Kepiting Soka, Peluang Baru Usaha Budidaya Tambak



Pemerintah melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara menebarkan dukungan berupa 102.800 ekor benih kepiting untuk mendorong kegiatan usaha yang tergolong baru, yakni budidaya kepiting di tambak, Selasa (12/5/2020).


Distribusi dukungan tersebut terus dilakukan KKP terhadap pembudidaya terdampak Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan dukungan langsung akan terus dilakukan selama pandemi Covid-19 untuk meningkatkan daya ungkit terhadap nilai tukar pembudidaya ikan.

Pendistribusian bantuan benih kepiting ke masyarakat setelah BBPBAP Jepara mampu melakukan pembenihan secara massal.

"Pendistribusian benih kepiting ke kelompok masyarakat untuk menciptakan peluang usaha baru. Disisi lain, pembudidayaan kepiting diharapkan akan menopang suplai bagi permintaan pasar," jelas Slamet, Kamis (14/5/2020).

Hal lainnya yakni dalam rangka upaya pengendalian tangkap, sehingga nantinya benih tidak seluruhnya tergantung dari alam.

Sebagai komoditas yang diminati pasar domestik maupun ekspor, keberhasilan pembudidayaan kepiting akan menopang suplai sekaligus penyangga stok kepiting yang sebelumnya banyak mengandalkan benih dari alam.

KKP akan menggarap pembudidayaan kepiting soka. "Pak Menteri ingin budidaya kepiting soka bisa bangkit karena pasar sangat terbuka dan nilai ekonominya tinggi. Keberhasilan pembenihan kepiting secara massal jadi harapan baru untuk menggenjot produksi kepiting dari hasil pembudidayaan, tentunya disertai dengan upaya yang berkelanjutan."

Ketua Kelompok Pembudidaya Didik Kristianto saat menerima bantuan benih kepiting mengungkapkan dukungan benih sangat membantu untuk menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat di Pekalongan.

"Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan ini. Komoditas kepiting ini permintaannya tinggi dan harganya juga menggiurkan, maka dengan adanya pembudidayan kepiting ditambak kami bisa suplai kepiting hasil budidaya dan mengurangi tangkapan dari alam," ungkap Didik.

Nelayan mengikat kepiting bakau yang ditangkap di kawasan Desa Alue Raya, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Kamis (30/4/2020). Para nelayan mengaku mampu mengumpulkan kepiting bakau sebanyak 3 kg sampai 8 kg dalam sehari, yang kemudian dijual Rp25.000 sampai Rp60.000 per kg tergantung ukurannya. (ANTARA)

Teknologi Pembenihan

Kepala BBPBAP Jepara Sugeng Raharja saat dikonfirmasi mengatakan timnya memang cukup lama konsen untuk melakukan perekayasaan perbenihan kepiting. Hasilnya, pihaknya telah berhasil memproduksi benih secara massal yang bisa untuk menopang kebutuhan kepiting yang selama ini bergantung dari tangkapan alam.

Sugeng juga menyampaikan kalau selama ini kepiting bertelur secara alami di alam, saat ini pihaknya juga telah mampu membuat kepiting bertelur.


"Keberhasilan produksi benih kepiting ini merupakan upaya kami untuk menjamin agar keberadaan kepiting ini terus sustainable. Ini juga akan membuka alternatif usaha bagi petambak."

Secara teknis, rata-rata survival rate (SR) benih yang berhasil diproduksi yakni 8 persen sampai 20 persen. BBPBAP Jepara berkomitmen untuk terus menggenjot produktivitas lebih optimal.

"Selama pandemi Covid-19 ini kami akan fokus untuk beri dukungan langsung, termasuk yang kemarin kami berikan ke kelompok pembudidaya di Pekalongan", ungkap Sugeng.

BBPBAP Jepara juga telah melakukan pendampingan pembenihan dan budidaya kepiting di beberapa daerah, antara lain Belitung, Tanjungpinang, Tarakan, Kubu Raya, dan Indragiri Hilir. Saat ini, sebagian pembudidaya sudah mampu memproduksi benih kepiting secara mandiri.

Sumber:bisnis

No comments

Powered by Blogger.