Pengakuan Mengejutkan Eks Ketua Yakuza di Jepang, Mulai dari Budaya Kebersihan Hingga Potong Jari

Yakuza adalah salah satu profesi yang begitu populer di Jepang zaman dulu. Meski hingga sekarang masih eksis, namun jumlahnya perlahan mulai habis. Karena lekat dengan hal-hal berbau kekerasan, Yakuza sendiri kerap mendapatkan imej negatif dari publik.

Baru-baru ini, seorang eks ketua Yakuza bernama Yuyama muncul ke hadapan publik untuk melakukan interview eksklusif di channel Youtube Nobita From Japan. Pria yang menjabat sebagai ketua selama 10 tahun itu buka-bukaan mengenai banyak fakta mengejutkan seputar dunia Yakuza yang selama ini tak diketahui orang banyak.

"Aku bekerja sebagai tukang kayu sejak SMP. Ketika umur 18 aku kena serangan jantung dan punggungku patah, jadi aku tak bisa kerja sebagai tukang kayu lagi. Jadi waktu itu aku bekerja sebagai pengelola keuangan di sebuah toko yang dioperasikan oleh ketua Yakuza. Sebelumnya aku pernah gabung geng motor dan sering bertengkar. Sementara itu, ketua dari Yakuza tersebut adalah sosok yang terkenal karena kekerasannya di daerah Fukuoka. Aku join Yakuza karena aku mengidolakannya," ungkap Yuyama dalam pengenalannya, seperti dilansir dari channel Youtube Nobita From Japan.


1. Tugas Seorang Bawahan




Selama ini mungkin orang-orang melihat Yakuza itu sebagai sosok preman yang kaya raya dan juga punya banyak wanita. Meski tak sepenuhnya salah, namun hal-hal tersebut hanya bisa didapatkan oleh para bos, bukan bawahan. Dan para bawahan itu ternyata belajar mengenai tata krama dan etika juga loh.

"Dasarnya, kita memulai sebagai bawahan, jadi kita harus mengikuti orang lain untuk belajar tentang etika dan tata krama. Contohnya, ada cara yang benar untuk memegang baki. Kita belajar cara menaruh teh, di mana menaruh handuk basah, melipatnya dan lain-lain," ungkap Yuyama.


2. Kebersihan Adalah Syarat Utama

Yakuza mungkin juga selalu terlihat kasar, urakan dan kotor. Dan lagi-lagi hal itu salah. Malah sebaliknya, mereka sangat mengutamakan kebersihan di atas segalanya karena hal itu juga bisa memberi penilaian tersendiri pada geng mereka.

"Dunia Yakuza itu harus benar-benar bersih. Toiletnya juga harus super bersih juga. Contohnya misal ada Yakuza lain yang mengunjungi kita dan mereka lihat toilet kita, mereka bisa menilai Yakuza macam apa kita ini. Mereka akan berpikir bisa mengalahkan kita," ungkapnya.


3. Budaya Potong Jari



Salah satu budaya yang menarik untuk dibahas seputar dunia Yakuza adalah hukuman potong jari (Yubitsume) bagi yang melanggar peraturan. Padahal sejatinya hal itu bukanlah sebuah peraturan tertulis yang dijatuhkan pada seorang anggotanya.

"Tidak ada aturan khusus yang mengharuskanmu untuk memotong jari karena melakukan sesuatu. Contohnya, aku dulu memotong jari kelingking kiriku karena sebuah alasan. Waktu itu, ada bos yang sungguh aku idolakan. Satu hari, aku berbohong padanya tentang sebuah hal kecil. Tapi karena aku sangat menyukainya, aku tidak tahan dengan fakta bahwa aku telah bohong dan mengkhianatinya. Jadi aku memotong jariku," ungkap Yuyama yang kini sudah tak punya lagi jari kelingking.

"Tapi itu hanya satu contoh saja. Contoh lainnya, ada orang yang merasa tak sanggup karena terus-terusan ditekan sebagai seorang Yakuza dan kabur karena dia tak bisa membayar kebutuhan. Lalu ketika dia kembali, dia diminta untuk bertanggung jawab. Jadi dia memotong jarinya," tambahnya.


