24 Perupa Aceh Gelar Pameran Virtual “Menunggu Normal” di Taman Budaya

24 Perupa Aceh Gelar Pameran Virtual “Menunggu Normal” di Taman Budaya




24 perupa Aceh menggelar karya  secara virtual. Para perupa terdiri dari 12 perupa senior dan 12 perupa muda. Pameran seni rupa virtual ini diselenggarakan oleh UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh. Kurator pameran Fadhlan SPd MSn dari KanaArt Institute.

Pameran bertajuk “NORMAL? Menunggu Normal” ini merupakan bentuk kreativitas seniman seni rupa dalam rangka mengisi Pandemi Covid-19. Pameran ini merupakan perhelatan yang dikemas dalam bentuk video dokumenter yang ditayangkan di YouTube Taman Budaya Banda Aceh.


Video berisi 12 Karya perupa muda dan 12 karya perupa  senior, yang dikemas dalam dua sesi, memuat tema-tema  adaptasi terhadap kebiasaan baru dimasa Pandemi Covid-19 berlangsung.

Para perupa yang ambil bagian dalam pameran vistual ini adalah Iswadi Basri, Salauddin, Yusrizal Ibrahim, Keumala, Tauris Mustafa, Restu Wardhana, Norman, T Kamal, dan Said Akram.

Berikutnya  Idrus Bin Harun, Zul MS, Mahatir Rafsanjani, Firmansyah (Olex), Faris, Fakhrurrazi, Sabaruddin, Fisal Benjamin, Hardiansyah, Indra Maulana, Sarah, Afifah, Syafriadi, Humairah, dan Munzir.




Dalam catatan kuratorialnya, Fadhlan, menyebutkan, normal adalah istilah yang dikenal untuk setiap makhluk hidup bahwa tidak ada perbedaan signifikan dengan kelompoknya, meskipun dalam derajat yang bervariasi.

Begitu banyak hal yang tak normal pada masa yang lalu, namun akan tampak normal saat ini dan sebaliknya. Pada kasus lain, dapat kita temukan juga bahwa normal bagi seseorang, belum tentu menjadi hal yang normal bagi lainnya.


“Melalui ruang pameran bertajuk “Normal?” tampak banyak hal yang akan diungkap oleh para perupa secara eksplisit. Munculnya kondisi yang tak menentu selama berkembangnya issue Covid-19 dalam lima bulan terakhir, membuat segala yang dilakukan seperti hari-hari biasa oleh masyarakat jadi serba-salah. Di sisi lain kondisi yang setiap saat dapat berubah secara tiba-tiba, mampu meningkatkan daya imajinasi serta kreativitas tersendiri bagi para perupa,” ujar Fadhlan.


Pada kondisi seperti ini, lanjut Fadhlan,  selayaknya para perupa Aceh dapat berbagi berbagai kritikan dan masukan melalui karya, sebagai penjelajahan bahasa visual secara lugas dan multitafsir

Ia mengatakan, keberadaannya seniman di tengah-tengah pandemi seperti ini dapat diposisikan menjadi agen dalam membangun kembali semangat mencipta, berkarya dalam masyarakat melalui karyanya yang dibangun dengan media-media alternatif.


“Pengembangan media secara kreatif dan pemanfaatan media-media sekitar serta memberi teraan objek-objek yang memuat kondisi-kondisi sekitar terkait bahayanya, peluang, kerugian, kehilangan dan suasana lainnya menjadikan beberapa karya yang dipamerkan nantinya semakin menarik untuk dinikmati dan memberi dampak,” ujar pendiri KanaArt Insitute ini







Sumber : tribun

No comments

Powered by Blogger.