Menertawakan Kesucian



Seperti hari-hari sebelumnya, Anisa duduk termangu di pojok kamarnya. Ia hanya keluar ketika perlu ke kamar mandi dan mengambil makan di dapur. Selebihnya, ia kembali duduk dan memeluk bantal. Setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia pasti menangis dan marah.

Hari ini dia tidak menangis sama sekali. Barangkali air matanya telah habis sejak kemarin.

Tak ada yang menyangka putri ketiga Bapak Santoso yang dahulu merupakan orang yang periang, sekarang menjadi pendiam. Ia tidak lagi mau bergaul dengan orang lain semenjak ia mengalami peristiwa itu.

Sebelum dipulangkan satu bulan yang lalu, Anisa merupakan salah satu santriwati di sebuah Pondok Pesantren di pinggiran Kota J, kota tempat tinggalnya. Pondok pesantren itu cukup terkenal dan memiliki ribuan santri.


Ketika pertama kali masuk pesantren, Anisa bertekad untuk menjadi santri yang baik dan cerdas. Aktivitasnya di pondok pesantren itu cukup padat. Mulai dari jamaah salat Tahajud, mengaji setiap habis subuh, lalu bersekolah Madrasah Aliyah sampai pukul dua siang, dilanjutkan jamaah asar dan mengaji kitab kuning, dan seterusnya. Aktivitas di pondoknya baru selesai pukul sepuluh malam. Selepas itu, ia akan belajar untuk pelajaran di sekolahnya. Aktivitas itu ia jalani sampai tahun kedua dengan penuh semangat.

Menginjak tahun ketiga, ketika liburan sekolah hampir usai, ia dipanggil oleh Gus Romli ke kediamannya. Gus Romli ialah ustaz mengaji kitab kuning setiap habis salat asar dan merupakan anak Pak Kiai pengasuh pondok pesantren tersebut. Anisa sedang membaca buku ketika seorang temannya meminta ia bertemu dengan Gus Romli.

“Aku saja?” tanyanya.

“Iya, cuma kamu. Udah sana buruan,” jawab temannya itu.

Dengan bertanya-tanya dalam batin, ia pun mengikuti perintah tersebut. Anisa meletakkan buku yang sedang dibacanya, lantas menuju kediaman Gus Romli.

Sesampainya di kediaman Gus Romli, Anisa mengucap salam. Salah seorang abdi dalem membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Ruang tamu itu cukup luas. Tampak Gus Romli tengah duduk membaca koran di tempat itu.

Layaknya menghadap seorang kiai, Anisa berjalan menggunakan lututnya sambil menundukkan kepala. Tepat berjarak tiga meter dari Gus Romli, ia berhenti dan duduk. Laki-laki tersebut lantas melipat korannya dan memulai pembicaraan.

“Anisa, ya?”

“Nggih, Gus,” jawab Anisa dengan Bahasa Jawa halus.

“Begini, Nduk. Kamu kan sudah mau kelas tiga Aliyah. Biasanya, di tahun itu para santri akan menghadapi banyak tes ujian, baik di pondok maupun di sekolah. Karena saya melihat kamu adalah santri yang pintar, saya mau memberikan ilmu saya ke kamu. Nantinya dengan ilmu ini, kamu juga akan dapat dengan mudah melewati masa-masa ujian. Gimana? Gelem, yo?” kata Gus Romli.

“Nggih, Gus, purun (Ya, Gus, mau),” jawab Anisa masih dengan menunduk.

“Nah, besok malam sesudah mengaji kitab sama Abah, kamu datang ke sini. Tapi, jangan bilang siapa-siapa. Tidak boleh ada yang tahu tentang tadi ya, cuma kamu yang dapat kesempatan itu.”

“Nggih, Gus.”

“Sekarang kamu boleh kembali.”

“Nggih, Gus. Wassalamualaikum.”

“Waalaikumusalam.”

Dengan perasaan heran, Anisa berjalan menuju kamarnya. Sempat tersemat perasaan gembira di hatinya karena ia diistimewakan oleh gurunya. Namun, ia tetap bertanya-tanya, kenapa dia sendiri saja yang diminta datang besok? Dan kenapa pada waktu malam belajar ilmunya? Pertanyaan itu ia simpan sendiri karena mengingat pesan Gus Romli untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.

