Kiribati Masih Laporkan Nol Kasus Virus Corona COVID-19, Kelapa Jadi Rahasianya?



      Bekas koloni Inggris di wilayah Pasifik Tengah telah dinyatakan sebagai salah satu dari 13 negara di dunia yang berhasil menjaga angka nol kasus terkait Virus Corona COVID-19.



Kiribati adalah satu kelompok pulau dan merupakan salah satu yang termiskin dan terjauh dari semua negara di dunia dengan populasi penduduknya yang beragama Kristen hanya sebanyak 116.000.

Mengutip Mirror, Selasa (12/5/2020), kepulauan ini memiliki luas daratan total 800 kilometer persegi dan rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Fenomena nol kasus yang dimiliki oleh Kiribati disebut-sebut karena mendapat khasiat dari buah kelapa. 

Kiribati, yang memperoleh kemerdekaannya pada 1979, memiliki pohon kelapa di mana-mana.

Kelapa, yang dikenal sebagai moimoto di pulau itu, juga memberikan hidrasi dan nutrisi tetapi sekarang diklaim sebagai kunci status bebas Virus Corona baru di pulau itu.

Rooti Tianaira, seorang guru sekolah dasar di Tarawa, ibukota pulau itu, mengatakan: "Kami menggunakan moimoto untuk bertahan melawan virus. Ini sangat kaya akan vitamin C dan vitamin A."

“Nenek moyang kita biasa makan kelapa parut dan noni, buah asli lain yang dikenal karena rasanya yang menyengat tetapi memiliki khasiat memberi kesehatan untuk sarapan, dan minum todak asam (jus kelapa fermentasi). Mereka kuat, tanpa penyakit," lanjutnya. 

"Jadi sekarang, buah-buahan lokal ini digunakan sebagai obat, untuk membangun sistem kekebalan tubuh kita, itulah idenya. Mereka dijual di kios-kios di pinggir jalan," tambahnya lagi.

Banyak Terpapar Informasi dari Luar

Meskipun jumlah kelapanya melebihi populasi penduduk pulau itu, Rimon, seorang jurnalis lokal, menangkis klaim pencatutan dengan mengatakan buah itu di sana biasa dijual oleh pedagang.

Dia berkata: "Sebenarnya, menjual kelapa bukan hal asing di Tarawa."

“Tidak semua orang memiliki pohon kelapa sendiri, terutama di daerah berpenduduk padat, jadi mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetapi memiliki pohon di rumah terkadang menjual kelapa," jelasnya. 

"Tapi mengatakan kelapa dapat mencegah Virus Corona baru? Itu yang baru bagiku!"

Kekuatan moimoto adalah salah satu dari banyak rumor tentang COVID-19 yang telah beredar di Kiribati, menurut Rimon, yang dipercepat oleh pertumbuhan baru-baru ini di media sosial di sebuah republik dengan status PBB sebagai negara yang paling tidak berkembang (LDC). 

"Ini masalah besar di sini," kata Rimon.

“Kebanyakan orang mendapat akses ke internet baru-baru ini, dan itu hanya membombardir mereka dengan informasi. Mereka tidak tahu bagaimana membedakan berita palsu, jadi mereka mempromosikan apa yang tidak benar," ungkapnya. 

"Masalah kelapa itu tidak berbahaya, tetapi ada juga desas-desus bahwa kava dapat menghentikan COVID-19," tambahnya lagi.

Kava adalah minuman narkotika ringan, di mana dengan menelannya, bisa membuat seseorang lebih berisiko tertular penyakit menular karena biasanya diminum secara komunal, dari mangkuk bersama tempat cangkir dicelupkan, diminum, dan dicelupkan lagi.

Kava secara tradisional dibuat dengan mengunyah akar tanaman Piper methysticum dan mencampur gumpalan berserat ini dengan air.

"Itu adalah desas-desus konyol dan pihak berwenang harus melakukan kampanye untuk memberi tahu orang-orang bahwa ini tidak benar," kata Rimon.

“Saya orang yang berpendidikan, saya pernah tinggal di luar negeri, tetapi banyak orang di sini belum pernah terpapar dengan dunia luar. Anda akan terkejut dengan hal-hal apa yang menurut mereka merupakan masalah," katanya.

