Sang Tamu Allah




ADA orang menyatakan bahwa penyakit yang menyerang tubuh kita tergantung pada imunitas atau kekebalan tubuh kita masing-masing. Ibarat suatu kerajaan yang kebal menghadapi serangan musuh jika diamankan oleh kekuatan benteng yang tinggi dan kokoh. Tetapi, jika benteng kerajaan itu rapuh dan keropos, serangan anak panah sekecil lidi sekalipun akan sanggup menembusnya.

Benteng yang kokoh itu harus diciptakan oleh ikhtiar manusia, termasuk membangun sistem kekebalan tubuh kita. Tetapi, nasib hidup manusia memang berbeda-beda. Ketika yang satu mengalami kelemahan pada organ tubuh tertentu, yang lain bisa jadi memiliki kelemahan pada area organ lainnya. Singkatnya, ada di antara kita yang suka mengeluh sesak nafas, sakit perut, sakit kepala, bahkan ada juga yang mengeluh soal pencernaan maupun THT (telinga-hidung-tenggorokan) dan lain-lain.

Sedangkan saya sendiri, problem utamanya ada di salah satu panca indera, yakni mata. Sejak kelas satu SMP saya bicarakan sama Ibu perihal mata yang kurang jelas melihat tulisan Guru di papan tulis whiteboard. Ibu memeriksakan mata saya ke dokter, hingga akhirnya dokter mata memutuskan bahwa mata saya mengalami kelemahan pada sarafnya, dan memerlukan kacamata dengan ukuran minus 1,5 (kiri dan kanan).


Pertama kali memakai kacamata di ruang kelas membuat saya minder dan malu setengah mati. Ditambah dengan repotnya kuping dan hidung menyangga beratnya beban kacamata yang menggelayut di pipi. Tetapi, lama kelamaan hal itu menjadi terbiasa. Bahkan, ledekan beberapa teman yang agak peduli dengan penampilan saya berkacamata, menjadi terbiasa juga pada akhirnya.

Hari demi hari, tahun demi tahun, kelemahan pada saraf tak kunjung reda. Sehingga, ketika saya menginjak kelas tiga SMU, mata saya sudah meningkat status minusnya menjadi 4,5. Mau tidak mau kacamata yang semakin tebal saya biarkan menggelayut di pipi kiri dan kanan, ditambah cibiran beberapa teman sekelas yang memanggil saya dengan sebutan “kutu buku”. Karena memang, saya tidak bisa membaca buku dalam jarak 20-30 cm, tanpa disertai dengan kacamata yang membantunya. Belum lagi membaca tulisan-tulisan penting di internet melalui layar komputer.

Waktu demi waktu berlalu, dan ketika orang tua saya mengajak menunaikan ibadah umrah pada semester akhir kelas tiga SMU, minus pada mata saya sudah menginjak 5 pas.

Persediaan kacamata harus dipersiapkan agar saya bisa menjalani ibadah umrah dengan khusuk, bersama Ibu dan Ayah. Sekelabat dalam bayangan saya, wajah Ka’bah yang mempesona, masjid Nabawi yang anggun menawan, ditambah niat baik untuk berdoa dengan khusuk di depan Multazam, Hijr Ismail, Raudlah dan seterusnya. Meskpiun dalam praktiknya, niat baik itu tidaklah semudah membalikkan telapan tangan.

***

Sebagai tamu Allah saya pantang untuk mengeluh. Tapi siapa yang dapat menyangkal adanya suara hati yang kadang naik dan turun dalam fluktuasi iman kita kepada Sang Khalik. Kepercayaan itu seakan limbung ketika saya periksa kacamata cadangan di dalam koper yang saya buka di dalam hotel di Kota Madinah. Ternyata, tindihan beban berat dari ratusan koper-koper besar membuat koper yang saya miliki semakin terhimpit, dan setelah melihat kacamata saya, wah, ternyata hancur dan kedua lensanya remuk-remuk.

Sekarang tinggal kacamata satu-satunya yang menggelayut di pipi, dan saya bertekad untuk menjaganya dengan baik. Tetapi, penjagaan seketat apapun tidak bisa melawan takdir Tuhan jika Ia berkehendak. Pada hari kedua saya melaksanakan salat di masjid Nabawi, suatu senja selepas Magrib saya menuju makam Rasulullah bersama ribuan jamaah umrah yang semakin padat dari tahun ke tahun.

Ketika saya hendak menyentuh dinding di seputar makam Rasul, tiba-tiba serombongan jamaah Turki yang berbadan tinggi dan besar tiba-tiba merangsek dan menghimpit tubuh saya di sekitar itu. Kacamata satu-satunya terpental jatuh, dan ketika saya memungutnya, tangan saya terinjak sebuah telapak kaki besar. Saya meronta-ronta sekuat tenaga, dengan pikiran hanya berpusat untuk menyelamatkan kacamata itu. Sesampainya kacamata di tangan saya, lensa kanannya hilang entah di mana, sementara lensa kirinya sudah pecah dan retak-retak.

Di kamar hotel saya duduk termangu. Ibu membaca adanya reaksi yang kurang menggembirakan para raut wajah saya. Tetapi ketika ia bertanya “ada apa”, maka saya pun menjawabnya, “tidak ada apa-apa”. Saya berpantang untuk mengeluh, bahkan untuk problem yang sangat krusial sekalipun. Saya tidak mau merepotkan atau mengganggu kekhusukan ibadah kedua orang tua saya. Mereka pun paham, anak seusia saya sudah selayaknya mandiri, dan selama aku hafal jarak antara kamar hotel dan masjid Nabawi, saya dibiarkan menjalani aktifitas ibadah semamapu saya.

Ketika suatu kali Ayah menegur kenapa saya tidak mengenakan kacamata. Saya jawab, kacamata ada di dalam tas. Di sisi lain, saya pun tidak mau adanya kata-kata emosional yang terlontar saat orang tua saya menunaikan ibadah umrah yang sudah direncanakan bertahun-tahun. Saya dapat membayangkan kalimat-kalimat ini akan muncul dari mulut mereka: “Mestinya kamu jaga baik-baik! Segala sesuatu yang penting harus diutamakan! Jangan sembrono! Kenapa kamu teledor?!”

Saya menjaga agar kata-kata itu tidak keluar dari mulut mereka, ditambah pikiran macam-macam soal uang dan harga kacamata minus dan seterusnya. Maka saya nyatakan saja bahwa saya segan memakainya. Kacamata ada di dalam tas. Beres.


Sumber : islampos.com

No comments

Powered by Blogger.