UNJUK Rasa di Kantor Bupati Asahan, Puluhan Keluarga TKI Ilegal Jebol Pagar, Sempat Blokir Jalinsum

 

Aksi unjuk rasa puluhan keluarga TKI ilegal ke kantor Bupati Asahan pada Selasa (18/8/2020) sekitar pukul 12.30 WIB sempat memanas. Kedatangan massa yang tiba di depan halaman kantor bupati, dihalau oleh sejumlah petugas Satpol PP Pemkab Asahan yang sebelumnya telah menutup pintu pagar.

Merasa penyampaian aspirasinya dihalangi oleh personel Satpol PP, membuat aksi dorong pagar tak terelakkan hingga membuat pintu pagar yang terbuat dari besi jebol.

Tak sampai disitu, massa pun turut menutup badan jalan di depan kantor Bupati Asahan, sebagai bentuk kekecewaan pengunjuk rasa tidak diperbolehkan memasuki komplek kantor milik Pemkab Asahan tersebut. Akibatnya arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman (Jalinsum) Kisaran sempat terhambat.

Aksi itu berhasil diatasi, setelah polisi dengan sigap meminta kepada pengunjuk rasa agar membuka badan jalan yang mereka blokir.

Koordinator Aksi, Indra Ringo mengatakan bahwa kedatangan mereka ke kantor Bupati Asahan hanya ingin mempertanyakan nasib keluarga mereka yang terlantar di Malaysia kepada Bupati Asahan, Surya, akan tetapi justru mendapat halauan dari petugas.

"Kami hanya menuntut pemulangan keluarga kami. Kalau pun Pemkab Asahan tidak sanggup, kami minta surat pernyataan kalau mereka tidak sanggup," kata Indra, Selasa.

Menurutnya, aksi ke kantor Bupati Asahan ini merupakan yang kedua kalinya, untuk meminta kejelasan jadwal pemulangan keluarga dan rekan mereka yang sampai saat ini masih berada di Malaysia. Padahal ada ratusan orang sebelumnya telah terdata untuk dipulangkan.

"Kami meminta pertanggungjawabkan Bupati Asahan, karena pihak Pemkab Asahan ada menghubungi saya untuk mendata warga Asahan yang ada di sana (Malaysia). Saya tanya saat itu seberapa banyak? Kata mereka sebanyak-banyaknya. Sehingga terdata ada 1.215 orang TKI yang terdata, tapi faktanya hanya 203 orang yang dipulangkan," jelasnya.

Kini warga Asahan yang berada di Malaysia, terpaksa harus bersembunyi hingga ke hutan, demi menghindari razia dari Polisi Diraja Malaysia.

Sebab, mayoritas mereka yang terdata itu, bekerja di negeri jiran tersebut tanpa memiliki dokumen yang lengkap.

"Dijanjikan bakal ada tahap selanjutnya. Tapi sampai sekarang tak juga dipulangkan. Sekarang kawan-kawan yang sudah terdaftar ini, ada yang sampai bunuh diri, ada yang kritis, bahkan ada yang bersembunyi di hutan-hutan," sebutnya.
 

Sumber :Tribun Medan

No comments

Powered by Blogger.