7 Pola Budaya yang Bisa Ditemukan di Kehidupan Suku Baduy



Eksotisme suku Baduy sudah dikenal sejak bertahun-tahun lalu. Suku Baduy yang bermukim di Perbukitan Kendeng, Kecamatan Lebak, Provinsi Banten terdiri dari suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Orang-orang Baduy masih begitu kuat menggenggam tradisi turun-temurun dari leluhur mereka. Suku Baduy Dalam malah sama sekali tidak mengizinkan penggunaan benda-benda dari luar kampung mereka. Sementara itu, suku Baduy Luar cenderung lebih toleran terhadap pengaruh asing. Wisatawan diizinkan memakai benda-benda yang wisatawan bawa ketika bertandang ke perkampungan Baduy Luar. Baca juga: Sampah Plastik Masih Terlihat di Jalur Pendakian Menuju Baduy Dalam Meski begitu, tidak hanya suku Baduy Dalam, suku Baduy Luar juga memilih tetap menjaga hubungan serasi dengan alam yang telah menjadi warisan sejak zaman nenek moyang. Berikut KompasTravel merangkum ragam keragaman budaya yang bisa ditemukan di Baduy. 



1. MCK alami Suku Baduy Luar tidak mempunyai kakus di dalam rumahnya. Bilik untuk mandi yang terdapat di beberapa titik di tepi sungai pun tidak menyediakan lubang khusus buang air.  Akan tetapi, beberapa rumah yang khusus diperuntukkan bagi tamu atau wisatawan dari luar kampung terkadang dilengkapi fasilitas kakus, meskipun sekadarnya.  

2. Tak ada apotek? Bukan masalah berarti! Pegunungan Kendeng yang menjadi tempat bermukim suku Baduy Luar rupanya betul-betul sumber kehidupan. Selain menyediakan air berlimpah, tanaman obat yang tumbuh liar pun tak kalah banyak. Ada daun kaca piring buat meredakan demam, daun berenuk untuk sakit kepala, pangkal sirih sebagai obat mata, hingga pangkal tangkai daun salak yang mujarab menyumbat diare. "Semua jenis tanaman obat harus diminum dengan air mentah," terang Jakam, warga Baduy Luar yang menetap di Kampung Cicakal, kepada KompasTravel. 

3. Memasak dengan kayu bakar Kayu bakar menjadi salah satu bahan pokok yang mesti dipenuhi untuk kebutuhan sehari-hari suku Baduy Luar. Meski sudah mengenal praktik membeli makanan dari luar kampung, suku Baduy Luar masih memakai cara tradisional dalam mengolahnya, yakni menggunakan kayu bakar. Oleh sebab itu, stok kayu bakar harus selalu tersedia di dapur maupun bagian belakang rumah. 

4. Arsitektur kukuh tanpa semen Bahan-bahan konstruksi semacam batu bata atau semen yang lazim digunakan di kota tidak akan ditemui di perkampungan Baduy Luar. Fungsi semen dan batu bata digantikan oleh kayu, bambu, dan bahan-bahan alami lainnya. Potongan-potongan kayu dipakai untuk menopang rumah, anyaman bambu digunakan sebagai lantai dan dinding rumah, sementara bilah-bilah bambu bahkan sanggup dirangkai membentuk jembatan besar yang melintangi sungai. Untuk merekatkan bahan-bahan tadi, warga Baduy Luar menggunakan serat rotan atau serat kayu yang dapat dengan mudah diperoleh dari hutan. 

5. Mengebumikan jenazah tanpa kuburan Sama seperti penduduk di kota, suku Baduy Luar juga punya lahan untuk pemakaman jenazah. Namun, lahan itu berada di belantara hutan dan tidak diberi tanda seperti gundukan atau tancapan batu nisan sebagaimana lazimnya. Usai menggali liang kubur, warga Baduy Luar akan meratakan lahan kuburan ke bentuk semula. Selang tujuh hari, mereka akan membiarkan lahan tersebut ditumbuhi tumbuhan, bahkan memakai lagi lahan tersebut buat berladang. 

6. Belum pernah dilanda krisis pangan Suku Baduy Luar tidak menanam padi di sawah atau lahan basah, tetapi di ladang yang relatif kering. Akibatnya, jenis padi yang dihasilkan pun berbeda dengan padi-padi pada umumnya. Padi ini dikenal sebagai padi huma atau gogo. Selain ditanam di lahan kering, padi huma tidak diberi pupuk kimia sama sekali. Usai panen raya, padi-padi ini disimpan hanya untuk kebutuhan keluarga di sebuah lumbung yang dinamakan leuit. Konon, gabah yang disimpan di leuit mampu bertahan hingga satu abad karena tiadanya kandungan air sama sekali. Ini sebabnya, belum pernah ada catatan krisis pangan yang dialami suku Baduy Luar. 

7. Panen madu dan durian sesuka hati Bila buah durian diburu oleh begitu banyak orang di perkotaan, di kampung-kampung Baduy, sang raja dari segala buah ini dapat dengan gampang dijumpai pohonnya. Berdasarkan pantauan KompasTravel, buah-buah durian berserakan dan membusuk tanpa ada yang memungut di beberapa lokasi yang sulit dijamah, seperti di tepi hulu Sungai Ciujung. Selain durian, suku Baduy Luar juga menjajakan madu hutan. Terdapat dua jenis madu baduy yang dijajakan, yakni madu biasa dan madu hitam. Madu hitam terkenal akan khasiatnya, sedangkan madu biasa punya aroma bebungaan yang jarang didapatkan pada madu-madu lain.










Sumber : kompas

No comments

Powered by Blogger.