Mengenal Budaya Toraja dan Merauke: Tari Gatzi hingga Rumah Adat Tongkonan

Mengenal Budaya Toraja dan Merauke: Tari Gatzi hingga Rumah Adat Tongkonan

Toraja dan Merauke yang jadi materi Belajar dari Rumah TVRI, Sabtu 16 Mei 2020 

Tayangan Toraja dan Merauke dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 09.00 WIB.

Apa saja yang kamu ketahui tentang Toraja dan Merauke selama ini?

Berikut tambahan materi untuk mengenal Toraja dan Merauke:


Budaya Merauke


Budaya Merauke apa saja yang pernah teman-teman ketahui?

Apakah kamu pernah melihat tari gatzi yang diiringi alat musik tifa khas Papua?

Tari gatzi adalah salah satu budaya Merauke masyarakat Suku Marind.


Suku Marind menarikan tari gatzi sambil diiringi alat musik tifa khas Papua. Kita cari tahu budaya Merauke yang satu ini, yuk! Makna Tari Gatzi bagi Masyarakat Suku Marind Tari Gatzi adalah tarian yang dilakukan Suku Marind saat ada acara-acara khusus, misalnya seperti kelahiran anak, pesta adat, dan juga sebagai tarian penyambutan. Tari Gatzi ini bisa dilakukan oleh siapa saja, laki-laki dan perempuan, juga anak-anak dan orang dewasa. Saat menari tari gatzi, masyarakat Marind akan mengenakan pakaian yang dibuat dari serat daun sagu dan daun kelapa muda.




Wajah para penari juga dihiasi dengan motif khusus yang mencerminkan marganya. Salah satu tempat yang masih melestarikan budaya Merauke ini adalah Suku Marind di Desa Wendu, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Desa ini letaknya di tepi pantai. Tari gatzi ini ditarikan secara melingkar berkeliling bersama-sama. Kadang tarian ini dialkukan selama beberapa menit, atau bahkan berjam-jam. Bahkan, jika masyarakat menari sampai lama sekali, gerakan tariannya bisa membuat tanah menjadi cekung karena penari berputar-putar. Hihi… 


Alat Musik Tifa Khas Papua yang Beda dari Daerah Lainnya. Masyarakat menari tari gatzi dari budaya Merauke ini dengan diiringi tabuhan tifa. Tahukah kamu? Alat musik tifa harus dipanaskan sebelum dimainkan agar bunyinya lebih lantang, lo. Alat musik tifa di Desa Wendu dibuat dari kayu waru laut. Pohon waru memang banyak tumbuh di pesisir pantai desa itu. Tifa dibuat dari kayu waru bulat yang dilubangi bagian tengahnya dan bentuknya seperti tabung. Bagian atas tifa itu dibuat dari kulit binatang sejenis kanguru. Kulit itu direkatkan dengan menggunakan kapur dan telur. Pada bagian atas tifa, ada kerucut yang digunakan sebagai pengatur bunyi. Kerucut itu dibuat dari madu hutan. Rupanya, bagian inilah yang menjadi rahasia bunyi nyaring tifa.


O iya, tifa di Papua berbeda dengan tifa di Maluku atau daerah lainnya, lo. Tifa papua memiliki kekhasan berupa pegangan di bagian tengahnya. Pegangan itu terbuat dari kayu yang sama dengan tabung tifa. Tifa di Papua juga diwariskan turun-temurun, bahkan ada yang usianya sudah ratusan tahun. Pada tifa khas Papua, juga dihiasi motif yang menandakan marga tertentu.


Budaya Toraja


Siapa yang bisa menyebutkan apa saja budaya Toraja? Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan banyak budaya yang berbeda di setiap wilayah. Salah satu kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia berasal dari Toraja. Toraja merupakan sebuah kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, dengan nama wilayah yaitu Kabulaten Tana Toraja. Sesuai dengan namanya, wilayah Tana Toraja didiami oleh penduduk yang merupakan Suku Toraja. Ketahui berbagai budaya Toraja yang khas, yuk!


Sejarah Nama Toraja


Nama atau istilah Toraja diperkirakan berasal dari bahasa Bugis, yaitu 'to riaja', yang artinya 'orang yang berdiam di negeri atas'. Namun di tahun 1909, pemerintah kolonial Belanda mulai menyebut wilayah ini sebagai Toraja. Awalnya, suku Toraja masih merupakan suku yang belum tersentuh dunia luar. Nah, sekitar awal abad ke-20, penduduk di Tana Toraja mulai terbuka pada dunia luar sejak disebarkannya agama di wilayah itu. Bahkan karena kekayaan budaya dan alamnya, sekitar tahun 1970-an, kawasan Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia, lo.


