Kisah Mitos Pesugihan Gunung Kawi yang Menunggu Daun Jatuh untuk Cepat Kaya, Benarkah?

Foto

Gunung Kawi merupakan daerah yang terkenal dengan kemistisannya. Area ini terletak di sebelah barat Kepanjen, tepatnya 53 km dari kota Malang. Di sini ini ada berbagai situs mulai dari pesarean, keraton, klenteng, serta tempat pemujaan situs-situs lainnya.

Daerah yang jadi favorit pelaku pesugihan ini terletak di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Malang, Jawa Timur. Konon, lelaku pesugihan di Gunung Kawi dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Para peziarah sekedar diwajibkan untuk melakukan ritual tapa brata selama tiga hari di bawah sebuah pohon keramat bernama pohon Dewandaru.

Ritual pesugihan Gunung Kawi dilakukan pada hari baik. Jika ingin mendapatkan kekayaan secara mendadak, seseorang harus melakukan ritual pesugihan pada hari Jumat Legi.

Tanggal 1 dan 2 di bulan Suro biasanya menjadi langganan para pendatang, kedua hari tersebut dipilih karena bersamaan dengan memperingati wafatnya Eyang Juga dan Eyang Sujo.


Kedua eyang tersebut adalah pembantu Pangeran Diponegoro. Mitosnya, di hari inilah keluarnya khodam (jin) pesugihan di Gunung Kawi. Sebelum tapa brata (bertapa dengan khusyuk), peziarah tersebut diwajibkan melakukan mandi suci yang dipimpin langsung oleh guru kunci.

Ketika melakukan ritual ini si pemuja harus melakukan kontrak mati atau perjanjian dengan penguasa gaib Gunung Kawi. Nah tumbalnya bukan main-main, setidaknya si pemuja harus memberikan tumbal nyawa setiap tahunnya.

Tata cara berikutnya, selepas mandi pelaku pesugihan harus duduk bersila di atas selembar daun pisang. Ia tidak boleh makan, minum, dan tidur selama 3 hari. Mereka juga  harus melakukan semua kegiatan di atas daun pisang tersebut.

Tapa brata dihentikan saat selembar daun dari Pohon Dewandaru gugur dengan sendirinya, dan yang terpenting daun tersebut harus jatuh tepat di tubuh si pelaku. Kalau sudah begitu artinya sang penguasa ghaib yang menunggu pohon dewandaru telah menyetujui untuk memberikan kekayaan kepada si pemuja.