Aksi Warga Aceh Selamatkan Pengungsi Rohingya Jadi Sorotan Dunia



     Warga Desa Lancok menolong sekitar 100 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di atas perahu mereka di perairan Aceh Utara pekan lalu. Para pengungsi meminta disiapkan perahu yang bagus karena mereka sebenarnya ingin ke Australia.



Hingga saat ini, para pengungsi telah mendapatkan bantuan makanan dari warga yang berada di Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Namun sebagian di antara mereka masih memerlukan bantuan medis setelah berada di lautan selama lima bulan.

Insiden penyelamatan yang viral ini ternyata juga menjadi sorotan dunia dan media asing. Al Jazeera misalnya. Dalam artikel bertajuk 'Best of humanity': Indonesian fishermen rescue stranded Rohingya dituliskan bahwa warga Aceh dengan sigap menjulurkan tangan mereka saat menolong para pengungsi.

"Ini murni karena alasan kemanusiaan," kata nelayan Aples Kuari.

"Kami sedih melihat anak-anak dan wanita hamil terdampar di laut," tambahnya.

Selain itu, situs Amnesty International dalam media press-nya menyebutkan bahwa ini adalah bentuk optimisme dari sikap solidaritas.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan, penyelamatan pengungsi Rohingya ini adalah momen optimisme dan solidaritas.

"Ini merupakan penghargaan bagi masyarakat di Aceh yang mendorong dan mengambil risiko sehingga anak-anak, perempuan dan laki-laki dapat dibawa ke pantai. Mereka telah menunjukkan yang terbaik dari segi kemanusiaan," demikian dituliskan dalam artikel berjudul Indonesia: Aceh community shows ‘best of humanity’ in pushing for Rohingya rescue.

Tak ketinggalan, dalam situs Dhakatribune dengana artikel bertajuk Nearly 100 Rohingya rescued off Indonesia menulis; Malaysia dan Indonesia adalah tujuan favorit bagi Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar, dengan ribuan orang mencoba melarikan diri melalui penyelundup melintasi laut setiap tahun.

Media ABC News juga mengangkat kisah penyelamatan ini. Media itu melaporkan tentang kekhawatiran para pengungsi yang membawa virus ke Indonesia.

"Menurut Rima Shah Putra dari LSM Yayasan Geutanyoe di Aceh, sejumlah pengungsi perempuan mengalami masalah higienis dan gatal-gatal."

"Pihak berwenang juga telah melakukan tes virus corona dan dari hasilnya dipastikan tidak ada yang tertular. Sebanyak 79 pengungsi di antaranya kaum perempuan dan anak-anak yang kini ditampung sementara di salah satu fasilitas imigrasi."

ASEAN Harus Terima Pengungsi Rohingya

Koalisi LSM di Indonesi telah mendesak negara-negara anggota ASEAN agar lebih serius menekan Myanmar untuk menghentikan "kejahatan kemanusiaan yang terus berlangsung di negara itu".

"Negara-negara anggota ASEAN harus menerima para pengungsi Rphingya dan bukannya menolak sehingga mereka menjadi terombang-ambing di tengah laut," kata koalisi tersebut.

Namun dalam Pertemuan ke-36 ASEAN yang digelar secara online pekan lalu, masalah pengungsi Rohingya tidak menjadi pembahasan utama karena negara-negara ini fokus pada pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

PM Malaysia, Muhyiddin Yassin dalam kesempatan itu menyatakan, "kami tak bisa lagi menampung pengungsi tambahan karena sumberdaya dan kemampuan kami sudah terkuras oleh pandemi COVID-19".

"Malaysia secara tidak adil diminta untuk berbuat lebih banyak untuk menampung para pengungsi yang datang," ujarnya.

Sejak beberapa bulan terakhir, PBB telah memperingatkan Asia Tenggara akan menghadapi terulangnya krisis Laut Andaman tahun 2015, ketika ribuan orang Rohingya terombang-ambing di laut akibat penolakan sejumlah negara.

Akibatnya, sekitar 370 orang tewas saat itu.

Pandemi COVID-19 kini memperburuk kondisi di tempat pengungsian terbesar di dunia di Cox's Bazar, Bangladesh, mendorong banyak penghuninya mencari suaka ke tempat lain.

Bulan lalu, PBB menyatakan prihatin dengan adanya perahu-perahu yang dijejali kaum perempuan, pria dan anak-anak terombang-ambing di perairan yang sama. Mereka tak bisa mendarat, kekurangan makanan, air tawar, dan obat-obatan.

Australia memainkan peran sentral bersama dengan AS dan pemerintah setempat dalam menyelesaikan krisis 2015 tersebut.

Usman Hamid dari Amnesty Internasional menyatakan, Indonesia dan Australia dapat mencari solusi atas permasalahan ini melalui mekanisme 'Bali Process', yang secara historis berfokus pada perdagangan manusia.

"Pemerintah Indonesia harus memulai komunikasi intensif dengan para pemimpin negara di ASEAN dan Bali Process untuk menyelamatkan semua orang yang terjebak di perahu-perahu tersebut," katanya.

"Banyak sekali orang meninggal dalam perjalanan ini. Kini waktunya bagi para pemimpin untuk menyelamatkan nyawa manusia," ujar Usman.

Sementara itu Human Rights Watch menyatakan jika negara-negara Asia Tenggara "tanpa memiliki perasaan, menyerah begitu saja dalam melindungi pengungsi Rohingya."

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.