Inspiratif, TKW asal Sukabumi Ini Menjadi Penulis Buku Di taiwan




Triana (35) perempuan dari Kampung Kuta Mekar RT 01/10, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ini telah menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Negara Taiwan.

Perempuan kelahiran 1985 itu menjadi seorang TWK di Taiwan sudah sekitar 4 tahun.

Ia bekerja di sebuah panti yang mengurus para jompo.

Namun, meskipun menjadi seorang TKW, ternyata, disana ia berhasil membuat satu prestasi yang membanggakan Indonesia.

Wanita lulusan SMP itu berhasil membuat berbagai karangan buku di Taiwan.

"Saya disini sejak 2016, sekitar tahun 2018 saya mulai belajar nulis," kata Triana kepada Tribunjabar.id melalui sambungan telepon, Jumat (12/6/2020).

Ia menceritakan, pertama kali dirinya menjadi seorang penulis, karena merasa sedih ketika mendengar para pekerja migran selalu dianggap rendah di masyarakat.

"Keadaan, karena saya bekerja sebagai pekerja migran yang mayoritas dinilai oleh masyarakat kita sendiri sangat rendah. Meskipun pekerjaan sebagai pekerjaan migran di luar negeri itu berbeda beda, katakan di rumah sakit atau pabrik, yang memang berbeda dengan pekerja rumahan tapi tetap saja nilai pekerja migran di masyarakat sangat kurang baik," ucap Triana menceritakan awal dirinya menulis buku.

"Karena saya disini punya jadwal libur, bisa berbaur dengan orang lokal dan teman-teman dari Indonesia sendiri saya banyak menemukan sesuatu yang baru, banyak dari teman-teman pekerja migran yang menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang positif, menuntut ilmu, ada yang sekolah lagi, kuliah lagi, kursus, sehingga banyak dari mereka yang mengembangkan bakatnya disini dalam keadaan terbatas membuat saya terinspirasi, alangkah senangnya jika bisa seperti mereka bukan hanya bekerja tetapi juga mengembangkan bakat atau hobi kita," ungkapnya.

Selain itu, ia mengaku sudah punya hobi menulis sejak dulu ia di bangku sekolah. Dulu, ia rajin menulis puisi, novel ataupun cerpen.

"Karena saya memang suka nulis-nulis meskipun asal tulis tapi saya sangat menyukai puisi novel dari dulu. Dan di sini saya mengenal, bertemu dengan dua orang pekerja migran yang kebetulan mereka telah menerbitkan sebuah novel juga," ujarnya.

"Kemudian saya mulai ikut-ikut kelas kepenulisan online dengan teman-teman Indonesia yang berbayar dan yang gratis, sehingga dari sana kecintaan saya terhadap kata-kata bertambah banyak, mulai mengikuti event perlombaan menulis dengan berbagai genre, dari puisi, cerpen dan artikel non fiksi juga fiksi, semua saya coba," tuturnya.

Triana mengaku, ia lebih menyukai artikel fiksi. Berkat keuletannya dalam menulis, dalam setiap perlombaan yang diikutinya.

Sebagai penulis pemula, ia selalu berhasil masuk 10 besar dari ratusan peserta yang mengikuti perlombaan.

"Meskipun sebenarnya saya lebih menyukai fiksi dan alhamdulillah tahun-tahun pertama kedua, saya lagi aktif-aktifnya ikut kelas kepenulisan, setiap ikut lomba selalu masuk kontributor, tulisan saya selalu terpilih, minimal 10 terbaik dari beratus-ratus yang ikut," terangnya.

Berkat keberhasilannya yang selalu masuk 10 terbaik di setiap event, membuat ia semakin terpacu untuk membuat buku karangan sendiri, serta dapat diterbitkan dan dibaca oleh orang banyak.

"Jadi ini salah satu yang membuat saya semakin tertarik untuk membuat buku, karena saya pikir saya pasti bisa. Ditambah setiap ikut kelas menulis yang berbayar dari sekian yang ikut, saya selalu merasa tidak percaya diri ketika setiap kali mentor mengatakan bahwa latar belakang pendidikan dan pekerjaan menjadi poin lebih untuk seorang penulis," katanya.

Ia juga menceritakan, bahwa dari sekian banyaknya peserta di setiap kelas yang ia ikuti, hanya dirinya yang mengikuti kelas dari luar negeri berstatus pekerja.

"Dan setiap ikut kelas-kelas itu dari sekian peserta, hanya saya yang berada di luar negeri dengan status bekerja. Tapi beberapa mentor mengatakan bahwa ini salah satu kelebihan yang bisa kita tonjolkan, untuk membiarkan orang tahu siapa dan bagaimana sebenarnya kehidupan orang-orang di luar negeri yang berstatus sebagai pekerja itu," paparnya.

"Ada banyak orang sini yang memberi kesempatan, memberi peluang untuk kami yang gemar menulis dan membaca. Membuka perpus berjalan, menyedikan perpustakaan di tempat yang banyak dan sering didatangi pekerja migran Indonesia. Ini juga menjadi salah satu inspirasi bagi saya melihat mereka yang benar-benar bersemangat untuk memberi kesempatan bagi pekerja, khususnya dari Indonesia," ucapnya.

Ia menyebutkan, buku pertama yang ia buat dan berhasil terbit di salah satu penerbit Kaifa Publishing di Bandung. Ia mengirimkan tulisannya ke penerbit tersebut secara online.

"Sehingga akhirnya saya bertekad untuk membuat setidaknya satu buku solo dalam hidup saya, judulnya Simpanan Surga. Apalagi ketika saya semakin menyadari sepertinya memang daerah saya Sukabumi sangat minim minat dalam hal ini. Untuk dapat terbit, saya kirim tulisan saya ke penerbit secara online, setelah terbit buku langsung dikirim kesini (Taiwan)," jelasnya.

Selain buku berjudul Simpanan Surga, ia juga telah berhasilkan menerbitkan beberapa buku lain, seperti buku yang berjudul Awan, Telisik Nusantara yang menceritakan keindahan alam Indonesia, terutama Palabuhanratu tanah kelahirannya.

Bahkan, disela-sela waktu liburnya, ia juga sering menjadi mentor online dalam setiap kegiatan yang ada di Taiwan.

"Kebanyakan online sih karena waktu juga. Untuk buku pertama saya hanya satu dua dalam acara yang bareng dengan acara pentas orang Indonesia. Untuk buku kedua ini baru mulai dapat undangan bulan ini karena memang situasi corona. Tapi undangan dari organisasi lokal orang Taiwan seperti perpustakaan Taiwan," katanya.




Sumber : tribunnews.com

No comments

Powered by Blogger.