Cinta Sebatas Patok Tenda

Pagi yang cerah, waktu itu kami berangkat dari sekolah menuju tempat camping naik truk sampai pelabuhan punggur dan naik kapal sampai ke pelabuhan tanjung pinang. Aku senang sekali bisa ikut berkemah latihan antar penggalang se-kepri di dompak, tanjung pinang.

Oiya aku mau cerita sedikit nih tentangku, aku adalah perempuan yang sangat menyukai tantangan. Aku suka banget sama pramuka, aku adalah seorang perempuan yang sangat gila dengan pramuka. Sejak SD aku sudah aktif dalam pramuka. Aku menyukai pramuka karena di pramuka banyak sekali tantangan, selain itu aku juga menyukai PBB (peraturan baris-berbaris), aku juga menyukai solidaritas atau kekompakan yang tinggi seperti yang terdapat dalam pengalaman berkemah sebelumnya.

Oke kembali ke inti cerita ya guys.

Di saat perjalanan menuju pelabuhan aku dan temen-temen bernyanyi dalam truk begitu juga dengan pembina kami. hmm bisa dibilang mereka semua seperti orang gila.

Setiap orang melihat kami semua di jalan yang sedang bernyanyi heboh dan memukul-mukul galon di dalam truk, mereka hanya tertawa melihatnya.

Ya begitulah, temen-temenku dengan pembinaku sama-sama gilanya, agak gesrek. Tetapi mereka itu adalah penghibur bagiku, selalu membuatku tertawa lepas bahagia.

Beberapa jam kemudian sampai di punggur, kami semua turun dari truk, aku bingung cara turunya dari truk karena truknya tinggi banget. Aku turun pelan-pelan, kemudian begitu juga dengan semua temen-temenku, mereka juga turun.

Setelah mereka turun mereka menurunkan semua barang-barang yang ada di dalam truk. Dan mereka semua membawa barang-barang perlengkapan mereka dan sebagian membawa perlengkapan tenda begitu juga denganku.

Setelah itu kami semua memasuki kapal.

“hmm dingin banget, sejuk.” Ujarku sambil menarik nafas.

“Iya sejuk bangett, aku suka.” Wilna menjawabku.

“Kita duduk bagian belakang aja yuk wil, jangan terlalu masuk di dalam, biar kita bisa keluar lebih awal.” Ucapku.

“Atur aku ikut aja.” Wilna menjawab.

Sepanjang perjalanan di tengah-tengah laut kami semua tertidur sengan pulas.

Dan tiba-tiba…

“Bangun-bangun bentar lagi kita sampai ni.” Kata Pembina kami sambil membangunkan kami semua yang tertidur pulas.

Setelah beberapa jam kami sampai di pelabuhan tanjung pinang, dan untuk sampai ke bumi perkemahan, kami semua harus menaiki truk lagi. huuuffftt perjalan kami berjam-jam pegel banget nih badan.

Beberapa jam kemudian kurang lebih 1 jam kami semua sampai di bumi perkemahan. Kami duduk sebentar di lesehan gedung besar yang ada di pintu masuk bumi pekemahan itu untuk istirahat sejenak.

“Gak ada tanda-tanda kehidupan di sini.” Kata wilna.

Kami semua yang mendengarkan dia tertawa.

“Iya sepertinya emang gersang banget bumi perkemahan kita sekarang, tak ada satu pohon besar untuk berteduh.” Kata Pembinaku.

“Jangankan pohon besar kak, batang pohon aja gak ada kelihatan di sini, cuman ada runtuhan pohon, itu pun kayaknya Sudah mati, sepertinya pohon-pohon gak bisa hidup di daerah sinilah soalnya gersang banget tanahnya.” Kataku.

“Iya bener-bener gak ada tanda-tanda kehidupan di sini, ya udah kita langsung cari aja lokasi kita untuk bangun tenda biar kita bisa istirahat.” Kata Pembinaku.

Setelah itu Kami semua langsung bergegas untuk mencari lokasi untuk membangun tenda. kami ada 2 regu yaitu regu putra dan putri. Regu putra bernama puma dan regu putri bernama anggrek.

Eleven scout (eleven scout itu pramuka smpn 11 batam) sering menyebut dengan punggrek. hehe btw terkesannya didengar lucu ya. Tetapi sayangnya jika berkemah punggrek dipisahkan atau satuan terpisah. Karena regu putra dan putri tidak dibolehkan berdekatan, harus berjarak. hmm udah kayak cinta LDR-an aja hehe.


