Kalung Anti-Corona Hingga Ahli Tak Kompeten Indonesia Disorot Media Ternama AS



     Belakangan sedang ramai diperbincangkan sosok yang mengaku kompeten, namun justru dinilai menyebarkan berita yang salah terkait Virus Corona COVID-19.



Ia adalah Hadi Pranoto, seseorang yang disebut-sebut sebagai dokter, yang diajak oleh selebritas Anji untuk berbicara mengenai fakta-fakta terkait Virus Corona baru. 

Sebelumnya, terkait cara penyembuhan virus yang diusulkan oleh Kementerian Pertanian dengan kalung anti-virus juga menjadi topik hangat. Banyak yang meragukan akan kebenaran dan kemampuan alat tersebut. 

Kedua hal tersebut kemudian menjadi sorotan media ternama asal Amerika Serikat, New York Times. 

Menurut media tersebut, pemerintah Indonesia mengalami kesulitan untuk menyampaikan pesan berbasis ilmu pengetahuan yang konsisten tentang Virus Corona  dan penyakit yang ditimbulkannya, COVID-19.

Hal ini terbukti ketika sejumlah influencer dan pakar gadungan telah mendorong penyembuhan dengan cara mereka sendiri dan informasi yang salah di media sosial, termasuk rumor yang tersebar luas bahwa alat pengukur suhu thermogun yang banyak digunakan di seluruh dunia dapat menyebabkan kerusakan otak.

Menurut media AS New York Times, Indonesia bukan satu-satunya negara yang memerangi informasi salah atau negara di mana para pemimpinnya telah mempromosikan pengobatan alternatif. 

Organisasi Kesehatan Dunia telah berulang kali menyebut informasi palsu yang berbahaya sebagai "infodemik".

Di Kenya, gubernur Nairobi telah mendorong cognac sebagai obat ajaib. Presiden Donald Trump terus mempromosikan Hydroxychloroquine, obat yang digunakan untuk mengobati malaria, sebagai obat Virus Corona baru meskipun ada bukti medis yang bertentangan. Dia bahkan menyarankan bahwa "suntikan di dalam" tubuh manusia dengan desinfektan seperti pemutih dapat membantu memerangi virus.

Tetapi apa yang terjadi di Indonesia menjadi unik karena populasinya yang besar, geografi yang luas, adanya ribuan pulau dan campuran identitas budaya. Akan cukup sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan rencana yang jelas dan terpadu untuk memerangi virus, tetapi masalah pun kian diperburuk oleh penyebaran informasi yang kacau dan seringkali berbahaya.

Media New York Times melaporkan bahwa Presiden Joko Widodo, pada awalnya meremehkan pandemi dan telah menyampaikan pesan yang beragam. Dia mengakui pada bulan Maret bahwa dia telah menyesatkan publik tentang virus untuk mencegah kepanikan. Setelah itu, ia dinilai lambat untuk menutup bisnis dan sekolah dan membatasi perjalanan, tetapi cepat untuk mengangkat pembatasan bahkan ketika kasus masih terus meningkat.

Pada Mei, katanya, Indonesia harus belajar hidup dengan virus. Namun, sebulan kemudian, ia mengancam akan memecat menteri kabinet karena tidak berbuat lebih banyak untuk mengendalikan pandemi.

Bulan ini, ia menyerukan kampanye nasional untuk mempromosikan disiplin yang lebih baik dalam menjaga jarak sosial, memakai masker dan mencuci tangan.


Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.