Tetua Adat dan Pemerintah Akan Bahas Nasib Destinasi Wisata Baduy


Lebak - Usulan penghapusan Baduy sebagai destinasi wisata masuk babak baru. Rencana terkini akan dibahas oleh seluruh pemangku adat dan perwakilan pemerintah Lebak.

"Puun (pimpinan adat) masih ziarah, tapa, jadi Sabtu diadain musyawarah di Baduy, kemungkinan di Baduy Dalam. Untuk menyikapi pemberitaan ini kan luar biasa, makanya dimusyawarahkan. Nanti mungkin Herunya (Heru Nugroho) suruh datang sama masyarakat adat," kata Kepala Dinas Pariwisata Lebak Imam Rismahayadin di Lebak, Banten, Kamis (8/7/2020).

Imam menjelaskan usulan penghapusan Baduy sebagai destinasi wisata sebelumnya tidak dikomunikasikan dengan Kepala Desa Adat Baduy yang saat ini dipimpin Jaro Saija. Padahal, ada kewenangan yang menurutnya selama ini dipegang oleh orang-orang di lembaga adat.


"Untuk urusan luar ada di jaro pemerintahan, jadi kemarin itu tidak melibatkan jaro pemerintahan," dia menambahkan.

Usulan pencoretan destinasi wisata Suku Baduy disampaikan oleh lembaga adat yang diwakilkan oleh Heru Nugroho dan tiga anggota lainnya, yaitu Henri Nurcahyo, Anton Nugroho, dan Fajar Yugaswara. Merena dipercaya lembaga adat untuk menyampaikan aspirasi dan mengirim surat ke Presiden Jokowi, kementerian dan perangkat daerah di Banten.

"Karena kedekatan saya kepada masyarakat Baduy yang sudah terjalin sekian lama, mungkin saya diberikan kepercayaan oleh mereka (Pemangku Adat Baduy) untuk bisa menyampaikan aspirasi kepada Bapak Presiden melalui surat terbuka ini," kata Heru yang selaku ketua tim.



Namun, usulan tersebut justru menimbulkan polemik. Jaro Saija selaku kepala desa adat mengatakan ada yang dirugikan atas usulan itu. Bahkan, bisa membuat orang tersinggung.

"Itu banyak yang dirugikan, bicara mengusulkan ke Presiden segala. Di Baduy seperti penutuan kan sebetulnya (karena) COVID-19, kedua kalau yang megusulkan tadi, di sini kan ada bertahap, jangan ke presiden ini itu," ujar Saija di Lebak, pada Selasa (7/7) lalu.

Sejauh ini, wisata di Baduy diakui membawa permasalahan tersendiri. Khususnya akibat sampah plastik yang dibawa wisatawan. Per-tahun ada 100 ribu wisatawan yang datang ke kawasan adat di sana, tapi kadang tidak mentaati aturan adat untuk membuang sampah. Padahal, Baduy dikenal sebagai masyarakat penjaga alam di kawasan Banten selatan.


Sumber : detik.com

No comments

Powered by Blogger.