Berbagai Budaya Toraja yang Khas


Kabupaten Tana Toraja yang sempat menjadi lambang pariwisata Indonesia disebabkan karena kekayaan budaya yang dimiliki oleh Toraja. Apa saja berbagai budaya Toraja yang khas, ya?


1. Rumah Adat Tongkonan


Budaya Toraja yang banyak dikenal ada pada rumah adatnya, yaitu Tongkonan.

Rumah adat Tongkonan banyak dikenal karena bentuk dan proses pembangunannya yang berbeda dengan rumah lainnya. Pada rumah adat Tongkonan, bagian atapnya menjulang ke depan dan belakang. Selain itu, rumah adat ini didirikan di atas tumpukan kayu dan proses pembangunannya bisa disebut sebagai hal yang melelahkan. Bahkan untuk membangun Tongkonan, biasanya akan melibatkan keluarga besar pemilik rumah. Selain itu, Tongkonan juga dikenal dengan ukiran yang menghiasi rumah adat ini. Ukiran yang menghiasi rumah adat Tongkonan biasanya berwarna hitam, kuning, dan merah.


O iya, rumah Tongkonan ini dibagi dalam tigajenis yang berbeda, yaitu Tongkonan layuk, Tongkonan pekamberan, dan Tongkonan batu. Tongkonan layuk adalah rumah yang digunakan sebagai tempat pusat pemerintahan. Lalu Tongkonan pekamberan adalah rumah adat yang hanya dimiliki oleh seseorang yang punya posisi tertentu di tradisi budaya Toraja. Terakhir, Tongkonan batu adalah rumah adat untuk masyarakat biasa.


2. Upacara Pemakaman Rambu Solo'


Upacara pemakaman seseorang di Toraja juga menjadi salah satu bagian dari tradisi di wilayah ini, teman-teman.

Pada upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo', dahulu hanya diadakan untuk para bangsawan saja.

Alasannya, karena upacara pemakaman ini menghabiskan banyak biaya dan bisa dibilang merupakan upacara yang mewah. Prosesi pemakaman akan dilangsungkan di area yang luas, seperti lapangan atau padang rumput, yang disebut rante. Salah satu hal yang menyebabkan prosesi ini menjadi mahal adalah karena dipercaya jika ada semakin banyak kerbau yang dipersembahkan dalam upacara, maka roh orang yang meninggal akan semakin cepat menuju alam roh. Kerbau menjadi hewan dan unsur penting dalam kehidupan masyarakat Toraja, teman-teman. Inilah sebabnya, kerbau menjadi salah satu persembahan atau unsur yang harus ada dalam upacara Rambu Solo' untuk mengantarkan arwah orang yang sudah meninggal. Hal yang menjadi khas dari prosesi ini adalah nantinya peti berisi jenazah, maupun jenazah tidak dimakamkan di dalam tanah. Peti berisi jenazah, maupun jenazah akan dimasukkan di dalam gua atau rumah kecil pada sebuah tebing yang cukup tinggi. Selama jenazah dibawa dari rante menuju tebing, akan ada nyanyian, puisi, iringan musik, hingga tangisan anggota keluarga yang merupakan bagian dari tradisi proses pemakaman.


3. Upacara Ma'Nene


Prosesi yang berkaitan dengan anggota keluarga yang sudah meninggal pada masyarakat Toraja tidak berhenti pada proses pemakaman saja, teman-teman. Beberapa tahun setelahnya, akan diadakan upacara yang bernama Ma'Nene. Upacara ini adalah prosesi penggantian baju pada jenazah yang ada di tebing pemakaman. Jenazah anggota keluarga akan digantikan dengan baju lainnya, seperti seseorang yang berganti baju. Namun sebelum digantikan bajunya, jenazah akan dibersihkan dan ketua adat akan membacakan doa dalam bahasa Toraja Kuno. Setelah baju jenazah diganti dengan yang baru, jenazah akan dimasukkan kembali ke dalam lubang gua seperti semula. Setelah itu, anggota keluarga akan kembali ke Tongkonan untuk berdoa bersama. Biasanya, upacara ini dilakukan serempak dengan warga desa yang lain, sehingga upacara bisa berlangsung cukup lama. Selain melaksanakan tradisi, upacara ini juga bisa mempererat tali silaturahmi para anggota keluarga yang datang dalam prosesi atau upacara Ma'nene. 







Sumber : tribum

No comments

Powered by Blogger.