Malam keesokan harinya, Anisa kembali menemui Gus Romli.

“Sudah siap?” tanya Gus Romli.

“Nggih, Gus,” jawab Anisa yang sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang harus dipersiapkan. Namun, ia tetap membawa buku dan bolpoin kalau-kalau nanti diperlukan.

“Ikut saya,” ajak Gus Romli. Anisa mengikuti Gus Romli ke sebuah ruang kamar, lalu Gus Romli mengajak Anisa duduk di kasur. Dengan malu-malu, Anisa berjalan menuju kasur tersebut.

“Malam ini akan kutransfer ilmuku padamu dan kamu harus menurut apa pun perintahku. Mengerti?” kata Gus Romli yang direspons Anisa dengan anggukan ragu.

“Bagus. Sekarang buka kerudungmu.”

“Tapi, Gus…” Anisa hendak menyanggah, tetapi Gus Romli memotong, “Sudah, menurut saja. Ini perintah Gus-mu.”

Setelah itu, terjadilah hal yang tidak pernah Anisa harapkan: Persetubuhan dengan laki-laki yang diseganinya.

Sebelum pergi, Gus Romli berkata kepada Anisa, “Sebulan sekali sampai tahun ketigamu selesai, kamu ke sini. Supaya ilmu yang kamu dapat sempurna. Jangan lupa, datangnya di tanggal yang sama.”

Dalam perjalanan menuju kamar pondoknya, Anisa berpikir berulang kali. Ia merasa ini tidak benar. Baik di pengajian maupun di sekolah, ia selalu diajarkan bahwa hubungan intim di luar pernikahan adalah haram. Lalu, ilmu apa yang baru diperolehnya? Apakah ada ilmu yang harus disampaikan dengan cara seperti itu?

Ia pun kembali ke kamar pondoknya. Ia tidak melihat jam berapa saat itu. Yang ia tahu, semua temannya telah tidur saat ia memasuki ruang kamar.

Setelah kejadian itu, Anisa tidak bisa fokus dalam hal apa saja. Dia lebih sering melamun. Ia merasa dirinya telah menjadi korban perkosaan.

Tidak tahu hendak bercerita kepada siapa, Anisa pun akhirnya memberanikan diri minta izin pulang dengan alasan sakit. Ia kemudian mengadukan masalah ini kepada orangtuanya. Bapaknya marah dan akan melaporkan kasus ini ke polisi.

Esoknya, laporan yang dibuat bapaknya ditolak oleh pihak kepolisian dengan alasan tidak ada saksinya. Akhirnya bapak Anisa pulang dan meminta Anisa boyong saja dari pondok itu.

Ketika Anisa kembali ke pondok dan mengemasi semua barangnya, teman-teman Anisa heran. Mereka bertanya, tetapi Anisa bungkam. Ia pamit dan memeluk teman-temannya sambil menangis.

Sebelum pamit dengan pengasuh pondok, bapak Anisa mencoba bertemu dengan Gus Romli. Tetapi, yang dicarinya tidak ada di kediamannya. Ketika bertemu pengasuh pondok, bapak Anisa ditanyai soal alasan Anisa boyong. Ia pun menceritakan peristiwa kelam yang dialami putrinya.

Sang Kiai mendengarkan baik-baik. Setelah bapak Anisa selesai berbicara, kiai itu pun berkata, “Baiklah kalau begitu kejadiannya. Saya akan bicara dengan anak saya. Kalau nanti ada tindak lanjut, Anda akan kami panggil.”

Sejak keluar dari pondok, Anisa menjadi seperti sekarang. Pendiam dan sering melamun.

Suatu hari, Anisa hendak menulis curahan hatinya di buku itu. Diberinya judul tulisan itu, “Kesucianku Direnggut di Tempat Suci”. Ketika menulis kalimat tersebut, ia tertawa sinis.

Waktu berlalu dan Anisa hampir saja menjadi gila kalau tidak bertemu dengan Nur, santri seniornya yang juga menjadi korban Gus Romli. Dari Nur kemudian ia mengetahui, telah banyak korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh Gus Romli. Menyikapi hal itu, pihak pondok selalu bungkam.

Tentu saja, demi menjaga nama baik pesantren yang senantiasa digadang-gadang suci.


Sumber : magdalene.co

No comments

Powered by Blogger.