Festival Ini Tuai Pro Kontra karena Tampilkan Babi yang Digemukkan Paksa


Festival 'Holy Pig' di Taiwan menuai pro kontra dari masyarakat. Pasalnya festival ini menampilkan babi-babi jumbo yang konon dipaksa makan supaya gemuk.

Festival yang melibatkan penyembelihan dan penyajian seekor hewan sebagai hidangan ada beberapa di dunia. Salah satu yang terkenal dan jadi sorotan pencinta binatang adalah festival daging anjing Yulin di China.

Di festival ini ribuan anjing akan dibunuh untuk dikonsumsi dagingnya. Masyarakat China sendiri memang ada yang terbiasa mengonsumsi daging anjing. Festival ini mendapat kecaman, terlebih usai pandemi Covid-19 merebak.

Selain festival daging anjing Yulin, ada juga festival 'Holy Pig' di Taiwan. Festival ini melibatkan babi-babi jumbo berukuran ratusan kg yang akan disembelih dan dipamerkan. Saking gemuknya, sering kali babi itu tak dapat berdiri.

Festival ini juga menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Seperti apa fakta-fakta seputar festival 'Holy Pig' yang masih berlangsung di Taiwan? detikFood merangkum informasinya dari South China Morning Post (10/9) seperti berikut:


1. Festival 'Holy Pig' khas masyarakat suku Hakka



Festival 'Holy Pig' berlangsung setiap tahun di Taiwan. Penyelenggaranya adalah masyarakat suku Hakka yang berjumlah 15% dari populasi orang Taiwan. Dalam festival ini keluarga suku Hakka berlomba-lomba memamerkan babi gemuk.

Babi dipajang dalam kondisi satu ekor utuh. Nantinya pemilik yang mempunyai babi paling gemuk akan mendapat piala sebagai hadiah. Tahun ini festival 'Holy Pig' berlangsung pada Senin (7/9) di Hsinpu Yimin Temple.

Ada 37 babi gemuk yang ditampilkan lalu disembelih. Babi-babi ini diangkut menggunakan truk. Saking beratnya babi, butuh bantuan beberapa orang untuk memapah babi-babi ini saat masuk ke dalam truk.


2. Berat babi mencapai 860 kg

Festival 'Holy Pig' kali ini menobatkan babi seberat 860 kg sebagai juaranya. Ukuran babi ini diperkirakan 3 kali lipat lebih besar dibanding rata-rata ukuran babi dewasa.

Babi lalu disembelih dan ditampilkan dengan dekorasi-dekorasi khusus. Bulunya juga sudah dicukur sampai bersih. Biasanya babi ditampilkan dalam kondisi terbalik. Lalu ada satu buah nanas utuh yang dimasukkan ke dalam mulut mereka.

Pemandangan ini begitu menyita perhatian siapapun yang melintas di depannya. Sebab tampilan babi jadi aneh. Kepalanya tetap kecil, namun badannya menggelembung besar. Apalagi posisinya terbalik.

Setelah festival 'Holy Pig' berlangsung, daging babi yang sudah dipotong-potong akan dibawa pulang oleh pemiliknya. Daging ini akan dibagikan pada teman, keluarga, atau tetangga.

Salah satu yang memelihara babi jumbo adalah keluarga Tseng Jia-yun. Butuh waktu 3 tahun untuk mereka menggemukkan babi. Hingga akhirnya babi mencapai berat 400 kg. Babi ini lalu dikurbankan atas nama nenek mereka yang berusia 86 tahun.

"Sebagai orang Hakka, saya bangga dengan budaya babi yang luhur ini. Ini layak untuk dilestarikan," kata Tseng Jia-yun. Ia mengelak segala tuduhan kekejaman hewan yang dilakukan untuk babi-babi gemuk ini.


4. Tanggapan pembela hak binatang

Untuk membuat babi-babi menjadi sangat gemuk bukanlah hal mudah. Organisasi pembela hak binatang dari Taiwan, Environment and Animal Society of Taiwan (EAST) menilai adanya praktik kekejaman di baliknya.

Lin Tai-ching selaku direktur EAST mengatakan, "Babi-babi itu sangat gemuk, bahkan mereka tak bisa berdiri." Ia menjelaskan babi sering kali dipaksa makan supaya menjadi sangat gemuk. Selain itu, babi ditempatkan dalam kandang yang sangat kecil sehingga membuat mereka tersiksa dan tak bisa bangun.

Sudah selama 15 tahun terakhir Lin mendokumentasikan festival ini. Ia menilai mulai ada perubahan sikap terhadap festival 'Holy Pig' sekarang ini. "Lima belas tahun lalu ada 100 babi gemuk di sini, dibandingkan tahun ini yang hanya 37," jelasnya.

Ia mewakili organisasi yang membela hak-hak binatang mengatakan tak melarang adanya festival mengorbankan babi seperti ini. "Kami tidak melawan adanya kurban babi, tapi kami melawan kompetisi berdasarkan berat badan binatang," tegasnya.


5. Festival 'Holy Pig' adalah fenomena baru-baru ini

Peneliti dan orang asli suku Hakka mengatakan festival ini sudah ada sejak beberapa abad lalu, tapi tradisi mengorbankan babi gemuk lebih kepada fenomena baru. Seperti diketahui, suku Hakka adalah salah satu dari banyak kelompok etnis dari daratan China yang menetap di Taiwan selama beberapa ratus tahun terakhir.

Tiap musim panas, Hsinpu Yimin Temple memperingati sekelompok orang-orang Hakka yang tewas karena mempertahankan desa mereka dari pergolakan politik di akhir abad 18. Namun selama pendudukan kolonial Jepang di Taiwan pada abad ke-20, pengorbanan babi yang digemukkan menjadi bagian baru dari perayaan itu.

Kebiasaan itu kemudian menjadi jamak pada tahun 1980-an. Dan pada tahun 1990-an, ukuran babi semakin gemuk dan besar-besar. "Untuk menghormati leluhur kami yang meninggal karena membela tanah air kami, sebagai bentuk kesetiaan dan persaudaraan," kata Tseng soal filosofi di balik festival 'Holy Pig' ini.





Sumber : detik.com

No comments

Powered by Blogger.