Asmat Tetap Lestarikan Budaya Lokal Meski Zaman Terus Berkembang


RUMAH JEW | Rumah Jew di Kampung As, Distrik Pulau Tiga. (Foto: Aditra/SP)


Budaya lokal di Kabupaten Asmat, Papua tidak akan pernah punah, meski zaman terus berkembang.

Kepedulian masyarakat dan dukungan penuh pemerintah menjadikan Asmat menjadi daerah dengan pelestarian budaya lokal yang perlu diacungi jempol.

Salah satu bukti budaya Asmat tidak dimakan zaman, yakni setiap tahunnya daerah tersebut menyelenggarakan Pesta Budaya Asmat.

Dalam Pesta Budaya Asmat, warga memamerkan hasil ukiran dan kerajinan tangannya lainnya.


Pesta Budaya Asmat tidak sekedar untuk menarik wisatawan lokal di luar Asmat maupun mancanegara, tapi juga sebagai wujud nyata pelestarian budaya agar anak cucu di Asmat tetap berpegang pada budaya.

Tidak hanya pesta budaya, warga di kampung-kampung juga terus menunjukkan eksistensi kearifan lokal dengan membangun rumah-rumah adat atau dengan bahasa lokal disebut rumah Jew, seperti di Kampung As, Distrik Pulau Tiga, Rabu (29/7) lalu.

Bupati Asmat Elisa Kambu saat menghadiri peresmian Rumah Jew di Kampung As memberikan apresiasi kepada warganya yang terus melestarikan budaya Asmat.

“Saya memberi apresiasi kepada warga Kampung As Distrik Pulau Tiga,karena masi konsisten lestarikan budaya lokal seperti membangun kembali Rumah Jew,” kata Bupati didampingi Wakil Bupati Thomas Eppe Safanpo.

Melalui momen itu, Bupati menghimbau warganya agar terus menjaga budaya lokal Asmat.

“Budaya lokal kita harus dijaga, bila perlu kita kenalkan kepada orang di luar Kabupaten Asmat bahwa ditengah kemajaun bangsa yang semakin pesat, ciri khas kita tidak pernah redup ditelan zaman,” tutur orang nomor satu di Kabupaten Asmat tersebut.

“Mari kita lestarikan, bersatu padu kenalan budaya lokal Asmat ke seluruh penjuru,” ajaknya.

Dikutip dari Wekepedia disebutkan, Rumah Jew atau dikenal sebagai Rumah Bujang merupakan salah satu rumah adat yang berasal dari Suku Asmat, khususnya dari ibu kota Provinsi Papua yaitu Agats.

Rumah Jew yang memiliki beberapa nama lain yaitu Je, Jeu, Yeu, atau Yai ini merupakan rumah panggung berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu dan dinding beserta atapnya terbuat dari daun pohon sagu atau pohon nipah yang telah dianyam.

Hal unik yang terdapat dalam Rumah Jew ini adalah sama sekali tidak menggunakan paku melainkan menggunakan akar rotan sebagai penghubung.

Disebut sebagai Rumah Bujang karena dalam rumah inilah tempat berkumpulnya laki-laki yang belum berkeluarga atau yang masih berstatus bujang. Anak-anak dibawah umur 10 tahun, wanita tidak perbolehkan masuk kedalam Rumah Jew ini.

Rumah panggung bujang ini dibangun menggunakan bahan-bahan alami yang didapatkan dari hasil alam sekitar kampung sesuai dengan kepercayaan adat Asmat bahwa leluhur mereka dan alam sekitar telah bersinergi untuk menyediakan kebutuhan mereka.

Kayu yang digunakan untuk membangun sebuah Rumah Jew menggunakan kayu besi yang kuat serta tahan terhadap air terutama air laut karena lokasi geografis suku Asmat yang terletak di sekitar pesisir laut dan sekitar rawa-rawa.

Rumah Jew juga selalu didirikan menghadap ke arah sungai tepatnya di pinggir sungai terutama di daerah kelokan sungai dengan tiang penyangga utama rumah diukir dengan ukiran motif Asmat.

Alasan dibangunnya Rumah Jew di kelokan sungai karena zaman dahulu sering terjadi peperangan antar etnis suku Asmat.

Dengan dibangun di pinggir sungai terutama di daerah kelokan sungai akan memudahkan penghuni Rumah Jew tersebut mengetahui keberadaan serangan musuh.

Walau zaman sekarang sudah tidak terjadi peperangan maupun pengayauan antar etnis suku Asmat.

Jumlah pintu Rumah Jew sama dengan jumlah tungku api dan patung Mbis (patung leluhur Asmat) yang juga mencerminkan jumlah keluarga atau Tysem pada rumpun suku Asmat yang tinggal disekitar Rumah Jew tersebut.

Patung Mbis menurut keyakinan suku Asmat adalah patung untuk mengusir pengaruh jahat terhadap para bujang di dalam rumah tersebut.

Selain itu, terdapat ciri-ciri khusus Rumah Jew lainnya, seperti, luas bangunan Rumah Jew umumnya adalah 10 x 15 meter.

Rumah Jew bahkan bisa mencapai ukuran 30 – 60 meter dengan lebar 10 meter.

Terdapat 2 buah pintu yang terletak di depan dan belakang rumah. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah atau daun sagu yang dianyam sedemikian rupa.

Tiang penyangganya terbuat dari kayu besi setinggi 2,5 meter dan diukir dengan motif ukiran suku Asmat.

Lantai Rumah Jew biasanya terbuat dari bahan yang sama dengan bahan atap yaitu daun sagu.

Dinding rumah terbuat dari batang sagu yang dianyam secara vertikal dan diikat dengan akar rotan.

Untuk Dinding, atap, dan lantainya selalu diganti 5 tahun sekali.

Rumah Jew biasanya didirikan disekitar rumah-rumah keluarga kecil yang biasa disebut dengan Cem atau Tysem.










Sumber : Sp

No comments

Powered by Blogger.