Pengalaman Seru Berlari ke Puncak Tertinggi di Cebu, Filipina


Ini adalah pengalaman kedua saya menggapai Puncak Osmena yang terletak di pulau terbesar kesembilan di Filipina. Saya menikmati lari gunung di kawasan pegunungan yang disebut sebagai dataran tertinggi di Pulau Cebu.

Berjarak sekitar kurang lebih 85 kilometer dari pusat kota Cebu, Osmena Peak masuk ke dalam wilayah Kabupaten Dalaguete. Tempat ini dapat dijangkau dengan mudah oleh transportasi umum.

Dari Terminal Bis Jalur Selatan, atau South Bus Terminal, Kota Cebu, kita bisa menggunakan bus jurusan Oslob lalu minta turun di Perempatan Dalaguete. Bilang saja, skena Dalaguete.
Skena berarti pojokan atau perempatan.

Lama perjalanan sekitar 2,5 jam dengan biaya sekitar 105 peso, setara dengan Rp 30 ribu. Lalu, dari pertigaan tersebut, naiklah ojek atau biasa disebut habal-habal, menuju ke Pasar Mantalungun.

Ada dua pilihan dari sini. Kalau ingin hiking atau trail running hingga ke Puncak Osmena, kamu bisa minta diantar sampai Pasar Mantalungon biayanya sekitar 100 peso, dengan lama perjalanan 30 menit.

Dari sini, kurang lebih 4 kilometer lagi ke puncak Osmena, dengan jalan menanjak melewati kawasan pedesaan, ladang sayur mayur dan perumahan warga. Jalurnya jelas dan bila menemui persimpangan, dapat bertanya kepada penduduk sekitar. Namun, kalau tidak ingin berjalan kaki terlalu lama, kamu tinggal minta untuk diantar tepat di kaki pendakian, tepatnya pos pendaftaran pendakian. Dari sini kira-kira sekitar kurang dari 1 km untuk tiba di kawasan puncak Osmena.

Pasar Mantalongon, sejatinya mirip seperti pasar di Indonesia. Tepatnya di kawasan pegunungan seperti Wonosobo atau Kopeng. Udaranya sejuk, di tambah banyak pemandangan pohon dan jejeran bukit.

Jalan dari Pasar Mantalongon menuju ke kawasan puncak Osmena cukup melelahkan. Jalan menanjak disertai cuaca panas adalah kombinasi maut. Beruntung karena berada di tempat tinggi, udara, dan angin cukup menyejukkan.

Pemandangan kiri kanan adalah ladang sayur mayur serta perumahan. Beragam jenis sayur seperti kol, gambas dan sawi, mudah ditemukan disini. Beberapa anak kecil terlihat sedang bermain di lapangan basket. Oh iya, orang Filipina sangat gemar berolahraga, terutama bola basket dan lari. Kemana pun pergi di negara ini, bahkan hingga ke desa-desa yang jauh dari ibu kota, mudah menemukan lapangan bola basket. Tidak perlu lapangan khusus, cukup di atas lahan tanah.


Tiba di pos pendakian, pengunjung harus melaporkan diri, tanpa dipungut bayaran. Saya langsung ingat kawasan wisata di negara saya tercinta. Besar kemungkinan untuk tak melewatkan membayar retribusi. Pagi itu, beberapa orang pengunjung siap untuk menikmati Osmena Peak. Sekitar 10-an habal-habal sedang bersantai menunggu penumpang yang mereka bawa dari Pertigaan Dalaguette. Beberapa dari mereka mencoba mengobrol denganku dengan bahasa Vesaya, mungkin karena kemiripan fisik orang Filipina dan Indonesia.

"Dilik na Visaya, brad, Indonesia, brad, Indonesia," balasku. "Nggak bisa bahasa Vesaya, bos," Kira-kira seperti itulah terjemahannya. Mereka lalu kasak kusuk. Aku hanya memberikan senyum dan lambaian tangan ingin melanjutkan lelarian.

Dari posko pendakian ini, jalan menanjak curam dimulai. Bebatuan dan tanah dengan sisi kanan kiri adalah ladang sayur petani. Namun, tidak terlalu curam dan sangat bisa dilalui bahkan dengan sandal jepit atau sepatu sejenis sneakers. Terlihat tiga orang petani sedang bekerja di ladang. Setelah jalur curam, kita akan melewati jalur datar di sela-sela perkebunan sayur. Lalu, akan ada persimpangan yang salah satu jalur mengarah ke air terjun Kawasan yang sangat terkenal.

