Geluti Usaha Pembibitan Sayur, Warga Muning Bangkitkan Ekonomi Keluarga



Hidup di tengah perairan rawa, membuat warga di Kecamatan Daha Selatan,Kabupaten Hulu Sungai Selatan harus kreatif.

Terutama mencari peluang usaha, di daerah  yang didominasi rawa-rawa itu hanya bisa memanfaatkan lahannya pada musim kering atau musim kemarau.

Pada musim hujan, lahan senantiasa tergenang air dan hanya bisa digunakan untuk menangkap  ikan.

Kreatifitas mencari peluang usaha itu telah dilakukan warga Desa Banjarbaru, Muning Tengah dan Muning Baru, Kecamatan Daha Selatan.

Selain menangkap ikan dan menjual ikan asin, hampir seluruh warga setempat memnggeluti usaha pembibitan sayur dan tanaman hias di kotak papan khusus menyemai .

Seperti cabai, cabe rawit, tomat, terung serta bibit buah-buahan. Warga Muning Baru, Ratna dan Saunah, misalnya, mengaku sudah hampir 10 tahun menggeluti usaha tersebut.

 Menurut ibu dan anak itu, tiap hari ada saja pembeli bibit sayuran. Mereka adalah petani yang ingin berkebun. Pembeli datang dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Tapin, HSS sendiri  hingga kabupaten lainnya di Banua Anam.

“Harga bibit tergantung pertumbuhannya. Kalau sudah besar lebih mahal,”ungkap Saunah. Namun, untuk bibit baru disemai dan telah dipisahkan satu persatu, dijual dengan harga Rp 400 ribu per 1.500 bibit.

Meski keuntungan yang diraih cukup tipis, menurut Saunah usaha tersebut cukup membangkitkan ekonomi keluarga. Apalagi di tengah pandemic covid-19, yang memukul sektor usaha keciil dan menengah, hingga  membuat daya beli masyarakat berkurang.

“Alhamdulillah satu hari  ada 200 sampai 1500 bibit sayuran terjual,”katanya.

 Untuk usaha itu, warga menggunakan modal sendiri. Selain membeli bibit Rp 150 ribu per bungkus di toko khusus menjual biji kering siap disemai, juga harus membeli tanah setengah basah  warna hitam yang berasal dari limbah pabrik karet di HST.

Sedangkan untuk penyemaian menggunakan tanah dengan tekstur seperi pasir. Harga per karung tanah hitam itu Rp 35 ribu. Usaha pembibitan tanaman sayur dan tanaman hias kebanyakan dikerjakan para perempuan.

Mariati, warga Muning lainnya, mengatakan, tiap hari dia memisahkan 2.000-an bibit cabai dan terung dari persemaian, dengan cara mengepalkan tanah satu persatu, lalu dimasukkan dalam kotak mirip nampan.

“Usaha ini sudah kami jalankan 10 tahun lebih. Untuk pemasaran cukup di rumah. Selanjutnya, pembeli datang sendiri ke pembibitan di pinggir jalan samping rumah. Kalau tidak ada usaha ini, sulit bagi kami mencari penghasilan tambahan, selain mencari ikan,”tuturnya.

Selain menjual bibir sayuran, warga setempat ada yang berkebun sendiri . Namun, mereka harus menunggu musim kemarau, ketika lahan bisa digarap.

Terutama berkebun semangka, jagung, labu serta tomat dan cabai. Saat ini, kondisi air di desa-desa di Daha tersebut mulai menyurut. Itu artinya, warga mulai meyiapkan lahan untuk menyemai semangka. Tiap tahun, panen buah semangka yang berlimpah di Desa Muning Tengah dan MUning Baru diperkirakan Agustus sampai September.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.