Misteri (For) Us


Setujukah kamu, bahwa dunia (baca: bumi) yang kita tinggali Ini menyimpan banyak sekali misteri? Kalau setuju berarti kamu sependapat denganku. Maksudku, kita hanyalah lakon di dunia ini, dan yang mengatur semuanya adalah Allah Yang Maha Esa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari berikutnya, bahkan detik, menit, sampai jam sekalipun. Semua yang bisa dilakukan hanyalah berusaha menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya menurut agama.

Dalam sisi lain, kita bisa ambil contoh lautan. fakta bahwa 50% dari 80% bumi ini adalah lautan tidak bisa dipungkiri lagi. Memgingat es di kedua kutub terus mencair pun menambah kemungkinan bahwa lautan akan sesegera mungkin mengambil alih daratan. Lautan itu sangat luas, dalam, dan mengerikan. Manusia sampai saat ini pun hanya bisa mengeksplorasi lautan sekitar 5 % saja. Sisanya? Siapa yang tahu?

Dalam misteri bumi ini, aku sangat yakin tidak hanya lautan yang menyimpan misteri. Aku percaya bahwa bumi ini memiliki segudang—tidak. Bahkan menurutku misteri di bumi ini sama besarnya dengan ukuran bumi itu sendiri. Banyak hal yang bisa dipelajari dan diambil maknanya dari segala hal yang terjadi di dunia ini.

Aku sedang menyesap es kopi sambil menyalin catatan temanku di kantin, saat seorang perempuan menghampiriku. Dia menyapaku yang tengah duduk sendirian di dekat teras.


“Lan!”

Aku menghentikan kegiatanku lalu menoleh ke arahnya.

“Ngapain kamu sendirian di sini?” tambahnya.

Dia menghampiriku, lalu menarik kursi dengan tekstur bundar itu dan duduk di depanku.

“Aku lagi nyalin catetan. Tidak lihat?” jawabku singkat, malas berinteraksi.

“Iih cuek bener sihh!” Dia memajukan bibirnya kedepan, tanda tak suka dengan jawabanku.

Perempuan itu adalah Lina. Teman satu kelasku sejak SMA dan sekarang masuk di unversitas yang sama denganku. Dia selalu memakai kerudung panjang menutup dada, memakai baju terusan panjang, sampai sukses tak terlihat auratnya walaupun dilihat dari sudut manapun. Ya, dia sudah berubah (baca: hijrah) sejak semester ini dimulai. Aku bersyukur dan senang jika temanku telah mendapat hidayah. Terlebih lagi teman dekatku.

“Kamu sendiri ngapain ke sini? Kamu tahu kan berduaan begini bisa menimbulkan fitnah?” aku bertanya padanya tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.

Mendengar jawabanku, dia diam sejenak—tidak. Dia terdiam cukup lama. Sepertinya jawabanku tepat sasaran.

“Kamu benar juga Lan, habis ini aku pergi deh.” dia mengambil smartphone dari tas kecilnya. Beberapa detik kemudian dia sudah sibuk dengan benda kecil berbentuk persegi panjang itu.

Aku memandangi wajahnya yang hampir tertutup oleh kerudung panjangnya. Berpikir, bisa saja Allah memberikan hidayah kepada teman dekatku ini. Seperti yang kubilang, masa depan adalah misteri. 

Beberapa mengubah kita ke arah yang lebih baik dan beberapa mengubah kita ke arah yang buruk. Misteri tidak akan bisa terlepas dari dunia ini mau bagaimanapun itu.

Aku melanjutkan menyalin lagi, masuk ke halaman tiga sekarang.

“Lho, Lan? Ngapain kamu di sini?”

Benarkah? Benarkah aku mendengar seseorang memanggilku lagi? Apa ini? De Javu?

Aku berbalik ke belakang, melihat dua orang tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku berbalik melambai pada mereka, tanpa senyuman.

“Lan, gimana progressnya? Kapan selesai?” adalah Laras, salah seorang dari mereka yang mendekatiku lalu bertanya.

“Sebentar lagi selesai. Mungkin dua hari lagi.”

“Oh, baguslah. Semangat ya Lan!”

Kemudian dia beranjak pergi, namun segera kembali lagi mendekatiku dan menanyakan aku sedang menyalin apa. “De Javu kah ini?” jawabku. Dia mengeritkan dahinya, tak mengerti. Aku mengelengkan kepalaku, dan menjelaskan padanya apa yang sebenarnya kulakukan. Sedetik kemudian percakapan kami mengalir begitu saja.

