Paku Keramat



Aku Desi, Mahasiswi jurusan Keperawatan yang merantau ke Kota Besar. Aku berasal dari kota yang sangat jauh.  Banyak orang bilang perawakanku sangat ideal. Tinggi, putih, dan cantik. Walaupun sebenarnya aku tidak merasa seperti itu. 

Hari ini aku datang menetap sementara di sebuah rumah Kos. Namanya merantau untuk mencari ilmu,ya mau gak mau mesti tinggal ngekos bareng dengan orang orang yang gak aku kenal.Pemiliknya agak aneh. Sebut saja Ibu Rahma. Dia agak pendiam, tapi baik juga sih. Cuma agak misterius gitu. 

***



"Aahhh, akhirnya bisa istirahat juga Mam. Aku udah capek banget. Ohh iya tadi Vivi yang anter aku kesini. Dia udah balik ke kosannya." Aku berbincang dengan Mama ku di telepon. 

"Ya udah kalo gitu kamu tidur. Jangan keluar keluar kalo gak penting. Daerah orang kamu belum tahu." Jawab Mama khawatir. 

Aku menutup telepon Mama dan merebahkan tubuhku di kasur dalam kamar kos ku. Tak terasa rasa kantuk itu datang. 

Tok tok tok (suara mengetuk pintu) 

Aku membuka mata dan menuju ke arah pintu. 

"Siapa? "

(Tak ada suara yang menyahut) 

Aku hanya berdiri di belakang pintu tanpa membukakan pintunya. Mencoba mengintip dari lubang kunci yang bahkan aku tidak melihat siapa siapa. 

Aku kembali duduk diatas kasur ku sambil memegang HP ku. 

Kemudian, 

Tok tok tok (suara mengetuk pintu) 

Lagi-lagi ada yang mengetuk pintu. Aku mendekati pintu itu perlahan tanpa suara apapun. Aku mencoba mengintipnya seperti tadi melalui lubang kunci.

Aku melihat seseorang berdiri di depan pon tuku. Namun aku tidak tahu siapa. Aku tidak melihat orangnya. Hanya bayangannya saja. 

Ku beranikan diri membuka pintu sekaligus dengan tangan mengepal, berjaga-jaga orang yang jahat mendekat. 

Krekkk (pintu terbuka lebar) 

Dan aku tidak melihat siapa siapa berdiri di depan pintu kamarku. Aku berjalan sedikit kedepan memastikan tak ada orang. Saat berbalik. 

"Neng... " Kata Ibu Rahma. 

"Astaga Ibu. Saya kira siapa? " Aku sambil tak percaya. 

"Kalau mau tidur, kunci pintu kamar dobel aja. Kalau ada yang ketuk malem-malem, gak usah dibuka. Saya kan di depan, kalau ada apa-apa, jadi telat dengernya. " Begitu kata Ibu kos. 

Aku hanya mengangguk dan masih terheran-heran, melangkah masuk ke kamar, sambil mengunci pintu. 

Kebetulan yang ngekos di rumah ini hanya aku dan Putri. Kebetulan Putri sedang tidak ada dikamar hari ini. Kabarnya Ia akan pulang malam. 

Aku pun belum pernah bertemu dengan  seorang bernama Putri itu. 

*** 

(Di kampus) 


Aku hanya mengangguk dan masih terheran-heran, melangkah masuk ke kamar, sambil mengunci pintu. 

Kebetulan yang ngekos di rumah ini hanya aku dan Putri. Kebetulan Putri sedang tidak ada dikamar hari ini. Kabarnya Ia akan pulang malam. 

Aku pun belum pernah bertemu dengan  seorang bernama Putri itu. 



***

(Di kampus) 


"Hai, kamu tinggal dimana? " Tanya seorang mahasiswi bernama Zahra berkenalan. 

"Di kosan belakang kampus" Jawabku. 

Seketika wajah Zahra berubah agak tegang mendengar, aku ngekos disana. 

"Des, kamu banyak Do'a, deket sama Allah sebab kita kan gak tau makhluk yang gak keliatan. Apa mereka ikutin kita, atau gangguin kita. " Zahra menyarankan aku begitu. 

"Kenapa Ra? Kok tiba-tiba begitu ngomongnya? " Tanyaku heran. 

Dia hanya tersenyum dan melanjutkan diskusi dengan teman teman lainnya. 


***

(Di kosan) 

Karna pembelajaran belum dimulai efektif, akhirnya aku pulang masih siang hari. Seperti biasa, aku rebahan mendengarkan musik di kamar. 

Terlihat seseorang lewat melewati pintu kamarku. Kebetulan tidak aku tutup dan membuka sedikit. Tapi aku melihat ada bayangan lewat. 

Aku bangun dan membuka pintu. Pundakku ditepuk seseorang. Saat aku melihatnya, berdiri seorang wanita seusiaku. 

"Hei, aku Putri. Kamu baru kesini ya kemarin. Td malam, aku mau nemuin kamu tapi kayaknya kamu udah tidur deh. " Bicaranya agak cerewet. 

"Ohh Hai Putri, aku Desi. "

"Oke, kita baru berdua nih disini. Nanti makan bareng yuk kedepan. Jam 5 sore aja. " Ajaknya. 

Aku hanya mengangguk saja. 

Aku sengaja ikut Putri agar aku cepat  bisa hafal daerah sekitaran sini. 

