Tiang Lampu Ke Lima


Saat itu sekitar pukul 11 malam. Yoni sedang menempuh perjalanan pulang menuju rumahnya.

Bersama gerimis hujan dan hembusan angin yang bertiup kencang, dia tetap melaju mengendarai sepeda motor matiknya itu.

Sambil mendengarkan lagu-lagu dari ponsel melalui headsetnya, dia terlihat menikmati perjalanan itu.

Dari Jakarta ke Bandung tidaklah dekat, selain berhenti untuk mengisi full tangki bensin di pom, dia belum menepi lagi untuk istirahat.

Yoni memperkirakan perjalanannya akan lancar, karena itu dia merasa yakin bahwa dia kuat dan berpikir tidak perlu berhenti jika tidak ada masalah.

Malam semakin larut seiring jumlah kendaraan berkurang, Yoni mulai meninggalkan keramaian kota dan memasuki area perkebunan yang sepi.

Itu merupakan jalan alternatif terdekat menurutnya, karena hanya melalui jalan itu dia bisa sampai lebih cepat ke rumahnya.

Yoni tidak risau saat menghadapi situasi dan kondisi seperti itu, dia sudah tau pasti dan bahkan dia sudah terbiasa karena sudah sering melaluinya.


Di rute itu dia harus melewati 10 tiang lampu. dan di setiap tiga puluh meter, ada satu tiang lampu menyala dengan cahaya berwarna merah kekuningan untuk menerangi jalan itu.

Dia pun mulai masuki rute itu, dan sekitar empat tiang lampu pun dia lewati. semua aman-aman saja dan dia hampir mendekati tiang ke lima.

Tapi motor yang dikendarainya itu lajunya melambat dan tidak bisa dipaksakan untuk digas, alhasil motornya itu mati secara tiba-tiba.

Yoni merasa heran dan hendak memeriksa. tapi karena gelap, dia terpaksa harus mendorong motornya menuju tiang lampu yang berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat motornya mati itu.

Yoni mulai melangkah perlahan sambil melihat keadaan sekitar, tidak ada rumah, pos jaga, ataupun gubuk yang terlihat sejauh mata memandang.

Sambil berjalan, dia meraba saku jaketnya dan menekan tombol volume suara musik dari ponselnya itu sampai full dengan alasan membunuh perasaan takut yang berpotensi muncul dan membesar.

Yoni pun sampai di bawah tiang lampu dan langsung mulai memeriksa motornya. diawali dari ban motor, sisa bensin, sampai hal yang mendetail penyebab motornya mati.

Setelah memastikan berdasarkan pengetahuannya yang awam itu, tidak ada yang salah pada motornya.
Tapi setelah mencoba beberapa kali untuk menyalakannya, motornya tak kunjung hidup. dia pun lelah dan pasrah, lalu dia duduk dan bersandar pada tiang lampu itu.

Yoni memutuskan untuk menghubungi anggota keluarganya yang berada di rumah, dia pun mengeluarkan ponselnya, berharap ada yang masih terbangun.

Setelah mengeluarkan ponsel, yang pertama terlihat di layar ponselnya adalah waktu yang menunjukkan pukul 01.00 AM, selanjutnya adalah sinyal ponsel dengan tulisan SOS berwarna merah, dan yang terakhir yang terlihat adalah daya baterai yang tinggal 10%.

“Sial!” gumam Yoni teramat kesal dan memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku jaketnya.

Suhu semakin dingin dan membuat Yoni menggigil. selain karena diam di area perkebunan yang tropis dan berkabut embun, hal lainnya adalah tidak ada orang lain di sana.

Keringat dingin perlahan mengalir di keningnya, dia pun kembali melihat sekitar dengan harap-harap cemas.

Yoni membuka helmnya, lalu dia menepuk keningnya. tiba-tiba musik yang sedang dia dengar pun mati. dan benar saja, ponselnya benar-benar mati.

Yoni pun melepas headsetnya dan menyimpannya. dalam hening dan pekatnya malam, hanya suara jangkrik yang dia dengar.

Suasana berubah, mau tidak mau Yoni sekarang mulai ketakutan sambil memeluk lututnya. setelah sejenak mengingat kembali kalimat kakeknya, kini dia menyesal tidak pulang besok pagi saja.