“Eh, aku duluan ya Lan, takut ganggu kalian.” Lina yang dari tadi hanya diam, sibuk dengan smarphonenya beranjak dari kursi.

“Eh? Tu-tungg–”

“Aku juga ya Lan, mau ngerjakan tugas. Sudah ditungguin sama temenku.” Laras seketika memotong perkataanku dan juga beranjak dari kursinya.

“Eh? I-iya Ras, semoga cepat selesai tugasnya.”

Laras beranjak pergi dengan cepat, meninggalkanku dan Lina yang masih merapikan barang-barangnya.

“Lin, dia bukan siapa-siapa. Dia cuma teman melukisku.” seruku padanya.

“Oh.”


“Lin, ayola–”

“Lan, itu sekarang sudah tidak penting. Apa untungnya bagiku? Bukan urusanku Lan.” Kali ini Lina 
memotong perkataanku. “Aku duluan. Ada kelas.”

Lina kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan rasa kegelisahan di dada. Aku tahu dia hampir berbohong. Sebenarnya dia ada kelas sekitar tiga jam lagi. Jadi seharusnya tidak ada alasan baginya untuk buru-buru pergi. Ditambah lagi, aku melihat wajah gelisah dan kecewanya barusan. Meninggalkanku diam terpaku dengan mulut menganga.

Menurutku, wanita adalah salah satu misteri yang ada di dunia ini. Kalau mau jujur, aku hanya memahami wanita sekitar 40%. Tapi, belum tentu juga apa yang aku lihat dengan mata telanjang benar-benar dirinya bukan? Apakah dia benar-bebar jujur? Tidak kah dia memakai topeng? Siapa yang tahu, bung.

Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, setelah terdiam cukup lama mencoba untuk memahami situasi yang kualami. Tapi aku tidak mendapat kesimpulan, jadi aku lebih memilih untuk melupakannya sejenak dan pulang ke rumah. Sekedar info, aku selalu pulang menggunakan kereta. Bagiku, menggunakan kereta jauh lebih praktis. 

Lebih baik daripada harus menggunakan kendaraan pribadi dan menghabiskan waktu selama berjam-jam dii jalanan berpolusi itu. Sebenarnya ketertarikanku dengan kereta diawali sejak aku menonton salah satu film paling fenomenal yang mengisahkan tentang penyihir muda berkacamata. Sejak saat itu aku selalu melihat dan memerhatikan setiap sudut stasiun. Bung, siapa tahu aku bisa menembus tembok dan pergi ke dunia lain bukan?

Setelah membeli tiket lalu menunjukkannya pada petugas, aku masuk ke daerah peron stasiun. Banyak tang-tiang yang berdiri tegap dan orang-orang lain yang sedang menunggu kereta giliran mereka datang. Aku memilih untuk bersandar pada slaah aatu tiang, karena semua tempat duduk sudah penuh. Lalu aku memainkan smartphoneku yang kuambil dari saku, killing time. Masih beberapa menit lagi keretaku datang.

Siang itu, dalam perjalanan ke stasiun matahari bersinar terik. Seperti melampiaskan segala amarahnya pada kami, penduduk bumi. Awan-awan pun tak kuasa melawan sang surya. Membuat keringatku bercucuran dari tadi. Tapi setidaknya, di stasiun suasana perlahan-lahan berubah. Berganti dengan angin yang bermain ke sana ke mari, membiarkam dirinya bebas berkeliaran di setiap sudut stasiun. Bagaikan menciptakan dunia baru bagi diri mereka sendiri. Tak peduli apa kata orang menanggapi, mereka hanya ingin bebas.

“Yah, setidaknya angin ini lumayan membuat sejuk..”

Aku mencopot satu kancing bajuku, memberikan kesempatan udara untuk masuk.

Men, rasanya sangat menyegarkan. Aku merentangkan tanganku, kupikir udara akan masuk juga melalui celah-celah di lengan bajuku. Dan ternyata benar! Udara juga masuk melalui celah-celah itu. Aku menikmatinya selama beberapa menit. Mungkin kan terlihat aneh bagi orang-orang. Tali siapa peduli? Aku sedang kepanasan sekarang.

Sudah puas dan takut masuk angin, aku berhenti melakukannya. Angin-angin yang berhembus sepertinya juga sudah lelah bermain-main. Aku kemudian melihat jam tanganku. Seharusnya lima menit lagi keretaku sampai.

