Mengenal Istilah ‘New Normal’ di Tengah Pandemi Covid-19



Istilah New Normal mulai heboh diperbincangkan dan diperdebatkan oleh banyak pihak setelah resmi disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (15/5/20) di Istana Merdeka, Jakarta. Presiden menyampaikan bahwa masyarakat untuk belajar berdampingan hidup dengan Covid-19.



Pernyataan ini didorong oleh pernyataan World Health Organization (WHO) sebelumnya yang menyatakan bahwa meskipun kurva kasus positif Covid-19 menurun, virus corona tidak akan hilang dari kehidupan manusia. Maka dari itu, Presiden meminta masyarakat untuk mulai berkompromi hidup berdampingan bersama virus corona.

Hal lain yang dianggap mendorong pernyataan ini juga didasarkan pada fakta bahwa jumlah korban terinfeksi Covid-19 terus bertambah dan terjadi pelemahan ekonomi global yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Dikutip dari Merdeka.com bahwa jumlah korban terinfeksi virus corona di Indonesia sudah mencapai angka 17.514 orang.

Melihat fakta tersebut, pemerintah berinisiatif untuk menerapkan skenario New Normal dan diharapkan melalui cara ini, bisa menjadi solusi dan memperbaiki keadaan nasional. Tentu saja seperti normalnya sebuah kebijakan yang diambil pemerintah, wacana New Normal juga tidak serta merta ditanggapi positif oleh masyarakat. Masih banyak pihak yang menyangsikan keputusan pemerintah soal scenario New Normal ini.

Informasi mengenai New Normal sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat karena ini menyangkut kepentingan banyak orang. Buat kamu yang masih bingung dengan istilah New Normal, simak ulasan selengkapnya berikut ini. Fimela.com akan mengulas istilah New Normal beserta pro kontra kebijakan dan tips untuk menjalaninya.

Mengenal Istilah New Normal

Istilah New Normal merujuk pada tatanan kehidupan baru yang harus diadatasi oleh manusia dalam menjalankan kehidupannya setelah pandemi Covid-19 muncul. Artinya, masyarakat dapat kembali beraktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Dengan kata lain, masyarakat diminta untuk berdamai dan berdampingan hidup bersama virus corona.

New Normal merupakan sebuah pilihan ataupun keputusan yang diambil pemerintah untuk merespon pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih belum bisa dikendalikan dan terus menginfeksi banyak orang. Tentu saja ini dilatarbelakangi juga kegelisahan ekonomi yang dirasakan oleh semua orang bahwa mereka ingin bisa kembali bekerja dan berpenghasilan untuk meneruskan hidup.

Dirangkum dari berbagai sumber, diketahui bahwa skenario New Normal sendiri rencananya akan dimulai pada Juni mendatang. Skenario yang dibuat oleh Ekonom Senior Raden Pardede ini memiliki timeline dan akan diterapkan secara bertahap melalui 5 fase yang dimulai tanggal 1, 8, 15 Juni hingga 6, 20, 27 Juli 2020.

Selama fase berlangsung, pemerintah akan mulai membuka kembali berbagai sektor industri, jasa bisnis, toko, pasar, mall, sektor kebudayaan, sektor pendidikan, aktivitas sehari-hari di luar rumah, dan lain sebagainya hingga evaluasi.

Selain istilah New Normal, istilah yang tidak kalah populer ditengah pandemi Covid-19 saat ini ialah Herd Imunity. Herd Imunity adalah konsep kekebalan terhadap penyakit yang dipakai untuk level populasi. Bertujuan untuk menciptakan kekebalan tubuh bagi sekelompok populasi bukan hanya seseorang atau individual saja.

Skenario New Normal sendiri diharapkan juga dapat mendukung konsep Herd Imunity yang mana dengan melalui tatanan kehidupan baru, masyarakat tetap bisa beraktivitas dengan protokol kesehatan. Diharapkan setelah masyarakat mulai terbiasa dengan skenario ini dapat memunculkan juga Herd Imunity.

Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat terhadap skenario New Normal dan Herd Imunity ialah kesiapan masyarakat untuk menjaga kesehatan tubuh. Walaupun pada penerapan New Normal nanti juga akan mempertimbangkan aktivitas sesuai umur yang ditentukan, namun masyarakat diharapkan mampu menjaga kesehatan dengan baik agar tidak mudah sakit dan terjangkit virus.

Pro Kontra

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa skenario New Normal ini pasti akan melahirkan pro kontra dari banyak pihak. Beberapa menerimanya namun, banyak juga yang mengomentarinya dan menganggap bahwa kampanye New Normal yang sedang digaungkan oleh pemerintah bukan keputusan yang baik dan kurang menimbang dampak.

Bagi pihak yang setuju, mereka menilai bahwa skenario ini bisa memulihkan kembali kondisi perekonomian masyarakat sehingga masyarakat nantinya tetap bisa produktif, berpenghasilan dan melanjutkan kehidupannya. Hal ini berkaca dari strategi yang diterapkan oleh China.

Setelah China melonggarkan aturan lockdown, roda perekonomiannya kembali mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan dengan data PMI yang menunjukkan sektor manufaktur China langsung melesat naik menjadi 52. PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di atasnya berarti ekspansi, sementara di bawah 50 berarti kontraksi.

Kembali pada Indonesia, pemerintah juga sudah mulai menyiapkan berbagai strategi agar skenario ini berhasil. Strategi yang pertama adalah mensosialisasikan  protokol kesehatan yang harus dipatuhi seperti, menjaga jarak aman (social distancing), selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan masker, serta membatasi perjalanan yang tidak perlu.

Selain itu, pemerintah saat ini juga sudah mengizinkan karyawan berusia di bawah 45 tahun di 11 sektor yang saat ini dikecualikan dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk kembali bekerja.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang PSBB pada pasal 13, ada 11 sektor yang dimaksud adalah kesehatan, bahan pangan atau makanan/minuman, energi, komunikasi dan teknologi informasi, keuangan, logistik, perhotelan, konstruksi, industri, pelayanan dasar pada obyek vital, serta kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan Surat Menteri BUMN Nomor S-336/MBU/05/2020 tertanggal 15 Mei 2020, kebijakan ini dijalankan dengan tetap menerapkan protokol perlindungan karyawan dan pelanggan serta rantai lainnya.

Sedangkan bagi pihak yang tidak setuju ataupun kontra dengan skenario New Normal berpendapat bahwa skenario ini dinilai bukan kebijakan yang tepat untuk merespon pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini. Pemerintah dianggap keliru dan seharusnya lebih memfokuskan kebijakan pada penurunan angka jumlah korban dengan tidak melonggarkan PSBB.

Skenario ini juga dikhawatirkan membuat masyarakat kebingungan seperti perdebatan antara mudik dan pulang kampung. Apabila pemerintah hendak menerapkan skenario ini maka, perlu adanya kajian serta regulasi yang jelas agar tidak membuat gaduh masyarakat.

Tips Menerapkan New Normal

Dalam menghadapi skenario New Normal, maka kamu perlu mempersiapkan diri karena tentu ini adalah hal baru. Kita tidak bisa menjalankan keseharian seperti biasa pada saat pandemi ini belum muncul. Ada banyak perubahan yang harus kita adaptasi. Maka dari itu, berikut tips menerapkan new normal yang bisa kamu coba:


1. Membiasakan diri dengan penerapan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, seperti memakai masker dan tetap menjaga jarak dengan orang lain.

2. Mulai memperhatikan kesehatan diri lebih baik lagi agar daya tahan tubuhmu kuat dan tidak mudah terjangkit virus.

3. Hindari aktivitas diluar rumah yang tidak penting, apabila harus keluar rumah maka, pastikan tujuanmu jelas atau kamu telah membuat planning seperti, ingin berbelanja kebutuhan.

4. Jika memungkinkan, biasakan diri dengan aktivitas yang serba virtual agar mengurangi kontak langsung dengan manusia lainnya.

5. Patuhi himbauan-himbauan pemerintah dalam upayanya menurunkan angka korban terinfeksi Covid-19.

Sumber:fimela

No comments

Powered by Blogger.