Sebelumnya, Yoni memutuskan untuk pulang setelah dua hari berkunjung ke rumah neneknya yang sakit. meskipun telah diingatkan kakeknya, tapi dia bersikeras untuk pulang karena harus bekerja esok harinya.

Sekitar lima menit waktu telah bergulir, tapi yang dia rasakan tidak demikian.

Yoni nyaris putus asa, tubuhnya semakin kedinginan dan rasa takutnya semakin mengembang.

Tiba-tiba dia melihat cahaya kecil dari kejauhan. meskipun agak buram, tapi cahaya itu seakan mendekat dan menyorot.

Yoni berpikir itu adalah mobil. dan benar saja, itu adalah mobil jenis colt dengan bak di bagian belakangnya.

Kini harapan Yoni mulai bermekaran, rasa takutnya pun seketika menghilang. mobil itu melaju semakin mendekatinya, dan Yoni pun mulai melambaikan tangannya.

“Pak, pak, tolong saya pak!” Teriak Yoni.

Yoni melihat di mobil itu ada seorang pak tua mengenakan topi sedang menyetir, lalu di sampingnya ada satu penumpang dan wajahnya tidak begitu jelas karena gelap.

Mereka tidak menghiraukan Yoni dan seakan-akan tidak melihatnya. mobil itu melintas begitu saja melewati Yoni yang berdiri di bawah tiang lampu itu.

Yoni tidak diam, dia pun berusaha mengejarnya. tapi mobil itu melaju semakin kencang dan membuat Yoni kembali ke tempat semula.

Yoni kembali bersandar di tiang lampu, air matanya perlahan mengalir di pipinya. suasana semakin memburuk dan dia memutuskan untuk memejamkan matanya dan membayangkan dia sedang tidur di kamarnya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara motor. Yoni membuka matanya dan dia memang melihatnya, motor dengan seorang pengendara itu mendekat dan berhenti setelah Yoni melambaikan tangannya.

“Sedang apa disini?” tanya pria pengendara itu tanpa membuka helmnya full face nya.

“Aku sedang perjalanan pulang, dan motorku mati,” jawab Yoni yang dalam hatinya sangat senang.

“Boleh aku periksa?”

“Tentu saja!” Jawab Yoni lalu tersenyum.

Motor itu langsung menyala setelah pria itu memeriksa dan akhirnya Yoni sangat bahagia.

“Terima kasih banyak!”

“Sama-sama, semoga selamat sampai tujuan, kau duluan saja,”

“Iya, terima kasih,” Yoni pun mengenakan helmnya dan kembali berkendara.

Tidak ada perasaan lain saat Yoni memulai lagi melaju mengendarai motor, tapi tiba-tiba perasaan aneh muncul dan dia pun melihat ke belakang melalui kaca spion motornya.

“Tidak ada siapa-siapa! padahal belum semenit!” Teriak dalam hatinya. tapi karena dia tidak ingin celaka, dia berusaha fokus berkendara meskipun sekujur tubuhnya merinding sepanjang jalan.

Akhirnya, dia pun sampai di rumahnya. dengan segera, dia menggedor pintu rumahnya.
“Mama, buka! buka! Ini Yoni!,” teriaknya gelisah.

Ibunya pun membukakan pintu, dan Yoni bergegas masuk.

“Kenapa nak? Apa tidak salah larut malam seperti ini?” tanya ibunya sambil menenangkan Yoni.

“Aku mau tidur ma, aku lelah. selamat malam,” jawab Yoni menuju kamarnya.

“Aneh, ada-ada saja,” gumam ibunya.

Keesokan harinya, Yoni bangun pagi dan mendengar kabar dari beberapa tetangga yang sedang berkumpul.

“Ada apa ma? Kok ramai?”

“Kemarin, sekitar pukul 10 malam ada kecelakaan di area perkebunan. mobil dan motor tabrakan, dan tiga orang tewas di tempat,”

Yoni pun memilih diam saat kembali mengingat kejadian semalam.

End


Sumber : cerpenmu.com

No comments

Powered by Blogger.