Tentara Korut ke Perbatasan, AS Kirim Pesawat Pengintai



Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan pesawat pengintainya yang terbang di atas Korea Selatan pada Kamis (18/6) di tengah merenggangnya relasi Seoul-Pyongyang dalam beberapa waktu terakhir.

Badan pelacak penerbangan Aircratft Spots melaporkan pesawat mata-mata itu berjenis RC-135W Rivet Joint milik Angkatan Udara AS.

Sumber militer Korsel juga menuturkan pasukan angkatan laut AS EP-3E dan pasukan AS di Korsel RC-12X juga baru-baru ini terlihat menerbangkan pesawatnya di wilayah Semenanjung Korea.


Pesawat-pesawat AS itu dikerahkan ke Semenanjung Korea beberapa hari setelah Korut dan Korsel kembali bersitegang. Ketegangan dipicu oleh tindakan Pyongyang yang meledakkan kantor penghubung inter-Korea di kota perbatasannya, Kaesong, pada Selasa pekan ini.

Korut bahkan mengancam akan mengerahkan pasukannya ke dua zona bisnis di kota perbatasan Kaesong dan Gunung Kumgang.

Pyongyang juga berencana mengoperasikan kembali seluruh pos penjagaan di zona demiliterisasi (DMZ) yang merupakan perbatasan Korut-Korsel.

Pemerintahan Kim Jong-un juga menegaskan akan "melanjutkan semua jenis latihan militer reguler" di dekat perbatasan.

Sumber keamanan Korsel menuturkan Korut tampaknya telah menempatkan tentaranya ke beberapa pos jaga kosong di area demiliterisasi (DMZ) per Kamis malam kemarin. DMZ merupakan garis yang membatasi wilayah Korut dan Korsel.

Dikutip kantor berita Yonhap, sejumlah sumber militer Korsel melihat beberapa tentara Korut telah ditempatkan di sejumlah pos penjagaan di area DMZ. Korut diperkirakan memiliki lebih dari 150 pos penjagaan di perbatasan.

Sebelum ketegangan memanas, pos-pos tersebut dikosongkan oleh Korut berdasarkan kesepakatannya dengan Korsel.

Beberapa media lokal Korsel juga melaporkan bahwa sekitar 100 tentara Korut terlihat berjaga di area kompleks industri Kaesong dan Gunung Kumgang tak lama setelah peledakan kantor penghubung inter-Korea terjadi.

Pengerahan tentara ini dilakukan sehari setelah Jenderal Staf Gabungan Tentara Rakyat Korea Utara menegaskan akan segera mendirikan "pos polisi sipil" sebagai langkah melawan Korsel.

Merespons pergerakan ini, Korsel menuturkan terus memantau dengan cermat pergerakan militer Korut.

"Kami terus memantau dengan cermat gerakan militer Korut menyusul ancaman dari mereka. Kami berada dalam posisi siaga penuh," kata seorang pejabat Kepala Staf Gabungan Militer Korsel (JCS).

Korsel mengancam Korut akan membayar konsekuensi dengan harga mahal jika Korut benar-benar melakukan langkah militer provokatif terhadap Negeri Ginseng.







Sumber : CNN

No comments

Powered by Blogger.