Dan akhirnya kami semua regu putra dan putri berpencar langsung mencari lokasi untuk membangun tenda, regu putra di sebelah kanan dan regu putri di sebelah kiri.

Disaat regu kami regu anggrek membangun tenda.

“Ini mana nih stock untuk penyangga bagian dalam tenda.” Kata kakak Pembinaku.

“Iya ya mana nih kurang satu stock kita.” Jawab wilna salah satu anggota regu anggrek.

“Kak saya ke tenda puma dulu ya, siapa tau stock kita kebawa sama mereka.” Ujarku.

Dan setelah aku datang ke tenda puma, salah satu pembina putra regu puma, kakak bembina puma bilang stock tenda puma pas, gak kurang dan gak lebih.

hmm dan ternyata kata salah satu anggota puma, dia terakhir melihat stocknya ada di lapanagan bola takraw sekolah. Dan kami semua anggota anggrek dimarahin oleh kakak pembina.

Kami semua dihukum oleh Pembina kami. Dan kami regu anggrek disuruh ngumpul depan tenda oleh Pembina kami.

“Ini hukuman untuk kalian regu anggrek, kalian telah cerobah dengan barang yang akan kalian perlukan di berkemah sekarang, jalan satu-satunya kalian harus mencari ranting pohon yang kuat dan sedang yang bisa untuk menyangga tenda kalian agar tidak tumbang, jangan ambil ranting yang begitu besar nanti ketika kalian sedang tidur kalian bisa ketimpah, regu puma kalian boleh membantu regu anggrek untuk mencari kayu, gerak sekaranggg!!” kata kakak Pembina kami dengan tegas.

Dan setelah beberapa kemudian ada seorang laki-laki datang kepadaku.

“Kalian kenapa ada di sini?” kata lelaki itu dengan heran.

“Kami sedang mencari kayu untuk menyangga tenda kami, soalnya tenda kami kekurangan stock untuk menyangga bagian dalam tenda.” Jawabku.

“Ohh gitu.” Jawab laki-laki itu.

Laki laki itu langsung pergi dan setelah beberapa menit dia datang lagi kepadaku membawa ranting pohon.

“Nih aku bawain ranting pohon yang cukup kuat untuk menyangga tenda kalian.” kata laki-laki itu sambil memberi kepadaku kayu yang ada di tangannya.

“Makasih ya.” Kataku.

“Iya sama-sama.” Jawab laki-laki itu.

“Anggrek, puma! Aku udah dapet nih rantingnya cepat bawa ke tenda.” Teriakku pada regu anggrek dan puma, Akupun memberi kayu itu kepada salah satu anggota anggrek.

Dan kemudian regu puma kembali ke tenda untuk membuat phionering. Dan setelah itu regu anggrek juga langsung bergegas untuk membenarkan tenda.

“Namamu siapa?” Sambil berjalan menuju tenda aku bertanya kepada lelaki itu.

”Yusrin, namamu?” jawab lelaki itu dan juga bertanya balik padaku.

“Ohh Yusrin, namaku Dara.” Aku menjawabnya.

Ya ampun aku baru sadar wajah Yusrin ganteng banget, kalau di pandang-pandang adem banget seperti ngelihat surga hehe. Ucapku dalam hati.

Dan setelah sampai ke tendaku.

“Yusrin aku duluan ya, aku mau bantu-bantu kawan-kawan aku yang lain buat phionering.” Kataku sambil berjalan berdua dengan Yusrin.

“Iya, aku juga mau bantu kawan-kawanku bangun tenda.” Jawab Yusrin.

Setelah beberapa langkah kaki dia berjalan kedepan, kemudian dia menolehkan wajahnya melihat ke belakang. Dan pas banget aku juga lagi liatin dia sepanjang dia berjalan.

“hmm Ya Allah dia senyum denganku.” Ucapkuku dalam hati.

Malampun tiba dan bintangpun bertebaran di langit acara api unggun dan pentas seni yang aku dan temen-temen semua tunggu telah mulai.

Saat upacara api unggun disaat para pertugas membawa obor api dan membaca dasadharma, aku melihat Yusrin menjadi petugas membawa obor api, tak sesekalipun mataku berkedip dalam memandanginya.

