Ahli Sebut Virus Corona Bisa Bertahan 20 Tahun dalam Minus 20 Derajat


Seorang ahli epidemiologi terkemuka di China mengklaim bahwa virus corona yang menyebabkan pandemi COVID-19 dapat bertahan selama 20 tahun dalam suhu minus 20 derajat celcius.


Profesor Li Lanjuan, anggota tim ahli COVID-19 China, juga memperingatkan orang-orang untuk tidak menyentuh daging atau ikan mentah untuk mencegah virus corona baru.

Dilansir Times Now News, pada pertemuan di Hangzhou, China Timur, pakar mengatakan bahwa virus itu tidak takut dingin, lapor China News yang dikelola pemerintah. “Virus corona baru terutama tidak takut dingin. Virus ini dapat bertahan selama beberapa bulan dalam -4 derajat Celcius dan 20 tahun dalam minus 20 derajat Celcius," kata pakar tersebut.

“Ini menjelaskan mengapa virus ini ditemukan beberapa kali di pasar makanan laut yang memiliki banyak makanan beku. Mungkin saja virus ditransportasikan ke berbagai negara," tambahnya.

Oleh karena itu, pakar mendesak pemerintah China untuk memperkuat inspeksi produk makanan beku impor, seperti salmon untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut. Menurut sebuah laporan di ARY News, otoritas kesehatan telah memperkenalkan seperangkat pedoman antivirus baru untuk publik selama konferensi pers pada 20 Juni.

Peraturan tersebut termasuk merekomendasikan pekerja di tempat-tempat berisiko tinggi seperti pasar dan teater untuk mengenakan penutup wajah untuk mencegah penyebaran virus.

Zhang Yong dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC) mengklaim strain virus yang menyebar di Beijing lebih tua dari virus yang saat ini beredar di Eropa.

Zhang meningkatkan kemungkinan virus mengintai di makanan beku impor atau di pasar grosir itu sendiri dan menghasilkan kesamaan dengan strain yang lebih tua. Namun, para ilmuwan memperingatkan agar tidak membuat kesimpulan awal pada kluster Beijing.

"Ada kemungkinan bahwa virus yang sekarang menyebabkan wabah di Beijing telah melakukan perjalanan dari Wuhan ke Eropa dan sekarang kembali ke China," jelas Ben Cowling, pakar kesehatan masyarakat di Universitas Hong Kong.

Sementara itu, Wu Zunyou, kepala ahli epidemiologi di CDC, sebelumnya mengatakan virus yang ditemukan di Beijing mirip dengan strain Eropa.

Laporan itu menambahkan bahwa sejak wabah dimulai, grosir makanan dan toko ritel di Beijing telah meningkatkan pengujian pada produk, termasuk daging dan makanan laut. Sebelumnya, media pemerintah melaporkan tentang deteksi virus dari talenan yang digunakan untuk menangani salmon impor di pasar.

Namun, para pejabat mengatakan meskipun ada peringatan, mereka tidak memiliki bukti untuk membuktikan bahwa orang akan terinfeksi COVID-19 dari makan makanan laut.

Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.