4. Dipotong dengan Pisau Pahat

Cara melakukan Yubitsume sendiri cukup bervariasi. Kebanyakan Yakuza melakukannya menggunakan pisau pahat yang biasanya digunakan oleh seorang pengukir kayu, bukan pisau.

"Apakah kamu tau pisau pahat yang digunakan tukang kayu? Taruh jarimu seperti ini, laku letakkan pisau pahat di atasnya dan ditekan sampai jarinya putus. Setelahnya pastikan membalutnya dengan karet di jari tersebut, kalau tidak, maka akan banyak darah yang keluar. Sebenarnya rasa sakitnya bervariasi dari satu orang ke lainnya. Kalau aku sendiri memotongnya dengan caraku sendiri. Aku tidak pakai pisau pahat, tapi pisau biasa. Mungkin kalau normalnya itu akan terasa sakit, tapi karena aku punya rasa untuk tanggung jawab, aku tak merasakan sakit sama sekali," papar Yuyama.


5. Pengorbanan untuk Bos



Seorang Yakuza wajib menuruti semua perintah dari atasannya, entah itu baik atau buruk. Bahkan, mereka juga diminta untuk melindungi sang bos dengan nyawanya jika perlu.

"Contohnya jika bosmu menyuruhmu untuk membunuh seseorang, kamu bisa membunuh karena merasa punya kewajiban. Tapi kalau kamu sedang bertengkar biasa dan ingin membunuhnya, maka kamu tidak akan bisa melakukannya dengan mudah. Pesona sebagai Yakuza itu adalah rela mengorbankan tubuh kita untuk si bos," ujarnya.

6. Budaya Tato Yakuza



Hampir semua Yakuza punya tato yang beragam di sebagian tubuhnya. Bukan tanpa alasan, rupanya budaya ini sudah ada sejak zaman dahulu dan diberlakukan hingga sekarang.

"Budaya tato itu dimulai dari nelayan. Banyak nelayan yang sering dibuang ke lautan, jadi mereka tatoan supaya bisa diidentifikasi ketika mayatnya diangkat dari air. Cerita lainnya itu dimulai dari era Edo. Dulu para tahanan akan ditato dibagian lengannya ketika di dalam penjara. Nah untuk menutupi tato itu, mereka melukis tato lain di atasnya. Dan itu jadi budaya dari para Yakuza," terang pria yang kini bekerja sebagai arsitek itu.

7. Tidak Digaji

Seorang Yakuza sendiri tidak digaji secara bulanan seperti pekerja lain pada umumnya. Tiap anggotanya harus bekerja sendiri untuk bisa dapat uang, tak peduli jika pekerjaan yang dilakukan itu legal atau ilegal.

"Kita tidak digaji, tapi harus bekerja sendiri dengan backingan status Yakuza. Kita harus melakukan banyak hal untuk mendapatkan uang. Ketika pertama kali jadi Yakuza, aku cuma menyuap orang. Secara perlahan aku mulai mengerti cara kerja masyarakat, jadi aku bekerja sebagai penolong sementara di sebuah industri konstruksi. Tapi banyak dari kita yang menjual narkoba dan barang-barang curian. Aku pernah melakukan kriminal dan dipenjara selama 5 tahun," kenang pria yang sudah 2 kali masuk penjara ini.

8. Imej Negatif

Saat ini Yuyama sudah hidup normal dan bekerja sebagai seorang arsitek. Meskipun begitu, pandangan-pandangan miring masih tetap melekat padanya. Dan Yuyama pun mewajarinya.

"Label mantan napi dan juga Yakuza tak akan bisa hilang. Kita selalu dipandang rendah. Banyak sekali pandangan miring tentangku. Bagiku wajar saja jika ada anak SD, SMP, SMA atau kuliahan yang merendahkan orang seperti kita. Sungguh wajar, karena aku memang pernah melakukannya (jadi Yakuza) dan aku harus menerima itu. Tapi hal yang terpenting adalah apa yang akan kamu lakukan mulai dari sekarang," tutup Yuyama.



Sumber : kapanlagi.com

No comments

Powered by Blogger.