Cerita Akhir Pekan: Bencana Ekologis dari Pengabaian Sungai

Menjelang musim hujan biasanya kita kembali tergelitik untuk membayangkan sungai-sungai yang tercemar karena sampah akan membuat banjir daerah di sekelilingnya saat curah hujan tinggi.

Selain itu, sungai-sungai biasanya dibersihkan menjelang musim hujan untuk mencegah banjir. Banjir sendiri termasuk bencana ekologis atau bencana lingkungan, yaitu bencana ayau kerusakan alam yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Namun kenapa bencana ekologis itu masih terus terjadi, dan benarkah sungai hanya diperhatikan menjelang atau saat musim hujan saja?

Menurut Direktur Pengendalian Pencemaran Air dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Luckmi Purwandari, permasalahan umum yang dijumpai pada beberapa sungai di Indonesia adalah banjir saat musim hujan, serta kekeringan dan pencemaran air sungai pada musim kemarau.

Ciliwung di Hari Sungai Nasional

Pemanfaatan air sungai dan badan air sungai belum dan bahkan tidak mempertimbangkan musim, apakah itu musim penghujan atau kemarau. Pemanfaatan air sungai untuk kebutuhan akan air baku air bersih dan kebutuhan air untuk proses produksi industri misalnya, serta pembuangan air limbah dan sampah ke sungai tidak mempertimbagkan musim penghujan atau kemarau.

"Yang terjadi adalah pada musim kemarau muncul pencemaran air sungai karena debit air sungai cenderung berkurang dan nyaris mendekati nol. Sehingga daya tampung beban pencemaran sungai tersebut terlampaui," terangnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 25 September 2020.

KLHK sendiri telah memiliki program dan kegiatan kegiatan untuk mendorong percepatan pemulihan dan pengendalian pencemaran sejumlah sungai, termasuk Ciliwung. Meski begitu penanganan pencemaran sungai tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab KLHK.

Penanganan sungai juga melibatkan lintas sektor dan masyarakat, serta melibatkan kerjasama pusat dan daerah, seperti Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota, Kementerian PUPR, TNI, Polri. Lalu, peran atau kontribusi apa yang bisa kita lakukan? Menurut Luckmi, peran serta masyarakat adalah kunci sukses untuk mewujudkan sungai yang bersih.

Untuk mewujudkan lingkungan dan khususnya sungai yang bersih diperlukan masyarakat yang memiliki budaya bersih terlebih dahulu. Budaya bersih bisa dilakukan masyarakat dalam mengelola sampah dan air limbah, misalnya melakukan diet sampah anorganik dan sampah organik.