TKI Asal Sumut Terancam Hukuman Mati, Ini Permintaan Khusus Jansen ke Presiden Jokowi



Kisah miris dialami Jonathan Sihontang, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Sumatera Utara yang terancam hukuman mati di Penang, Malaysia.

Politikus Demokrat, Jansen Sitindaon pun ikut bersuara agar nyawa Jonathan bisa diselematkan melalui jalan diplomasi yang bisa ditempuh Presiden Joko Widodo dan Kementerian Luar Negeri.

"Kpd Pemerintah RI pak @jokowi, @Menlu_RI dll mohon perhatian lebihnya. Mana tahu jalan "diplomasi" bisa menyelamatkan nyawanya," tulis Jansen di akun Twitternya, Selasa (4/8/2020).

Melalui thread Twitternya, Jansen menyebutkan terpidana Jonathan berasal dari Siantar, Sumut. Dia bekerja di pabrik pengawetan daging di Kampung Selamat, Penang.

"Selama bekerja di pabrik ini dia rajin. Berkelakuan baik. Dibuktikan dia sempat pulang ke Siantar. Pd tahun 2018 kembali ke Malaysia dan diterima kembali kerja di pabrik ini," sebutnya.

Kejadian pembunuhan yang dilakukan Jonathan sendiri terjadi pada 19 Desember 2019, saat itu ia meminta gaji kepada majikannya bernama Sia Seok Nee. Karena dia ingin pulang kampung ke Siantar untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Sekaligus mengadakan babtisan anaknya yang baru lahir di kampung. Kemudian dia meminta upah ke majikannya itu.

Jonathan meminta upahnya dibayar penuh untuk masa kerja 1 tahun. Bukannya dibayar penuh sesuai perjanjian diawal masuk kerja dulu, dia malah dihina dan dicaci maki. Dan majikannya melemparkan dan mencampakkan sejumlah uang yang nilainya jauh dari yang diperjanjikan ke muka Jonathan.

Jonathan pun tidak bisa membendung emosinya. Tersulut amarah. Karena kesal Jonathan spontan mengambil parang daging yang tidak jauh dari mereka. Dan terjadilah kejadian pembunuhan terhadap Sia Seok Nee majikannya..

"Dr kronologis diatas rasanya Jonathan tidak pantas menerima hukuman mati ini! Jika majikannya tidak berlaku demikian pastilah peristiwa itu tidak akan terjadi. Ada latar situasi yg melatarbelakanginya. 'Ini memang bukan alasan pemaaf. Tapi bisa jd alasan meringankan hukuman'," ungkap Jansen.

Menurutnya, alasannya tersulut emosi yang sebabkan terjadinya pembunuhan tidak lepas dari sikap majikannya yang tidak memberikan gajinya satu tahun kerja. Ditambah ucapan menuduh macam-masam serta tindakan kasar majikannya kepada Jonathan. Belum lagi melemparkan sebagian uang upah ke wajah Jonathan.

"Saya sudah baca kasus Jonathan. "The case was framed under Section 302 of the Malaysian Penal Code which carries a mandatory death sentence upon conviction". Kasus itu dibingkai berdasarkan Bagian 302 KUHP Malaysia yg DIJATUHI HUKUMAN MATI, wajib setelah dijatuhkan hukuman," jelas Jansen.

"Secara hukum (apalagi) jika tdk diberikan Lawyer terbaik, sulit rasanya Jonathan selamat dr hukuman mati ini. Apalagi dikaitkan dgn jiwa nasionalisme hakim yg memeriksa perkara ini di Malaysia. Satu²nya jalan agar tidak dihukum mati tinggal "diplomasi" dr pemerintah Indonesia," lanjutnya.

Untuk itu, anak buah AHY ini meminta kepada Presiden Jokowi untuk memberikan bantuan hukum kepada jonathan.

"Saya mungkin dianggap tidak pantas mengajukan permohonan ini krn dulu bukan pemilih bapak. Namun saya yakin keluarga Jonathan ini dan banyak orang Batak adl pemilih bapak Presiden @jokowi. Saya hanya menyuarakan saja. Semoga Negara sekuat tenaga bisa membantu Jonathan ini," pintanya.

Tak hanya itu, dia juga meminta Perdana Menteri Malaysia, Tan Sri Muhiddin Yassin memberikan perhatian kepada kasus yang menimpa TKI tersebut.

"Kpd Yang Mulia Perdana Menteri Tan Sri @MuhyiddinYassin: kami dari Indonesia memohon perhatian terhadap kasus Jonathan Sihotang ini. Dia seorang ayah dari 2 orang anak yg masih kecil-kecil. Dengan kerendahan hati kami memohon semoga Yang Mulia bisa memberi kebijaksanannya," tutupnya.

Sumber :Fajar.co.id

No comments

Powered by Blogger.