“Pemerintah tidak memiliki kebijakan media sosial, jadi sulit mengontrol di mana orang mendapatkan informasi mereka,"

"Hanya ada dua sumber resmi informasi untuk COVID-19 - siaran pers dari Kementerian Kesehatan dan Kantor Presiden, tetapi orang-orang berbagi apa pun yang mereka pikir mungkin benar,"

"Pemerintah perlu melihat bagaimana orang mengakses informasi, memperingatkan mereka bahwa mereka akan mendapat masalah jika mereka menyebarkan desas-desus," pungkasnya. 

Banyak Desas-Desus

Misalnya saja salah satu penduduk yaitu Tianaira, yang terus berhubungan dengan berita secara digital dan memiliki akun Facebook sejak dia menjadi pemilik smartphone baru-baru ini. 

Dia sangat baru menjelajah internet, sehingga mudah menerima berita palsu yang mencakup informasi yang salah terkait Virus Corona COVID-19 seperti informasi tentang Israel yang mengembangkan vaksin; bawang putih dapat membunuh COVID-19; sanitiser tangan bisa menjadi risiko kebakaran dan virus berawal dari orang-orang di China yang minum sup kelelawar.

Tianaira tidak yakin apakah itu benar, dia juga percaya bahwa penduduk di wilayah tersebut memerlukan laptop gratis guna menyebarkan informasi secara lebih luas. 

Sebuah video telah beredar di Kiribati tentang jenazah yang dibuang dari sebuah kapal, dengan klaim bahwa mereka adalah jasad korban Virus Corona baru yang dibuang di Selandia Baru dan kemudian telah menyebarkan ketakutan di antara para netizen yang baru lahir di Kiribati.

Setelah Tianara yakin itu salah, dia berkata: “Syukurlah.

“Saya sudah khawatir sejak melihatnya seminggu yang lalu. Saya sudah memberi tahu kepada teman-teman dan kami takut makan ikan."

Tanah Kiribati, yang hampir seluruhnya terdiri dari terumbu karang yang hancur dan dengan sumber air tawar yang terbatas, tidak ramah bagi sebagian besar tanaman dan ternak.

"Protein kami berasal dari laut," kata Tianaira. "Jika ikan itu diracuni, kita akan kelaparan."

Rumor lain yang memicu ketakutan dan konflik menyebar setelah orang asing yang sakit tiba di darat dari kapal yang berkunjung, memicu klaim palsu bahwa mereka menderita Virus Corona baru.

"Seorang anggota awak Rusia yang sakit dibawa ke darat, membutuhkan bantuan medis," kata Rimon.

“Dia dibawa masuk dan dokter diizinkan untuk melihatnya, untuk melihat apa yang salah,"

"Dia memiliki masalah paru-paru, jadi satu orang mulai mengatakan bahwa pria ini memiliki Virus Corona baru, dan orang-orang mulai menyebarkan ini,"

"Ini mendorong penutupan beberapa sekolah, dan bagi orang tua lain untuk menarik anak-anak mereka keluar dari sekolah."

Sekolah-sekolah yang masih dibuka kemudian menimbulkan perdebatan antara orangtua dan guru yang ketakutan tentang adanya Virus Corona COVID-19. Kepanikan kemudian menyebar ke distrik Betio di Tarawa, di mana pelabuhan utama berada dan di mana pelaut tersebut dibawa ke rumah sakit.

Betio adalah salah satu komunitas terpadat di Bumi, dengan angka sensus 2015 melaporkan 17.330 orang yang tinggal di tanah 1,54sq km.

Ini setara dengan Delhi dan Kolkata tetapi tanpa gedung-gedung tinggi.

Kondisi Betio juga miskin dan kotor, dengan adanya tempat pembuangan sampah terbuka pantai yang dikotori polusi selama beberapa dekade. 

Mempraktikkan tingkat kebersihan yang tinggi akan sulit dan praktik physical distancing juga menjadi tidak mungkin. 

Rimon, yang tinggal di Bairiki tidak mudah tertipu dengan keresahan semacam itu, tetapi mengakui potensi bencana jika Virus Corona baru menyerang Betio.

"Itu akan menjadi bencana besar," katanya.

“Kami tidak akan bisa mengendalikannya. Jika bahkan negara-negara berkembang besar seperti Italia kewalahan, kami tidak akan punya peluang.

“Sistem perawatan kesehatan kita bahkan tidak sebagus negara-negara berkembang di sekitar kita. Kadang-kadang wabah diare atau flu biasa bahkan mereka membuat kita tertekan, tetapi setidaknya kita memiliki obat untuk itu dan tahu cara mengobatinya,"

"Tetapi dengan Virus Corona baru, dari apa yang telah kita lihat secara internasional, itu akan memusnahkan kita," tutupnya. 

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.