Tiba-tiba terdengar suara khas yang kukenali. Suara yang ditimbulkan dari perputaran roda dan gesekan dengan jalurnya, sesekali disertai dengan klakson bersuara berat. Ini pasti keretaku.

Aku menunggu dengan sabar keretanya untuk berhenti sambil bersiap-siap di pinggir jalan Bersama dengan orang-orang lain. Namun, ada yang aneh. Biasanya saat kereta akan mendekati stasiun, kecepatannya akan menurun. 

Tapi yang aku lihat sekarang, keretanya sama sekali tidak menunjukkan pengurangan kecepatan. Ditambah lagi, keretanya melintas begitu saja di hadapanku dengam kecepatan yang tidak berkurang, justru semakin cepat. Aku melihat ke sekeliling, dan betapa terkejutnya aku. Orang-orang tampak diam membatu, tidak bereaksi apapun pada kereta itu. Tatapan mereka kosong
Bagai di hipnotis!

Aku mencoba menggoyangkan tubuh orang di sebelahku, tapi itu tidak berguna. Digerakkan saja susah. Tubuh mereka kaku layaknya sudah dibekukan di lemari pendingin super besar. Aku mulai panik. Sebenarnya apa yang terjadi? Dari sekian banyak orang yang membatu di sini, hanya aku yang bisa bergerak dan sadar. Selain itu, kereta ini dari tadi terus bergerak! Tidak ada ujungnya! Aku melihat ke arah ujung tapi yang kulihat hanyalah gerbong-gerbong yang terus bermunculan.

Aku melihat ke sekeliling lagi kali ini. Lalu aku menyadari sesuatu. Suasana sekitar stasiun sekarang berubah. Dinding-dindingnya, tiangnya, bahkan orang-orang lain berubah menjadi warna kuning keemasan.

“Apa ini? Semacam kabut? Atau mataku yang salah?” aku mengusap-usap mataku berulang kali, tapi yang kulihat tetap saja berwarna kuning.

Aku mencoba untuk keluar dari stasiun tapi itu percuma. Kerumunan orang menghalangi jalanku. Aku tidak bisa leluasa bergerak, mereka menutup jalan keluarku. Aku mulai gelisah, Jantungku berdetak semakin cepat, keringatku mulai bercucuran. Aku panik. Apakah aku akan mati? Sebenarnya ada apa ini? Aku mencoba untuk tenang, tapi itu mustahil. Situasi dan kondisi yang sedang kualami ini membuatku tidak bisa berpikir jernih.

Dalam kegelisahanku, aku mendengar suara kereta perlahan-lahan mulai mengecil. Aku menoleh dan keretanya terlihat melambat. Aku akhirnya bisa melihat ujung gerbongnya dari kejauhan. Bersamaan dengan itu, situasi “kuning” yang kualami secara lerlahan mulai memudar. Aku kembali mendekat ke tempatku berdiri tadi, di ujung jalan dekat kereta. Kulihat, orang yang di sebelahku mulai bergerak. Dia menggerakkan tangannya, memasukkannya ke saku dan mengambil smartphonenya. 

Saat kulihat wajahnya, dia sudah kembali normal seperti biasa. begitu juga dengan orang-orang lain di sekitarku. Semuanya kembali normal seperti biasa. Lalu, tanpa kusadari sebuah kereta baru saja berhenti dan membuka pintunya di depanku. Orang-orang yang berada di kereta berebutan keluar, membuatku terdorong dan hampir terjatuh. Beruntung ada orang yang menahanku dari belakang.

Aku bingung, heran setengah mati. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi barusan? Semua membatu, kuning keemasan? Aku tidak percaya apa yang baru saja kualami. Keringat dinginku masih bercucuran, dan tanpa sadar aku didorong dari belakang sehingga membuatku masuk ke dalam gerbong kereta.

Aku mendapatkan tempat duduk di ujung gerbong. Aku menunduk dan memegangi kepalaku. Berpikir, mencoba untuk mencari alasan logis apa yang sebenarnya terjadi beberapa menit lalu.

“Apakah… Apakah ini salah satu dari misteri? Misteri yang pernah aku baca di literatur tua itu. Jangan-jangan…”

Pikiranku melayang entah ke mana. Membuatku tidak bisa membedakan dunia nyata dan dunia khayalan. Pada akhirnya, aku menemukan satu misteri yang selama ini aku cari-cari.

Ternyata, petunjuknya ada di situ..


Sumber : cerpenmu.com

No comments

Powered by Blogger.