55 Hari Tanpa Covid-19, Kini Beijing Tertutup untuk Wisatawan





Gelombang kedua virus corona mungkinkah menerpa Beijing? Usai wabah pertama pada Desember 2019 yang bermula di Kota Wuhan, Beijing, ibu kota Cina melaporkan tak ada wabah yang muncul sejak April 2020.

Selama 55 hari, ibu kota Cina itu belum melaporkan adanya infeksi yang ditularkan secara lokal dan kehidupan telah kembali normal. Bisnis dan sekolah dibuka kembali, orang-orang kembali bekerja, dan angkutan umum dan taman kota kembali dipenuhi warga.

Dikutip dari CNN, suasana kota yang menggembirakan itu kembali mencekam pada pekan lalu. Saat pasar grosir sembako terbesar di Beijing, menjadi pangkal penyebaran virus corona. Tercatat 180 orang terinfeksi hingga Jumat, 12 Juni 2020. 

Dalam hitungan hari, sebagian kota metropolitan yang berpenduduk lebih dari 20 juta orang ini dikarantina. Mengutip CNN, pihak berwenang memperkenalkan kembali langkah-langkah pembatasan ketat yang digunakan sebelumnya, untuk melawan gelombang awal infeksi.

Aparat menutup lingkungan perumahan, menutup sekolah dan melarang ratusan ribu orang yang dianggap berisiko tertular virus agar tak  meninggalkan kota. Sekitar 356.000 orang telah diuji hanya dalam lima hari.

"Wabah di Beijing ini mungkin tidak dimulai pada akhir Mei atau awal Juni, tetapi mungkin sebulan sebelumnya," kata Gao Fu, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Cina, pada pertemuan di Shanghai pada hari Selasa, 16 Juni 2020.

"Pasti ada banyak kasus asimptomatik atau ringan di (pasar), itu sebabnya virus telah terdeteksi begitu banyak di lingkungan," katanya.

Bukti dari Amerika Serikat menunjukkan antara 25-45 persen, orang yang terinfeksi kemungkinan tidak memiliki gejala, dengan studi epidemiologi menunjukkan bahwa orang-orang dapat menularkan virus kepada seseorang yang tidak terinfeksi.

Selama beberapa bulan terakhir, beberapa pakar kesehatan Cina telah memperingatkan kemungkinan infeksi kedua, bahkan ketika media pemerintah Cina berulang kali memuji keberhasilan pemerintah dalam mengatasi wabah tersebut, dan membandingkannya dengan kegagalan pemerintah Barat.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN pada bulan Mei, pakar pernapasan Tiongkok Dr. Zhong Nanshan memperingatkan bahwa Cina masih menghadapi "tantangan besar" dari kemungkinan kembalinya virus itu, dan bahwa pihak berwenang tidak boleh berpuas diri.

"Mayoritas ... Cina saat ini masih rentan terhadap infeksi Covid-19, karena kurangnya kekebalan," kata Zhong. "Kami menghadapi tantangan besar, itu tidak lebih baik daripada negara-negara asing saat ini."

Wabah di Beijing akan menjadi ujian terbaru dari strategi penahanan virus corona Cina.

Bukan Gelombang Kedua?


Pada hari Kamis, 18 Juni 2020, Wu Zunyou, kepala ahli epidemiologi di CDC Cina, memberikan nada kemenangan, menyatakan bahwa wabah di Beijing sudah "terkendali."

Wu mengatakan bahwa masih ada kemungkinan bahwa akan ada kasus baru yang dikonfirmasi terkait dengan Pasar Xinfadi, yang muncul dalam beberapa hari mendatang. 

"Akan ada kasus yang dilaporkan besok dan lusa. Kasus yang dilaporkan adalah proses deteksi infeksi sebelumnya. Bukan infeksi baru. Infeksi baru hanya sporadis," kata Wu.

Kepala ahli epidemiologi CDC itu, mengatakan bahwa tidak terduga untuk melihat wabah baru di Beijing, mengingat banyaknya kasus global baru.

"Selama ada risiko kasus impor, infeksi impor dan kelompok kecil yang disebabkan oleh infeksi impor mungkin terjadi di mana saja di Cina. Dari sudut pandang ini, (wabah Beijing) adalah normal," katanya.

Menurut 9 News, Beijing telah membatalkan kegiatan pariwisata di negeri itu, termasuk perjalanan wisata domestik. Diberitakan Global Times, 1.255 penerbangan ke dan dari dua bandara utama di Beijing  dibatalkan pada Rabu pagi, 17 Juni 2020, sekitar dua pertiga dari yang dijadwalkan. Cina juga membatasi perjalanan lain di sekitar ibu kota, yang masuk Beijing. 


Sumber : tempo.com

No comments

Powered by Blogger.