Setelah selesai itu, pentas seni dalam pertunjukan ini semua menyanyikan lagu seperti api kita sudah menyala, hymne pramuka dan selamat dating kakak. Kami semua bernyanyi sambil bertepuk-tepuk tangan. Dan begitu juga terdapat lilin yang mengelilingi kami semua. Malam itu adalah sebuah malam yang sangat indah

Malampun berlalu, pagi yang sangat cerah mataharipun menerangi tenda kami. Kami semua diperintah untuk berkemas-kemas membereskan barang bawaan karena kegiatan selanjutnya yaitu hiking. Dalam hiking itu setiap siswa disuruh jalan dengan jarak yang cukup jauh dan tidak dibolehkan menggunakan alas kaki.

Ternyata dalam perjalanan itu kami semua melewati banyak sekali rintangan, seperti berjalan dalam lumpur, menuruni tebing yang sangat tinggi, melewati jalan yang begitu banyaknya batu-batu kerikil, dan kami harus merayap melewati suatu lorong kawat yang kecil dan panjang. Setelah itu Akupun duduk dan istirahat dibawah pohon.

Dan terlihat olehku Yusrin.

“Yusrin!” Aku menyapanya.

“ehh Dara, gimana sama tenda kalian? Aman-aman aja kan?” Tanya Yusrin.

“hmm iya aman kok.” Jawabku.

“Baguslah kalau gitu, nih minum untukmu, aku pergi dulu ya kawan-kawanku udah pada nunggu di sana bye!” kata Yusrin dan dia berlari nenghampiri kawan-kawannya.

“Iya makasih ya minumnya!” jawabku berterimakasih kepada Yusrin.

“Iya sama-sama.” Jawab Yusrin sambil berlari menghampiri kawannya.

Setelah semua kami jalani dan akhirnyapun kami semua berjalan mencari jalan pulang ke tenda. Setelah kami semua sampai di tenda, kami semua mandi walaupun tidak bersih, karena terbatasnya air yang ada di sana bisa dibilang kami hanya mandi bebek haha.

Seiring berjalannya waktu, semakin membuat aku tak sadar akan lelahnya aktivitas yang aku jalani dalam keseharianku di bumi perkemahan ini. Aku tidak menyadari bahwa aku semakin bersemangat dalam menjalani rutinitasku.

Teman-teman menyadarkan aku bahwa aku terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Aku tidak percaya dengan semua omong kosong itu, tapi ternyata mereka sangat melihat perubahanku, mungkin mereka benar, aku juga tidak tau dengan perasaan yang aku rasa, aku hanya merasa sangat bahagia saat melihat botol air minum yang diberikan Yusrin kepadaku. Dan sampai sekarang botol yang diberi oleh Yusrin masih di tanganku, aku tidak ingin membuang botol itu, aku berfikiran botol itu akan aku letakan di kamarku tepatnya di meja belajarku

Aku merasa jika aku ada perasaan dengan Yusrin, apakah cinta ini hanya sebatas patok tenda saja? Apakah aku tidak bisa bertemu dengan dia lagi? aku berharap bisa bertemu dengan dia, ya aku sangat berharap.

Tidak terasa perkempingan ini selesai. Terdengar olehku lagu sayonara. Aku merasa sangat berat untuk meninggalkan bumi perkemahan ini, banyak banget cerita-cerita yang sangat indah dan waktu yang aku habiskan bersama teman-temanku dan juga Yusrin.

Banyak sekali pelajaran-pelajaran yang begitu banyaknya hal-hal positif aku dapat. Perkemahan ini memberi arti sebuah kehidupan bagiku, di bumi perkemahan ini aku belajar arti sebuah kerja keras, bertanggung jawab, dan kekompakan.

Satu hal yang masih terbesit di pikiranku yaitu seorang pemuda yang baik hati, penolong, dan ramah. Apakah kedekatanku dengannya hanya sampai disini saja? Aku terdiam dan merenung sejenak.

Jangan sampai ini semua hanya cinta sebatas patok tenda. Walaupun perkemahan akan berakhir, saya ingin perasaan ini tidak berakhir. Begitu juga ikatan persaudaraan dengan peserta-peserta lainnya tidak boleh terlepas begitu saja. Selama perkemahan ini berlangsung ikatan persaudaraan kalian sudah melebihi kuatnya sebuah patok tenda.

Tapi setelah perkemahan ini berakhir dan patok tenda itu tercabut kalian bukanlah apa-apa sama halnya seperti sebuah patok tenda.

Patok tenda memang kuat, tetapi itu hanya sementara. Hubungan apapun tidak boleh sampai sebatas patok tenda, tetaplah menjadi teman yang memiliki ikatan kuat melebihi sebuah patok tenda yang sedang tertancap di tanah. Seperti halnya dalam sebuah lagu sebatas patok tenda.


Sumber : cerpenmu.com

No comments

Powered by Blogger.