Dari Pasar Mantalongon, saya butuh sekitar 32 menit untuk mencapai puncak paling populer di kawasan Osmena Peak. Oh iya, ada beberapa puncak di sini. Dari literatur yang saya baca, dengan jarak serupa, biasanya membutuhkan 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Di atas, banyak orang yang sedang menikmati pemandangan menawan, entah hanya sekedar duduk ngobrol ataupun memotret atau swafoto.

Kawasan Osmena Peak sejatinya cukup unik. Ada banyak perbukitan dari bebatuan keras seperti karang yang terlihat runcing seperti tumpeng. Lebih dari 10 tumpeng raksasa ada di sini. Jarak antara tumpeng tersebut tidak begitu jauh. Cukup berlari sekitar lima menit.

Berdasarkan GPS yang saya bawa, titik tertinggi terletak di ketinggian 1045 meter di atas permukaan laut. Kira-kira sama dengan ketinggian Obyek Wisata Umbul Sidomukti di kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah.

Titik tersebut dari jauh seperti runcing dan dari bebatuan karang yang membentuk dinding karang berbatasan dengan jurang. Rasanya persis seperti sedang merayap menuju Puncak Merapi di Jawa Tengah. Nama Osmena sebenarnya berasal dari nama sebuah trah keluarga terpandang dan berjasa, yang berasal dari Cebu. Klan mereka ada yang menjadi Gubernur Cebu, bahkan ada yang menjadi presiden Filipina di era tahun 40an.

Setelah menikmati Puncak Osmena, saya lalu bergegas turun kembali ke Pasar Mantalongon. 30 menit waktu yang saya butuhkan untuk lari kembali. Setelah duduk-duduk sekitar 10 menit, menikmati minuman energi dan sebatang coklat, entah karena sedang bersemangat atau karena sedang balas dendam akibat lama tak bersenang-senang di gunung, saya putuskan untuk lari kembali ke puncak.

Driver habal-habal yang saya temui pun bersorak sorai karena saya berhasil kembali lagi. Di kawasan puncak, saya menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Menikmati duduk sendirian di tengah terpaan angin kencang.

Satu hal yang selalu menjadi perhatian saya ketika berada di gunung hutan yang kerap dikunjungi adalah kebersihan dari sampah yang dibawa oleh pengunjung. Di Osmena Peak, tak terlihat sampah yang berserakan maupun ditampung di satu tempat. Bahkan di sekitar lokasi kemah pun tampak bersih. Terlihat satu atau dua bekas api unggun namun tak ada potongan plastik sampah tak terbakar sempurna ataupun sampah botol plastik juga bungkusan makanan. Asumsi saya adalah entah dibakar habis atau dibawa pulang kembali.

Lalu saya bandingkan dengan sampah di kawasan puncak Gunung Ungaran. Di kawasan puncak, bahkan di jalur pendakian, dapat dengan mudah ditemukan sampah plastik entah dari pembungkus permen, cokelat atau madu.

Belum lagi kotak bungkus rokok dan botol air mineral. Tulisan-tulisan di batu besar entah dari cat semprot atau tipe-ex. Bahkan di beberapa kali pendakian di beberapa gunung di Jawa, kawan-kawan saya seringkali berkelakar tentang sampah ini. Menurut mereka, bila menemukan sampah di gunung, berarti jangan khawatir kita akan tersesat. Sampah berarti bukti jalur pendakian yang benar.

Segera setelah menikmati Puncak Osmena, saya kembali lari turun menuju Pasar Mantalongon. Sudah hampir tengah hari. Matahari sudah mulai membakar dengan terik sinarnya.

Mungkin, bagi penggemar olahraga lari gunung di Indonesia, Puncak Osmena tidak terlalu memberikan tantangan berarti dibandingkan dengan jalur-jalur lari gunung biasanya. Namun, pemandangan yang disuguhkan sungguh sangat berbeda dan tidak kalah menakjubkannya. Tumpeng raksasa berjejer seperti sedang menunggu raksasa datang untuk menyantapnya. Dan para pengunjung seperti hidangan penghias tumpeng-tumpeng itu.


Sumber : detik.com

No comments

Powered by Blogger.