Peluang Bisnis Empon-empon, Laris hingga ke Mancanegara





Tanaman herbal memiliki nilai ekonomis dan bermanfaat dalam meningkatkan imunitas tubuh. Terutama pada masa pandemi korona seperti sekarang, tanaman herbal menjadi primadona.


Sejumlah orang meracik tanaman herbal untuk dikonsumsi selama masa karantina. Bahkan, sudah ada yang sukses mengembangkannya
 
Salah satunya ialah perempuan pensiunan berusia 60 tahun, Sudaryati. Warga Wonosobo, Jawa Tengah, ini berhasil mengembangkan usaha aneka minuman herbal berkhasiat.

“Berawal dari usaha untuk menjaga vitalitas tubuh, lalu saya terus membangun bisnis ini menjadi lebih besar,“ ujar Sudaryati, dikutip keterangan tertulis, Sabtu, 18 April 2020.
 
Dia bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Berdikari mengembangkan usaha sejak 13 Desember 2013. Hasilnya dipetik sekarang. Produk berlabel Jamu Rumpun Padi ini laku keras.
 
Lantaran jumlah produksi meningkat, karyawan yang mengolah dan melakukan pengemasan jamu empon-empon ini bertambah. Pada hari biasa, tenaga yang bekerja hanya tujuh orang. Kini naik menjadi 15 karyawan. Bahan baku didapat dari petani di daerah Wonosobo dan beberapa daerah di Jawa Tengah.
 
“Peningkatan jumlah produksi dan omzet jamu rumpun padi tersebut tak lepas dari permintaan pasar yang terus naik. Sebab, minuman yang dibuat dari rempah-rempah ini dapat menangkal penularan dan penyebaran virus korona,” ujarnya.
 
Sudaryati menyebutkan, bila di hari biasa dia menjual 150 boks. Sementara pada masa pandemi korona, sehari bisa menjual hampir 300 boks. Permintaan pasar tertinggi berasal dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan kota lain di luar Jawa. Selain dalam negeri, dia juga rutin ekspor ke Suriname, Belanda, dan Malaysia.
 
“Kurang lebih hampir dua bulan ini saya berhasil menjual 15 ribu boks. Ini salah satunya karena produk saya memiliki izin dan setifikat halal yang terjamin kualitasnya. Ini baru saja ada pesanan 1.860 boks jahe merah dan kunyit dari Ditjen Hortikultura Kementan,” tuturnya.
 
Produknya mampu memperkuat imunitas tubuh karena mengandung curcumin. Prof Dr Choirul Anwar Nidam MS, Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah melakukan penelitian terhadap produknya.
 
“Produk saya juga tanpa pengawet dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya.
 
Minuman serbuk buatannya dikenal dengan nama empon-empon. Empon-empon berasal dari Bahasa Jawa yang artinya tanaman obat. Bahan-bahannya terdiri dari kunyit (turmeric), cabe lempuyang (chili zingiber zerumbat), kencur (kaemferia galangal), daun sirsak lempuyang (soursoup leaves and zingiber zerumbet), temulawak (curcuma xanthorrhiza), dan jahe merah (red ginger).
 
“Semua jenis minuman rempah ini diolah secara alami tanpa zat pengawet. Bahan yang dibuat berasal dari tanaman rempah-rempah tradisional, berupa jahe merah, kunyit, temu lawak, cabe lempuyang, daun sirsak, dan beras kencur,” ujar dia.
 
Plt Direktur Sayuran & Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Kementan Sukarman menyebutkan, prospek tanaman obat selama masa pandemi covid-19 merangkak naik. Berdasarkan data Kementan pada 2019, luas lahan tanaman obat di Indonesia tercatat 27.539 hektare (ha) dengan total produksi 640.727 ton.
 
"Kami juga telah mengalokasikan bantuan pengembangan kawasan tanaman obat ke beberapa daerah di Indonesia. Pengembangan kawasan tersebut kita arahkan untuk penambahan area tanam baru. Ke depan ini akan terus kita lakukan supaya manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” ujar pria yang akrab dipanggil Karman ini.
 
Menurut Karman, tanaman obat memiliki kelebihan dengan tidak adanya efek samping jika digunakan dengan dosis yang normal. Harganya terjangkau dan bahannya bisa ditanam sendiri.
 
"Satu jenis tanaman obat bisa memiliki banyak khasiat, sehingga ini bisa dijadikan andalan mata pencaharian yang menjanjikan," ujar Karman.
 
Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hortikultura Yasid Taufik mengungkapkan, peluang ekspor aneka produk herbal cukup tinggi. Data BPS 2019 menyebutkan nilai ekspor tanaman obat sebesar 16.628 ton dengan nilai penjualan USD31,9 juta.
 

“Bisnis tanaman obat ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Didukung oleh ketersediaan bahan baku yang sangat kaya dan beragam di bumi Indonesia. Kami akan membantu sisi pembinaan mutu dan promosinya," ujarnya.
 
Yasid menyebutkan, Kelompok Wanita Tani Berdikari yang dipimpin Sudaryati ini telah difasilitasi untuk ikut serta dalam pameran Jeddah International Trade Festival pada akhir 2019 lalu, dan mendapatkan animo luar biasa.
 
"Saat ini Kementan tengah membantu proses sertifikasi dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA) untuk produk obat-obatan yang diproduksi oleh kelompok tani ini," ucap Yasid.

Sumber:medcom

No comments

Powered by Blogger.