Mengenal Gempa Megathrust Pemicu Tsunami 20 Meter di Jawa



Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan soal gempa megathrust menyusul riset dari ITB yang mengatakan adanya potensi tsunami besar akibat gempa megathrust di selatan Jawa.

Tsunami 20 Meter di selatan Jawa beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan masyarakat. Tsunami dahsyat ini menyusul riset dari ITB beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Daryono mengatakan banyak orang yang salah paham mengartikan zona megathrust.

"Gempa megathrust dipahami sebagai sesuatu yang baru dan segera akan terjadi dalam waktu dekat, berkekuatan sangat besar, dan menimbulkan kerusakan dan tsunami dahsyat. Pemahaman seperti ini tentu saja kurang tepat," kata Daryono dalam keterangan resmi yang diterima yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (28/9).

Daryono menjelaskan zona megathrust sebenarnya sekadar istilah untuk menyebutkan sumber gempa tumbukan lempeng di kedalaman dangkal.

Dalam hal ini, lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng benua membentuk medan tegangan (stress) pada bidang kontak antar lempeng. Medan ini kemudian dapat bergeser secara tiba-tiba memicu gempa.

"Jika terjadi gempa, maka bagian lempeng benua yang berada di atas lempeng samudra bergerak terdorong naik (thrusting)," ujar Daryono.

Jalur subduksi lempeng umumnya sangat panjang dengan kedalaman dangkal mencakup bidang kontak antar lempeng. Dalam perkembangannya, zona subduksi diasumsikan sebagai "patahan naik yang besar", yang kini populer disebut sebagai zona megathrust.

Daryono menjelaskan zona megathrust bukanlah hal baru. Di Indonesia, zona sumber gempa ini sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia.

Zona megathrust berada di zona subduksi aktif, seperti: (1) subduksi Sunda mencakup Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba, (2) subduksi Banda, (3) subduksi Lempeng Laut Maluku, (4) subduksi Sulawesi, (5) subduksi Lempeng Laut Filipina, dan (6) subduksi Utara Papua.

"Saat ini segmen zona megathrust Indonesia sudah dapat dikenali potensinya. Seluruh aktivitas gempa yang bersumber di zona megathrust disebut sebagai gempa megathrust dan tidak selalu berkekuatan besar," ujar Daryono.

Sebagai sumber gempa, zona megathrust dapat membangkitkan gempa berbagai magnitudo dan kedalaman. Akan tetapi, Daryono mengatakan kebanyakan gempa yang terjadi di zona megathrust adalah 'gempa kecil'. Di sisi lain, Daryono tak memungkiri zona megathrust dapat memicu gempa besar.

Megathrust Selatan Jawa

Dalam buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2017 disebutkan bahwa di Samudra Hindia selatan Jawa terdapat tiga segmentasi megathrust, yaitu Segmen Jawa Timur, Segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan Segmen Banten-Selat Sunda.

"Ketiga segmen megathrust ini memiliki magnitudo tertarget M8,7.
Namun demikian, jika skenario model dibuat dengan asumsi 2 segmen megathrust yang 'bergerak' secara simultan maka magnitudo gempa yang dihasilkan bisa lebih besar dari 8,7," kata Daryono.

Akan tetapi, Daryono menjelaskan besarnya magnitudo gempa yang disampaikan tersebut adalah potensi skenario terburuk (worst case) bukan prediksi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Ia menekankan tidak ada satu pun orang yang tahu kapan terjadinya gempa.

"Untuk itu, dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi," tutur Daryono.

Daryono menjelaskan hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).

Dalam catatan sejarah, sejak tahun 1700 zona megathrust selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi aktivitas gempa besar (major earthquake) dan dahsyat (great earthquake).

Gempa besar dengan magnitudo antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi sebanyak 8 kali, yaitu: tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) dan 2009 (M7,3)

Sementara itu, gempa dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi 3 kali, yaitu tahun 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1). Daryono menekankan belum ada gempa dengan kekuatan M9,0 ke atas di selatan Jawa.

"Sedangkan untuk gempa dengan kekuatan 9,0 atau lebih besar di selatan Jawa belum tercatat dalam katalog sejarah gempa," ujar Daryono.


Tsunami Selatan Jawa

Wilayah selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi tsunami. Bukti adanya peristiwa tsunami selatan Jawa dapat dijumpai dalam katalog tsunami Indonesia BMKG. Dalam katalog itu, tsunami pernah terjadi diantaranya tahun 1840, 1859, 1921, 1921, 1994, dan 2006.

Selain data tersebut, hasil penelitian paleotsunami juga mengonfirmasi adanya jejak tsunami yang berulang terjadi di selatan Jawa di masa lalu.

Lebih lanjut, Daryono mengatakan intensitas tinggi gempa dan tsunami zona selatan Jawa adalah risiko yang harus dihadapi oleh masyarakat yang tinggal dan menumpang hidup di pertemuan batas lempeng tektonik.

Akan tetapi, Daryono mengatakan masyarakat yang hidup di dekat megathrust tidak perlu takut apabila telah mewujudkan upaya mitigasi.

Sehingga kita masih dapat hidup aman dan nyaman di daerah rawan bencana," tutur Daryono.





Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.