Waspada, Saat Teman Unggah Kalimat I Had Pasta Tonight Bisa Jadi Kode Keras Bunuh Diri



    Beberapa waktu lalu masyarakat Jambi dibuat geger oleh seorang pemuda yang tewas karena gantung diri. Tapi, yang lebih mengejutkan adalah aksi bunuh diri tersebut dia lakukan live di media sosial.



Pemuda bernama Hendra (20) yang tinggal di Desa Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muarojambi, Jambi, tewas dengan seutas tali di dapur rumah korban. Kapolres Muarojambi AKBP Ardiyanto mengatakan, korban ditemukan dengan kondisi tewas tergantung di dapur rumahnya.

Dari informasi yang didapat, pemuda tersebut melakukan bunuh diri saat kondisi rumah korban sedang kosong, karena orangtuanya sedang berobat di Desa Tangkit.

Ironisnya, sebelum mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, korban melakukan siaran langsung (live) melalui media sosial facebook (FB). Diduga, dia ada masalah dengan kekasihnya sehingga nekat ingin bunuh diri. Namun, ketika si kekasih datang, ternyata pintu rumah korban terkunci dari dalam.

Karena panik, sang pacar memanggil warga sekitar untuk memastikan bahwa ada kejadian itu. Setelah diintip warga, ternyata benar korban bunuh diri. Saat ini, korban sudah dimakamkan tidak jauh dari rumah korban.

Tahun lalu, media Twitter ramai oleh cuitan seorang pemuda berinisial ADA (21), mahasiswa sebuah universitas di Tanggerang. Sebelum mengakhiri hidupnya, ADA sempat mencuit kalimat,

"Gua gamau terus menerus jadi benalu di lingkungan gua, so kayaknya lebih baik gua enyah dari muka bumi ini. Bye!", tulisnya pada Selasa 22 Januari 2019.

ADA pun ditemukan tewas dengan dugaan menenggak cairan arsenik di dalam kamar kosnya di Legok, Kabupaten Tanggerang.

Kasus serupa pun pernah terjadi di Inggris, pada Molly, remaja 14 tahun, karena depresi yang berujung bunuh diri. Molly diketahui mengakses konten-konten bunuh diri di media sosial.

Dia diperkirakan mengunjungi konten tersebut karena depresi. Remaja 14 tahun ini pun didapati mengunggah konten depresi dan bunuh diri pada instagramnya.

Nah, kini seiring dengan maraknya penggunaan media Tik Tok, para remaja pun menggunakan media ini sebagai sarana untuk bunuh diri. Tren ini disebut dengan 'I Had Pasta Tonight' yang mengisyaratkan seseorang sedang sangat depresi dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Nah, waspada bila temanmu unggah kalimat 'I Had Pasta Tonight' bisa jadi kode keras untuk bunuh diri.

Kalimat yang terkesan sepele dan mengasyikkan tersebut malah memiliki makna serius bagi pengguna TikTok dan Gen Z yang menciptakan isu ini. Mereka seperti membuat 'isyarat' baru dalam mengatakan ingin bunuh diri tapi tak ingin terkesan menyeramkan.


Dilansir dari New York Post, salah satu akun TikTok bernama @kaityjane2 yang melakukan tindakan ini dan langsung viral. Dalam keterangannya, netizen itu mengatakan, "Baru saja memberitahu ibuku tentang resep pasta kesukaanku dan dia membuatkannya untuk menu makan malam."

Unggahan tersebut langsung mendapat perhatian lebih dari 3 juta netizen dengan 61 ribu komentar yang masuk. Banyak dari netizen mencoba untuk menenangkan pikiran Kaity.

Salah satunya dengan memberi komentar ini, "Masih banyak anjing yang belum Anda pelihara." Komentar ini dimaksudkan sebagai cara umenggambarkan ada banyak hal menyenangkan dalam hidup ini yang masih bisa dilakukan. Jadi, 'please' jangan bunuh diri.

Tren yang terjadi di TikTok ini terinspirasi dari puisi yang diterbitkan di platform Wattpad berjudul 'Don't Kill Yourself Today'. Puisi ini berisi daftar berbagai alasan yang bisa membuat hidup terus berlanjut, termasuk 'Jangan bunuh diri sendiri sampai Anda memberi tahu seseorang resep pasta kesukaanmu'.

Lalu, ada juga kalimat seperti ini 'Jangan bunuh diri sebelum Anda menghabiskan sampo dan kondisioner secara bersamaan.' Frase seperti ini diharapkan bisa menghentikan seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Dalam laporan yang diungkap Centre for Longitudinal Studies dalam laporannya yang berjudul Heavy Social Media Use Linked to Depression in Young Teens.

Laporan itu menjelaskan bahwa data pada 10.904, remaja berusia 14 tahun yang lahir antara tahun 2000 dan 2002 di Inggris yang berjenis kelamin perempuan rata-rata memiliki skor gejala depresi yang tinggi. Sebanyak 43,1% remaja perempuan mengatakan mereka menggunakan media sosial selama tiga jam atau lebih per hari, jika dibandingkan dengan remaja laki-laki yang hanya 21,9%.

Muhammad Agus Syafii, Konsultan dan pemerhati anak dan remaja mengatakan dari riset Centre for Longitudinal Studies, tercatat pengguna media sosial memiliki kebiasan pola tidur yang berubah, mengalami pelecehan di dunia maya.

"Citra diri untuk diterima dan dipuji meningkat. Faktor-faktor tersebut ternyata bisa memicu meningkatnya kadar stres dan depresi,” jelas Agus dari Rumah Amalia Ciledug.


Nah, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut, maka lebih baik jika kita bisa menjauhkan telepon gengam dari kamar tidur. Hal ini dapat mengatasi gangguan tidur dan membuat suasana hati jadi lebih bahagia. Dengan menjauhkan telepon genggam dari tempat tidur, maka bisa membatasi penggunaan media sosial di malam hari.

“Selain itu, perbanyak aktivitas sosial, luangkan waktu untuk ngobrol dan praktikkan beragam aktivitas motorik yang menggembirakan, hingga tidak punya banyak waktu luang untuk menggunakan telepon sebagai sahabat, guru ataupun panutan,” papar Agus.

“Lakukan hal ini agar bisa tidur nyenyak hingga memperbaiki suasana hati dan merasa lebih bahagia," tambahnya.

Sumber :okezone

No comments

Powered by Blogger.