Dijalan, aku ingin menoleh rumah Bu Rahma yang pemilik kos kosan tapi kepalaku berat rasanya. 

Akhirnya ku abaikan saja. 

Putri anak yang riang dan cerewet. Dia baik hati dan riang. 

"Des, tau gak orang sini tuh sering banget ngomong klo mau ngekos di tempat kita mesti ati-ati. "

Aku bengong, sama seperti Zahra yang mengatakan sesuatu pas di kampus tadi. Tapi aku diem aja, gak cerita kalo Zahra ngomongin itu. 

"Terus, katanya sejak 5tahun, kosan itu penghuninya gak pernah lebih dari 3orang.

Yahhh... Karna aku butuh, dan dapat lain mesti ngangkot, aku pilih disini. " Kata Putri Bercerita dengan Cuek. 

"Kamu kok diam aja sih? " Dia malah semakin berisik. 

"Terus selama kamu ngekos seminggu gak ada kejadian aneh?" Tanyaku. 

"Nggak tuh. Soalnya aku suka nginep di kosan temen juga sih. Hahahahaha" Jawabannya polos. 

Tak terasa waktu sudah jam 18.00.aku dan Putri memutuskan kembali ke kosan. 

***

Sesampainya  di kosan, aku lihat Bu Rahma masih duduk di depan teras rumahnya dengan pandangan kosong. Aku melihat dia melamun begitu dalam sampai Ia tidak melihat kami lewat di depannya. 

Aku hanya menyenggol Putri sebagai kode agar Putri juga bisa melihat Bu Rahma. 

Akhirnya di kamar kosan ku. Tapi, aku merasa jika Bu Rahma yang tadi sedang duduk di depan rumahnya, Sekarang Ia sudah masuk di rumah kosan kami, seperti  ekadame di dapur kosan. 

Suara krekes, krekes, di dapur menarik perhatianku. Aku mengintip nya pelan pelan. Sosoknya seperti Bu Rahma yang sedang makan sesuatu dengan begitu cepat. Tetesan darah di lantai membuatku kaget dan syok. 

Sebelum ketahuan, aku lari ke kamar dan menguncinya. 

"Astaga, siapa itu? "

Aku mencoba menelpon Zahra, teman Kampusku. 

"Ra, darurat Ra. Aku nginep di rumah kamu aja ya Ra. " Aku gemetaran dan takut. 

"Kenapa Des? "

"Aku ngeliat ibu kos makan sesuatu di dapur dengan ceceran darah. " Ra jemput aku. Aku gak bisa keluar. Aku takut. "Aku semakin ketakutan. 

Telepon ku terputus. Aku tidak tau harus apa sekarang. Ini sangat misterius. 

Tok tok tok (suara ketukan pintu) 

Datang lagi. Kali ini aku mendengar suara memanggilku. 

Pelan dan lirih. 

" Neng... "

Aku mendekati pintu tapi tak kuasa membukanya. Jantungku semakin berdegup kencang, namun aku tidak mau membuka pintu. 

"Buka dulu Neng ibu mau bicara. "

Semakin takut aku dibuatnya. Akhirnya aku tau tidak ada yang bisa ku andalkan selain menelpon Putri teman se kosku. 

Putri tidak menjawab teleponku. Pintu semakin lama seperti hendak didobrak saja. Akhirnya aku buka pintu kamarku dan pura pura tidak ada apa apa tadi. 

"A.a.a.da apa Bu? " Tanyaku. 

Matanya tajam sekali melihatku. Dia melirik ke kamar Putri. 1 meter Sebelah kamarku. Aku pun mencoba melirik nya dengan hati-hati. 

"Putri, gak boleh di ajak keluar. Faham kamu."

Dia agak sedikit emosional ketika Putri dan aku tadi makan diluar. 

"M.maaf Bu, tadi Putri yang ajakin aku. "

"Putri gak akan kemana mana lagi. Soalnya dia udah gak bisa kemana mana. "

Aku kaget dan hendak menemui Putri. Pintu kamarnya terkunci dan aku dobrak. Tiba-tiba aku berhasil mendobrak kamarnya. 

Putri tergeletak dengan kaki yang terpaku ke lantai. Dia meringis kesakitan. 

"Des, pergi Des lari... " Jawabnya. 

"Nggak Putri, aku gak akan tinggalin kamu. "

Paku ini sulit dicabut. Putri berdarah-darah semakin banyak. Bu Rahma datang dengan membawa paku yang lain. 

"Kamu, udah gak mau nurut ya. Keluar kosan buat makan aja. Kalau ngekos itu tidur. Bukan keluyuran. " Pelan, tatapannya tajam, dan menakutkan. 

Terdengar suara Zahra dan seseorang menaiki tangga. Ternyata benar saja Dia datang bersama Ayahnya. 

Seketika itu Ayahnya langsung membacakan Ayat Suci Al-Qur'an, dan Bu Rahma pun melawan dengan teriakan demi teriakan. 

Zahra membantuku untuk mengangkat Putri. Walau Putri dalam keadaan berdarah, Putri masih kuat untuk berusaha juga. 

Akhirnya Bu Rahma, pingsan. Putri, aku, dan Zahra diantar ayahnya ke rumah sakit. 


Sumber : Kompasiana

No comments

Powered by Blogger.