Corona juga mengubah tatanan bisnis esek-esek di kawasan prostitusi terbesar Asia


Pandemi virus corona mengubah bisnis prostitusi di kawasan prostitusi terbesar se-Asia, Sonagachhi, India. Sama seperti bisnis lain yang marak menggunakan teknologi informasi seperti video conference untuk rapat, bisnis prostitusi di Sonagachhi juga mulai beradaptasi dari corona menggunakan fasilitas serupa.

Penggunaan video conference untuk bisnis prostitusi di Sonagachhi semakin marak. Meski demikian, beberapa "klien" juga tetap memaksa bertemu dengan wanita pekerja seks komersial (PSK) di wilayah tersebut.


Selama 15 tahun, Laila Das (bukan nama sebenarnya) menggunakan "pertemuannya" dengan 5 klien dalam sehari. Sebagai pekerja seks komersial ( PSK), beberapa klien menginginkan berhubungan seksual dengan Laila sementara yang lainnya hanya ingin ditemani.

Laila adalah satu dari 7.000 PSK di Sonagachhi. Suatu lokasi prostitusi terbesar di Asia. Ketika lockdown India diumumkan pada Maret lalu, Laila tidak punya klien sama sekali.

Namun, beberapa hal menjadi lebih membaik saat ini. Dalam kehidupan 'New Normal' atau tatanan baru pasca lockdown akibat wabah virus corona, Laila bisa 'menjajakan' diri melalui teknologi tinggi, yakni melalui telepon pintar.

Pendiri Durbar Mahila Samanwaya Committee (DMSC) Smarajit Jana menyatakan lockdown di Sonagachhi telah menghasilkan peningkatan aktivitas virtual seks.

"Tadinya, yang ikut virtual seks hanya sedikit, sekarang sudah banyak yang gabung di telepon dan video. Beberapa bahkan minta ada sesi tanya-jawab, beberapa orang lainnya meminta video," ujar Jana.

Berdasarkan keterangan Bishakha Laskar, Presiden DMSC, "Setiap orang takut dengan jarak dekat fisik. Di gang di mana saya tinggal, terdapat 130 gadis aneh yang 95 persen dari mereka melakukan seks melalui telepon."

Sementara berdasarkan keterangan Laila, uang yang dia terima akan ditransfer kliennya. Tarif Laila sebesar 500 Rupee India (sekitar Rp 94.000) untuk sekali video call selama 30 menit. "Saat ini memang banyak terjadi resesi ekonomi, tapi para klien itu kebanyakan sangat dermawan," ungkap Laila.

Namun, tidak semua klien sepakat untuk transfer. "Beberapa yang dekat akan keluar rumah dengan alasan membeli susu atau keperluan rumah tangga padahal mereka hendak membayar tarif. Namun, beberapa dari mereka juga ada yang tukang tipu," ujar Bishakha.

Menurut Mahasweta Mukherjee, petugas advokasi DMSC mengatakan para pekerja seks komersial sebelumnya mengalami krisis selama demonetisasi. "Kami punya 7.000 wanita yang tinggal di Sonagachhi bersama 3.000 lainnya yang ikut menumpang (berpindah-pindah). Selama lockdown, 3.000 wanita itu tidak ada di sana (Sonagachhi)," ujar Mukherjee.

Sisanya, biasanya mendapat tarif 25.000 sampai 30.000 Rupee India (Rp 4,7 - 5,6 juta) sebulan. Menyediakan makanan untuk mereka tidaklah cukup. Mereka butuh keperluan lain. "Mereka biasanya butuh keperluan lain. Banyak dari mereka mengirim uang ke rumah mereka (keluarga). Beberapa dari uang itu dibelanjakan untuk menjual sayur dan buah tapi itu tidak cukup," imbuh Mukherjee.

Jam kerja para PSK itu kini juga sudah berubah, "Panggilan via telepon bisa terjadi kapan saja. Jadi mereka harus siaga setiap jamnya," tandas Bishakha.






Sumber : kontan

No comments

Powered by Blogger.