10 Tradisi Unik di Indonesia, Rambu Solo di Toraja hingga Peresean di Lombok


Indonesia tak cuma dikenal akan alamnya yang indah, namun juga tradisinya yang unik.

Ada beragam tradisi unik yang cuma ada di Indonesia.

Tradisi unik ini yang menjadikan Indonesia populer di kalangan wisatawan asing.


Dilansir TribunTravel dari laman trip101.com, berikut 10 tradisi unik yang cuma ada di Indonesia.

1. Kasada (Jawa Timur): ritual persembahan panen

Perayaan Kasada selalu diadakan pada tanggal 14 Kasada (menurut kalender Jawa kuno) di Gunung Bromo.

Tujuan dari Kasada adalah untuk memperingati pengorbanan Raden Kusuma (putra Jaka Seger dan Lara Anteng, orang-orang yang dihormati oleh penduduk setempat). 

Orang-orang Tengger akan membawa semua persembahan mereka (panen dan unggas) ke puncak dan melemparkannya ke dalam kawah. 

Sementara itu, beberapa pertunjukan seperti Jaranan diadakan di desa.

2. Rambu Solo (South Sulawesi): Ritual pemakaman Toraja

Rambu Solo adalah upacara pemakaman tradisional yang diadakan oleh orang Toraja. 

Tujuan dari upacara ini adalah untuk memberikan semangat pada orang mati.

Mereka percaya bahwa roh akan kembali ke surga, Puyo , dengan leluhur mereka. 

Ritual dimulai dengan penyembelihan hewan (biasanya kerbau dan babi).

Status sosial tergantung pada berapa banyak hewan yang dikorbankan. 

Kegiatan yang harus kamu saksikan selama upacara adalah perkelahian kerbau, bernyanyi, dan tarian adat.

3. Ngurek (Bali): ritual menyakiti tubuh

Ngurek adalah tradisi Bali ekstrim yang diadakan untuk tujuan keagamaan. 

Para penyembah akan melukai diri mereka sendiri dengan menusuk tubuh mereka dengan pisau tradisional yang disebut "keris."

Selama ritual Ngurek, para peserta dianggap kesurupan. 

Tradisi Ngurek atau Nguying bertujuan untuk melayani "Sang Hyang Widi Wasa," sang dewa. 

Kamu dapat menyaksikan tradisi unik ini di hampir semua desa di Bali.

4. Pasola (Sumba): pemeragaan perang dengan kuda

Pasola adalah satu upacara tradisional yang luar biasa dari orang Sumba di Nusa Tenggara Timur. 

Pasola diadakan setiap tahun mulai Februari hingga Maret.

 Tujuan dari tradisi ini adalah berharap mendapatkan berkah Tuhan untuk panen yang lebih baik.

Pasola secara harfiah berarti "permainan perang."

Itu terjadi antara dua kelompok pria yang mengenakan kostum tradisional, memegang tombak kayu tumpul sambil menunggang kuda mereka.

5. Fahombo Batu (Pulau Nias): melompati batu besar

Fahombo Batu (lompat batu) adalah ciri budaya Pulau Nias. 

Fahombo Batu dilakukan oleh seorang pemuda dalam kostum tradisional. 

Dia harus melompati 2 meter (6,5 kaki) piramida batu-batu besar yang ditumpuk.

 Selama prosesi lompat, pengunjung dapat menikmati pria yang menunjukkan keahliannya dari kejauhan.

 Jika pemuda setempat dapat menantang dirinya sendiri untuk melompati batu, itu berarti dia telah mencapai kedewasaan.

6. Kebo-Keboan (Banyuwangi): festival meminta hujan

Kebo-Keboan adalah tradisi unik di Banyuwangi yang bertujuan meminta hujan. 

Upacara selalu diadakan selama musim kemarau dan diadakan di desa Osing. 

Para peserta berpakaian seperti kerbau dengan mengolesi tubuh mereka dengan minyak dan mengenakan dua tanduk di kepala mereka. 

Penduduk setempat percaya bahwa seekor kerbau melambangkan kekuatan. 

Para kerbau berbaris dan menari dengan penuh semangat di sepanjang jalan.

7. Tabuik (Sumatera Barat): Tahun Baru Islam

Tabuik bertujuan untuk menyambut Muharam, bulan pertama tahun Islam. 

Penduduk setempat membawa Tabuik (benda berbentuk peti mati berwarna-warni yang terbuat dari rotan dan bambu) dan mengapungkannya melalui laut.

 Tabuik juga memperingati kematian cucu Muhammad bernama Hasan dan Husain. 

Tradisi ini adalah campuran praktik budaya antara orang Tamil dan orang Minang.

8. Bakar Batu (Papua): memasak dengan batu panas

Bakar Batu dulunya hanya ritual memasak batu panas untuk orang Papua. 

Sekarang, bukan hanya memasak tetapi juga festival untuk perayaan seperti pernikahan, melahirkan, atau acara publik. 

Bakar Batu memiliki sifat rasa terima kasih yang sangat simbolis dan bertujuan untuk memperkuat hubungan.

 Semua penduduk desa berkumpul, menyalakan api di atas tumpukan batu, dan memasak ubi jalar atau babi hutan yang dibungkus dengan daun pisang. 

Akhirnya, mereka makan bersama-sama.

9. Bambu Gila (Maluku): menari bersama bambu yang menggila

Tradisi yang berasal dari Maluku dipegang oleh sekelompok pria yang membawa bambu. 

Penduduk setempat percaya bahwa bambu memiliki kekuatan mistis dan dapat menjadi kerasukan.

 Alat musik tradisional akan dimainkan selama ritual. 

Musiknya membuat tarian bambu menyamping dan para lelaki membawa bambu mengikuti irama menari bambu.

10. Peresean (Lombok): pertarungan pedang rotan

Mereka menggunakan tongkat rotan sebagai pedang, dan perisai yang terbuat dari kulit kerbau. 

Sang pejuang hanya diperbolehkan menyerang punggung dan bahu lawan. 

Alat musik tradisional seperti gong, kendang (kendang tradisional), dan seruling (seruling tradisional) dimainkan sebagai latar belakang






Sumber : tribun

No comments

Powered by Blogger.