Merawat Warisan Budaya Indonesia di Tengah Pandemi


Pandemi Covid-19 yang melanda saat ini membuat berbagai kondisi perekonomian Indonesia babak belur. Seperti diberitakan Kompas.com (5/8/2020), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 minus hingga 5,32 persen. Di antara berbagai sektor yang terdampak, pariwisata dan ekonomi kreatif menanggung kerugian paling besar. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai Rp 85,7 triliun hingga April 2020. Dampak pandemi Covid-19 juga turut dirasakan oleh para seniman tenun di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Banyak di antara mereka yang kehilangan pendapatan karena jumlah turis turun drastis. Padahal, tuntutan kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Menyikapi situasi tersebut, salah satu pemerhati tenun Indonesia, Yonathan Hani, menggagas sebuah gerakan sosial bertajuk “Kayaka Humba”. Nama ini berasal dari teriakan khas orang Sumba yang memberikan semangat bagi sesama, baik dalam keadaan suka maupun duka. Kayaka Humba bertujuan untuk membantu para seniman tenun Sumba memperoleh pendapatan di tengah pandemi Covid-19. Jadi, orang yang tergabung dengan gerakan ini akan memberikan jasa pemotretan kain tenun gratis dan membantu pemasarannya melalui platform Instagram. 

Selain itu, mereka juga membantu mengemas produk agar lebih menarik dan informatif. Hal ini bertujuan untuk menarik perhatian sekaligus memberikan edukasi kepada calon pembeli tentang kain tenun dan penciptanya. Wisata tematik berbasis budaya Mengusung semangat yang sama dengan Kayaka Humba, platform pemesanan paket wisata online, Traval.co, bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuat program wisata virtual bertajuk “Virtual Heritage”.

Program tersebut akan mengangkat wisata tematik berbasis budaya dan wisata berbasis komunitas di delapan titik, mulai dari wilayah barat hingga timur. Selain itu, program Virtual Heritage akan mengangkat para komunitas tersebut sebagai local heroes dalam pelestarian dan pengembangan budaya di daerahnya masing-masing.

Virtual Heritage bertujuan agar destinasi wisata yang dikelola komunitas-komunitas lokal lebih dikenal secara umum dan menjadi alternatif wisata di tengah pandemi. Harapannya, program ini dapat menjadi ajang berbagi inspirasi antar komunitas agar dapat membangun dan melestarikan budaya di daerahnya masing-masing. Adapun beberapa komunitas yang terlibat dalam Virtual Heritage adalah Lakoat Kujawas di Timor Tengah Selatan, Kayaka Humba di Sumba Timur, Hetika di Bangka Barat, Jabu Sihol di Pematang Siantar, Rumah Cinta Wayang di Depok, Kesengsem Lasem di Rembang, Lepo Lorun di Maumere, dan Pulau Penyengat Kite di Tanjung Pinang. 

Selain itu, program tersebut akan menghadirkan beberapa pesohor, seperti Didiet Maulana, Rara Sekar, Richard Kyle, Asyifa Latief, Kartika Dewi, dan Andien. Traval.co Virtual Heritage akan berlangsung pada 26 September-18 Oktober 2020 secara daring. Dengan mengikuti acara ini, Anda berkesempatan untuk menjelajahi dan mempelajari ragam budaya Indonesia dengan nyaman di rumah. Selain mengikuti tur virtual, Anda bisa turut berpartisipasi untuk melestarikan budaya lokal lewat penggalangan dana yang akan berlangsung di setiap rangkaian acara. Anda juga bisa membeli suvenir khas dari setiap daerah, seperti kain tenun dari Humba atau kain batik dari Kesengsem Lasem.





Sumber : kompas.com

No comments

Powered by Blogger.