Kabarkan Cuma Gusi Bengkak, TKI Asal Pangandaran Pulang Tinggal Nama


Isak tangis menyelimuti kedatangan kendaraan ambulans yang membawa peti jenazah berisikan jasad Dede Wahyu Saputra (24) yang meninggal dunia di Serawak Malaysia.

Sebelum meninggal, pahlawan devisa asal warga Desa Cibuluh RT 05 RW 01, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran ini sempat sakit dan dirawat di rumah sakit di Serawak, Malaysia.

Tampak hadir dalam proses penerimaan jenazah, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Industri Dan Transmigrasi Kab. Pangandaran Drs. Sobar Sugema dan Kasi Ketenagakerjaan Suparman.

Kehadiran mereka sekaligus menyampaikan bantuan dari Bupati Pangandaran (H. Jeje Wiradinata) kepada pihak keluarga almarhum.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Industri dan Transmigrasi Kab Pangandaran Drs. Sobar Sugema mengatakan, sebelumnya dia telah menerima surat dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia atas meninggalnya seorang TKI asal Desa Cibuluh, Kecamatan Kalipucang.

Menurut Sobar, almarhum berangkat menjadi TKI secara resmi atau legal, sehingga pengurusannya sangat lancar.

"Kami telah menerima kabar meninggalnya satu orang TKI asal Kab. Pangandaran dari pihak KBRI dan PJTKI," ungkap Sobar, Minggu, 22 Juli 2020.

Menurut Sobar, proses pemulangan jenazah mulai dari hospital sampai ke kampung halamannya dibantu oleh pihak KBRI dan PJTKI.

"Sedangkan dari pemerintah daerah membantu untuk proses pemakaman jenazahnya," ujar Sobar.

Ida Nurjanah (29) kakak kandung dari Dede Wahyu Saputra (almarhum) menceritakan, adiknya itu berangkat dan bekerja di sebuah pabrik triplek di Malaysia sejak 1,2 tahun yang lalu.

"Saat berangkat jadi TKI adik saya sehat-sehat aja," ujar Ida.

Namun dirinya sempat mendapat kabar melalui telefon pada tanggal 28 Juni 2020 dari adiknya bahwa mengalami keluhan pada bagian gusi dan kaki.

"Kata adik saya, dia mengeluh karena ada pembengkakan pada bagian gusi dan kakinya lemas dan berobat ke klinik di Serawak," kata Ida.

Namun setelah sekian lama, dirinya mengaku tidak pernah lagi menerima kabar kondisi kesehatan dari adiknya tersebut.

Tiba-tiba dirinya kembali mendapat telefon dari adiknya (Dede) pada Selasa, 21 Juli 2020 dini hari, menyampaikan dengan keluhan yang sama yaitu mengalami pembengkakan pada gusi dan bagian kakinya.

Dia dibawa oleh majikannya ke hospital (rumah sakit) dan meninggal pada tanggal 22 Juli 2020 atau sehari setelah dirawat.

"Setelah satu hatri dirawat di rumah sakit adik saya mengalami koma dan dikabarkan meninggal dunia," ujar Ida, seraya dirinya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pemulangan.

"Mewakili keluarga, kami juga berterima kasih kepada pak Bupati (Jeje) dan Pak Kadis Nakertrans yang sudah memberikan perhatian kepada kami," ucap Ida.

Proses pemakaman jenazah tanpa menggunakan APD dan berjalan dengan hikmat dan lancar. Hanya saja orangtua almarhum masih terlihat shock.

Berdasarkan isi surat yang dikeluarkan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kuching Malaysia, atas nama Dede Wahyu Saputra meninggal dunia pada hari Rabu, 22 Juli 2020 dikarenakan sakit (multiorgan failure deu to saptic shock and hemorrhagic shock of hematological malignancy).

Almarhum sebelumnya bekerja di perusahaan Magna-Foremost Sdn.Bhd beralamat di Jepak Industrial Estate 90713 Bintulu Sarawak, Malaysia.

Kemudian jenazah dibawa pulang ke Indonesia 24 Juli 2020 menggunaan jalur darat dari Bintulu ke perbatasan Tebedu-Entikong.

Lalu pada 25 Juli 2020 jenazah dibawa ke Pontianak pakai ambulans, kemudian jenazah diterbangkan dari Pontianak tujuan Jakarta menggunakan pesawat Nam Airline pukul 17.00 waktu setempat dan tiba di Jakarta pukul 18.30 WIB.

Sumber : Zona Priangan

No comments

Powered by Blogger.