Gara-gara Corona, Taman Buaya Kehabisan Dana

 Chennai -

Taman buaya di Chennai yang menjadi salah satu objek wisata India terancam kehabisan dana segar karena virus Corona. Kesiapan dompet diprediksi bertahan empat bulan lagi.

Wabah virus Corona membuat India memutuskan untuk lockdown. Taman wisata buaya Madras Crocodile Bank, yang berjarak sekitar 40 km dari Chennai, itu ditutup sejak Maret 2020.

Tanpa kedatangan wisatawan, taman buaya itu kehilangan cukup banyak pendapatan. Di saat bersamaan, pengelola taman tetap harus menghidupi buaya-buaya itu, juga membayar staf, dan melakukan penelitian.

Menurut laporan Reuters pada 10 Agustus 2020, lockdown selama musim liburan musim panas, operasional taman buaya itu menelan biaya sekitar 14 juta rupee (setara dengan Rp 2,7 miliar). Sementara itu, jumlah pengunjung turun hampir 2,5 juta.

Tiket masuk taman buaya memang menjadi salah satu pendapatan terbesar Madras Crocodile Bank itu. Penjualan tiket satu tahun, sekitar 5 juta tiket, biasanya menghasilkan sekitar setengah dari pendapatan taman buaya tersebut.
Baca juga: Bar Tertinggi Dunia di Lereng Gunung Everest Melawan COVID-19

Dengan belum meredanya kasus virus Corona, belum bisa dipastikan pula pembukaan taman buaya itu.

"Situasi pendanaan kami saat ini akan memungkinkan kami untuk tetap berfungsi selama tiga atau empat bulan lagi," kata Allwin Jesudasan, direktur taman buaya Madras Crocodile Bank. dan dikutip Reuters.

Untuk menghemat pengeluaran, taman buaya Madras Crocodile Bank itu sampai memangkas gaji pegawai.

"Staf senior kami merelakan gajinya dipotong 10 persen hingga 50 persen dan kami telah mengurangi kegiatan kami hanya pada kegiatan-kegiatan kritis," begitulah pengumuman pengelola taman buaya dalam laman permohonan donasi di situs resmi taman buaya itu.

Taman buaya Madras Crocodile Bank dibangun pada 1976 oleh ahli ular kelahiran Amerika Serikat (AS), Romulus Whitaker. Taman buaya tersebut berdiri di atas lahan seluas 3,44 hektar.

Taman buaya itu merupakan rumah bagi lebih dari 2.000 buaya, aligator, dan reptil lain, seperti kura-kura, kura-kura, kadal, dan ular. Madras Crocodile Bank Trust dan Center for Herpetology, itu telah membiakkan lebih dari 5.000 buaya sejak berdiri, menampung 14 dari 23 spesies buaya, dengan tiga di antaranya terancam punah.

Dengan belum meredanya kasus virus Corona, belum bisa dipastikan pula pembukaan taman buaya itu.

"Situasi pendanaan kami saat ini akan memungkinkan kami untuk tetap berfungsi selama tiga atau empat bulan lagi," kata Allwin Jesudasan, direktur taman buaya Madras Crocodile Bank. dan dikutip Reuters.

Untuk menghemat pengeluaran, taman buaya Madras Crocodile Bank itu sampai memangkas gaji pegawai.

"Staf senior kami merelakan gajinya dipotong 10 persen hingga 50 persen dan kami telah mengurangi kegiatan kami hanya pada kegiatan-kegiatan kritis," begitulah pengumuman pengelola taman buaya dalam laman permohonan donasi di situs resmi taman buaya itu.

Taman buaya Madras Crocodile Bank dibangun pada 1976 oleh ahli ular kelahiran Amerika Serikat (AS), Romulus Whitaker. Taman buaya tersebut berdiri di atas lahan seluas 3,44 hektar.

Taman buaya itu merupakan rumah bagi lebih dari 2.000 buaya, aligator, dan reptil lain, seperti kura-kura, kura-kura, kadal, dan ular. Madras Crocodile Bank Trust dan Center for Herpetology, itu telah membiakkan lebih dari 5.000 buaya sejak berdiri, menampung 14 dari 23 spesies buaya, dengan tiga di antaranya terancam punah.

Sumber : detik

No comments

Powered by Blogger.