek wajahnya sendiri. Aku yakin aku pingsan setelah sosok itu mengucapkan kalimat yang tidak akan pernah aku lupakan.

“Aku nungguin dari tadi loh, kita kan mau jalan.”


Sumber :merdeka.com

No comments

Powered by Blogger.