Ulat Unik Mad Hatterpillar, Pakai Tumpukan Bekas Kulit Kepala Sebagai Perlindungan Diri

Ilustrasi ulat (iStock)


Di hutan eukaliptus Australia, terdapat ulat yang sangat unik sekaligus aneh, yaitu Uraba Lugens.

Ulat ini sangat unik karena mereka kerap menumpuk kepalanya yang berganti kulit satu sama lain. Dalam setiap tahapan ganti kulit itu, ulat ini akan terlihat lebih tinggi.

Ulat Uraba Lugens ini bisa menumpuk kulitnya hingga 12 milimeter, yang juga hampir setengah dari ukuran asli ulat ini. Ulat ini memiliki tinggi tubuh 25 milimeter, dan memiliki julukan "mad hatterpillar". Fungsi dari penumpukan kulit ini adalah mengalihkan predator ketika mencari mangsa, seperti yang dikutip dari CNN, Kamis (13/8/2020).

Proses Metamorfosis

Teliti Tiga Jenis Ulat Bulu

Seperti serangga lainnya, ulat ini memiliki proses metamorfosis sendiri, di mana kulit mereka akan berganti dimulai dari kepalanya. Hal ini tergantung dengan kualitas makan yang didapatkan juga.

Setiap prosesnya, Uraba Lugens bisa memiliki delapan hingga 13 tahap larva untuk bisa menjadi pupa, ujar Dieter Hochuli, profesor dari bidang ilmu lingkungan di The University of Sydney di Australia. Itulah tahap di mana larva, di dalam kepompongnya, berubah menjadi ngengat dewasa.

Dalam pergantian kulit, biasanya ulat lain akan meninggalkan kulit lamanya, namun berbeda dengan Uraba Lugens. Uraba Lugens ini tak dapat meninggalkan kulit lamanya begitu saja.


Kapsul kepala yang sudah berganti kulit mulai menumpuk lebih awal tetapi tidak selalu terlihat, karena kapsul yang lebih kecil terlepas seiring waktu," kata Hochuli.

"Tidak jarang melihat ulat dengan setidaknya lima kepala lama ditumpuk di atas yang mereka gunakan saat ini."

Selama berminggu-minggu sebelum menjadi ngengat, serangga ini membawa bangkai kepala mereka, yang dapat menumpuk setinggi 12 milimeter (0,47 inci) - hampir setengah dari panjang tubuh ulat maksimal 25 milimeter.

Pertahanan yang Tidak Biasa

ulat sagu


Alasan utama kenapa ulat ini tak meninggalkan kulit lamanya, adalah agar bisa mempertahankan diri mereka. Karena mereka terlihat jauh lebih besar dari ukuran yang sesungguhnya. 

"Mereka terlihat lebih besar, jadi mereka lebih mengancam dan terlihat lebih tangguh bagi pemangsa potensial," kata Henderson.

"Teori lain adalah bahwa itu mungkin memberikan target yang salah, jadi pemangsa seperti laba-laba pelompat atau sesuatu yang menargetkan bagian dari hewan itu mungkin mengambil bagian yang salah. Ini memberi ulat kesempatan untuk melarikan diri."

Uraba Lugens juga menggunakan kepalanya sebagai senjata atau perisai dari berbagai serangga, terutama serangga pembunuh yang mencoba memiliki "suntikan" pada mulutnya dan mencoba menyedot isi perutnya.

Dalam salah satu eksperimen Hochuli, peneliti lain memindahkan tumpukan kepala dari beberapa ulat, meninggalkannya pada ulat lain, dan mengawasi kelangsungan hidup mereka setelah mereka kembali ke lapangan. Ulat yang menyimpan kepala ekstra lebih mungkin untuk bertahan hidup di dunia.

Dalam pengamatan kedua, para peneliti mengamati serangga yang menggelengkan kepalanya untuk mengalihkan serangan. Dan juga para predator yang tidak terlalu curiga dengan menyerang bagian kepala Uraba Lugens.

Cara Melindungi Diri yang Sukses

Sebuah jurnal mengungkap penemuan ulat berumur 44 juta tahun oleh peneliti Jerman. (DW)


Hidup menjadi seekor ulat sangat sulit, karena mereka kerap menjadi sasaran mangsa predator. Uraba Lugens ini dapat hidup lebih lama karena kepala mereka. 

Menurut Hochuli, Uraba Lugens ini memiliki parasitoid yang dapat membunuh mereka.

"Uraba memiliki seperangkat parasitoid yang memakannya, tawon dan lalat yang bertelur di dalam atau di luar ulat dan kemudian memakannya hidup-hidup, akhirnya membunuh mereka. Burung juga memangsa mereka."

Tak hanya tumpukan kepala, Uraba Lugens ini juga memiliki bulu di sekitar tubuhnya untuk melindungi mereka dari manusia, atau hewan predator lainnya. Dan bulu tersebut juga menjadi salah satu pelindung diri Uraba Lugens. 

Ulat ini juga dinilai pandai bersosialisasi sebelum berpetualang ketika dewasa. Uraba Lugens juga memiliki cairan dengan bau yang menyengat ketika diserang. Cairan ini berwarna hijau yang dapat membuat musuhnya menghindari mereka.

Dalam hal fitur dan bakat Uraba Lugens, mereka mencapai puncaknya saat masih muda. Sayangnya, tidak ada yang istimewa dari mereka saat menjadi ngengat.

"Mereka hanya ngengat berwarna coklat kecil yang tidak mencolok", dengan warna kontras yang membantu mereka menyatu dengan batang pohon eukaliptus, kata Henderson.

Uraba Lugens Dikenal Sebagai Skeletoniser

Ulat grayak tentara


Uraba Lugens ini juga kerap disebut dengan "gum-leaf skeletoniser", yang merupakan hama bagi pohon eukaliptus. Akhirnya pohon tak dapat tumbuh dengan baik akibat adanya hama. 

Ulat Uraba Lugens ini akhirnya muncul di Selandia Baru pada tahun 1992, ketika mereka mulai menanam pohon eukaliptus. 

Karena Uraba Lugens bukan bagian dari ekologi alam negara itu, oleh karenanya kekurangan predator yang akan mengendalikan mereka. Rimbawan Selandia Baru telah membiakkan tawon yang menyerang Uraba Lugens sebagai parasit pada ulat untuk mengendalikan kerusakan tanaman senilai sekitar $ 30 juta per tahun.












Sumber : liputan 6

No comments

Powered by Blogger.