Svalbard, Kota yang Lebih Banyak Beruang Ketimbang Penduduk




Selamat datang di Svalbard: tempat yang bisa disebut rumah oleh siapapun. Kota ini bebas visa, meskipun dalam wilayah Norwegia. 

Kepulauan ini adalah permukiman sepanjang tahun paling utara di dunia, dan ibu kotanya, Longyearbyen, adalah rumah bagi orang-orang dari  50 negara lebih.

Selain hamparan gurun salju putih. Pertama-tama yang bisa dilihat wisatawan berupa puncak gunung yang diselimuti salju. Ia jadi lanskap utama Svalbard, yang bisa dipandangi dari jendela pesawat saat hendak mendaray. 


Svalbard sudah dihuni sejak abad pertengahan. Dipercayai bahwa orang Viking adalah orang pertama yang menjelajahi pulau-pulau itu sekitar tahun 1200.

Selanjutnya, penjelajah Belanda adalah orang pertama yang melakukan kunjungan terdokumentasi ketika mencoba menemukan Jalur Timur Laut ke Cina pada tahun 1596. Abad-abad berikutnya membawa para pemburu  walrus dan paus dari Inggris, Denmark , Perancis, Norwegia, Swedia dan Rusia.

Pada tahun 1906, pengusaha Amerika John Munro Longyear mendirikan tambang batubara pertama di kepulauan ini, yang tetap menjadi industri utama Svalbard hingga abad ke-20. Saat ini, kegiatan utama di Svalbard adalah pariwisata, penelitian lingkungan, dan ekologi.

Pulau-pulau tak memiliki pemerintahan hingga 1920. Setelah Perang Dunia Pertama, sebuah perjanjian yang menjamin kedaulatan Norwegia atas Svalbard ditandatangani oleh sembilan negara - hari ini, sembilan negara itu menjadi 46 negara yang jadi bagian dalam perjanjian.

Perjanjian itu menetapkan bahwa wilayah tersebut tidak dapat digunakan untuk tujuan militer. Dan Norwegia ditunjuk bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan alam pulau-pulau itu. Namun, fitur yang paling mencolok dari perjanjian ini adalah klausa unik, yang menyatakan bahwa tidak boleh ada perbedaan antara perlakuan kepada warga Norwegia dan non-Norwegia.

Longyearbyen wilayah yang mayoritas dihuni para imigran, ketika mereka pindah ke Svalbard. Hanya ada 40 km jalan di pulau-pulau dan tidak ada jalan di antara pemukiman yang berbeda.

Jalanan itu hanya dapat diakses dengan perahu pada musim panas atau dengan mobil salju dalam musim dingin. Siapa pun yang meninggalkan batas kota biasanya membawa senapan. Pasalnya, Svalbard dikelilingi populasi beruang kutub. Lagipula, sekitar 3.000 beruang kutub di kepulauan ini melebihi jumlah penduduk, yang berjumlah 2.926 orang.

Meskipun terbuka bagi siapa saja untuk hidup, Svalbard bukanlah tempat yang paling ideal untuk dilahirkan - atau bahkan mati. Tidak ada rumah sakit untuk wanita hamil, dan jika seseorang meninggal, pemerintah daerah mengharuskan mayatnya diterbangkan atau dikirim ke daratan Norwegia.

Penguburan tidak diizinkan di kepulauan ini sejak tahun 1950 karena permafrost - lapisan tanah yang tebal yang benar-benar beku sepanjang tahun - tidak hanya mengawetkan tubuh, tetapi kadang-kadang mendorong mayat keluar jika mereka tidak dikubur cukup dalam.

Permafrost  dan suhu rendah terjadi di Svalbard sepanjang tahun. Rata-rata suhu hanya 7 derajat Celcius. Itupun pada musim panas. Namun suhu yang dingin itu, juga terbukti ideal untuk menempatkan Global Seed Vault -- sebuah tempat untuk menyimpan hampir sejuta sampel benih.

Global Seed Vault berjarak hanya sekitar 3 km dari jalan utama Longyearbyen. Ini telah menyimpan lebih dari 980.000 benih dari seluruh dunia sejak 2008. Benih-benih itu sebagai cadangan jika terjadi bencana global yang menyebabkan semua tanaman mati.


Sumber : tempo.com

No comments

Powered by Blogger.