Perpaduan dari Tiga Budaya, Ini 4 Fakta Sejarah Kalender Jawa

Perpaduan dari Tiga Budaya, Ini 4 Fakta Sejarah Kalender Jawa


Kalender Jawa merupakan sebuah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram serta kerajaan pecahan lain yang mendapatkan pengaruhnya. Sistem penanggalan ini pertama kali dicetuskan oleh Sultan Agung Hanyokrokusuma pada 1633 Masehi.

Sejak tahun itu, sistem penanggalan itu berlaku di seluruh Pulau Jawa terkecuali di wilayah Banten, Batavia, dan Banyuwangi. Sistem penanggalan ini memiliki dua siklus hari, yaitu siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran.


Uniknya, sistem penanggalan ini memadukan 3 sistem penanggalan dari budaya yang berbeda. Yakni perpaduan sistem penanggalan Islam, sistem penanggalan Hindu, dan sistem penanggalan Julian yang berasal dari budaya barat.

Menggabungkan Kalender Hindu dengan Kalender Islam

006 arry anggadha

©2018 dream.co.id

Dilansir dari Wikipedia, pada 1633 Masehi (1555 Saka) Sultan Agung berusaha menanamkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Salah satu caranya dengan mengeluarkan ketetapan untuk mengganti penanggalan Saka yang berbasis pada perputaran Matahari dengan kalender Islam yang berbasis pada perputaran Bulan.

Meski pada akhirnya menggunakan sistem perputaran bulan seperti halnya kalender Islam (Kalender Hijriyah), namun angka tahun pada kalender Saka tetap diteruskan. Sehingga tahun 1555 Saka pada waktu itu angkanya diteruskan dan diganti dengan tahun 1555 Jawa.

Siklus 120 Tahun

keraton surakarta tutup sementara

©2020 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Meski pada dasarnya sistem penanggalan Kalender Jawa mengikuti sistem Kalender Hijriyah, namun di antara keduanya ada sedikit perbedaan. Kalender Jawa memiliki 3 tahun kabisat setiap 1 windu (8 tahun) sedangkan kalender Islam memiliki 11 tahun kabisat setiao 30 tahun.

Dampak dari perbedaan sistem ini akan tampak setiap 120 tahun sekali di mana ada satu hari yang harus dibuang agar perhitungan Kalender Jawa tetap sama dengan Kalender Hijriyah. Siklus 120 tahun sekali ini dikenal dengan nama “Siklus Kurup”.

Walau begitu antara Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta sempat tidak kompak untuk membuang satu hari itu. Sebagai contoh, Kraton Surakarta sudah membuang satu hari pada tahun 1675 Jawa/1748 Masehi walaupun perhitungan saat itu baru berjalan 74 tahun.

Pada waktu itu Pakubuwana V memutuskan hal tersebut karena dia merasa penanggalan Jawa sebenarnya sudah tertinggal 1 hari dari Kalender Hijriyah. Sistem ini baru diikuti Kraton Yogyakarta atas perintah Sultan Hamengkubuwana VI pada tahun 1749 Jawa/1866 Masehi.

Daftar Bulan pada Kalender Jawa

Penamaan nama bulan pada Kalender Jawa sebagian menyesuaikan nama bulan pada Kalender Hijriyah. Namun ada pula nama bulan yang diambil dari Bahasa Sansekerta seperti Bulan Sura, Pasa, dan Sela serta nama yang diambil dari Bahasa Jawa dan Melayu seperti Bulan Apit dan Besar. 

Kendati demikian pada tahun 1856 Masehi dibuatlah bulan-bulan musim yang berpatokan pada Kalender Gregorian. Sistem ini dikenal dengan nama “pranata mangsa” yang diresmikan oleh Sunan Pakubuwana VII. Sistem penanggalan ini dibuat karena patokan Kalender Hijriyah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani untuk bercocok tanam.

Weton Jawa

Seiring dengan penggunaan kalender Jawa, maka lahirlah weton Jawa. Dilansir dari Brilio.net, Weton Jawa dianggap bisa mengetahui kepribadian seseorang beserta ramalan masa depannya.

Weton Jawa juga digunakan untuk menentukan acara-acara sakral yang akan dilakukan seseorang seperti lamaran, hari pernikahan, khitan, dan lain sebagainya. 

Sebagai contoh, orang yang lahir pada hari Pasaran Pahing akan tega mengkhianati temannya sendiri. Sementara orang yang lahir pada hari Pasaran Pon adalah orang bijaksana dan suka menasihati orang lain.














Sumber : merdeka

No comments

Powered by Blogger.