Sebut Corona Buatan Manusia, Ilmuwan China Ramai Dicerca




       Dr Li Men Yang telah mempublikasikan tulisan yang diklaim ilmiah, sebagai pembuktian bahwa virus Corona merupakan buatan manusia di laboratorium, bukan dari alam. Akan tetapi cercaan justru berdatangan terhadap karya tersebut.




Unusual Features of the SARS-CoV-2 Genome Suggesting Sophisticated Laboratory Modification Rather Than Natural Evolution and Delineation of Its Probable Synthetic Route, begitu judul tulisannya, yang ia buat bersama dua koleganya.

"Genom tidak biasa di SARS-CoV-2 mengindikasikan modifikasi canggih laboratorium ketimbang evolusi natural," begitu kurang lebih inti dari judul tersebut. Pada dasarnya, tulisan ini membantah virus Corona asalnya dari alam tapi merupakan modifikasi manusia di lab.

Dr Michael Head, periset kesehatan global di Universiy of Southampton bahkan menyebutnya masuk teori konspirasi. "Konspirasi khusus ini yang berkisar tentang (virus Corona) dikeluarkan secara sengaja dari sebuah laboratorium telah berentetan muncul selama pandemi," cetusnya.

Padahal di kalangan sebagian besar ilmuwan, hal itu sudah dibantah berulangkali dan diyakini COVID-19 berasal dari alam. Pada akhirnya, Dr Michael menilai menyebarnya teori semacam itu bisa merusak.

"Jika orang terpapar dan percaya pada teori konspirasi, akan cenderung punya dampak negatif pada upaya membuat kasus COVID-19 tetap rendah dan karenanya akan mengakibatkan lebih banyak kematian dan penyakit dari yang seharusnya," itu pendapatnya yang dikutip detikINET dari Yahoo News.

Dr Gkikas Magiornikis, asisten profesor epidemiologi di University of Athens menyatakan virus Corona jenis sebelumnya terbukti berasal dari hewan seperti kelelawar. "Itu membuat skenario evolusi yang muncul secara alami jauh lebih mungkin ketimbang skenario manipulasi lab," katanya.

"Faktanya, kita punya sejarah jelas wabah virus Corona mematikan dari hewan seperti SARS-CoV dan MERS-CoV. Paper dari Li Meng itu tidak menyediakan bukti yang mantap soal manipulasi, tidak ada tes statistiknya dan sangat spekulatif," tambahnya.

Sebelumnya, pakar lain juga melontarkan pendapat senada. Carl Bergstrom, ahli biologi di University of Washington menyatakan apa yang dikemukakan oleh Meng Yan tak berdasar dan aneh. Apalagi menurutnya, institut Rule of Law Society yang mendukung penelitian ini, didirikan mantan penasihat Donald Trump, Stephen Bannon, yang saat ini terlibat masalah hukum terkait pencucian uang.

"Laporan ini tidak bisa diberi kredibilitas apapun dalam bentuknya saat ini," kata Andrew Preston, pakar penyakit menular di University of Bath, Inggris, seperti dikutip detikINET dari Newsweek.

"Laporan ini tidak berdasarkan interpretasi obyektif terhadap genom SARS-CoV2. Interpretasi yang dilakukan tidak didukung oleh data, tidak berdasar, dan sebagian besar hanya dinyatakan, tidak dijelaskan," paparnya.

Meng Yan sendiri sebelumnya sudah mempublikasikan beberapa karya ilmiah, sebagian di jurnal sains terkemuka. Pada 19 Maret 2020, hasil risetnya tentang virus Corona COVID-19 masih terbit di jurnal medis Lancet berjudul Viral Dynamic in Mild and Severe Cases of COVID-19. Namun tampaknya itulah akhir dari karyanya di China.

Sumber :detik

No comments

Powered by Blogger.