Orangtua Anggap Anak Jadi Pemarah Usai Main Gim, Ini Solusinya


Penelitian Kaspersky menyebut, empat dari 10 orangtua di Asia Tenggara percaya, anak mereka menjadi lebih pemarah gara-gara main gim.

Penelitian berjudul "More Connected Than Before: How We Build Our Digital Comfort Zones" ini meneliti 760 responden dari Asia Tenggara. Penelitian ini mengkonfirmasi, anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk online karena pandemi.

63 persen orangtua yang disurvei setuju bahwa saat pandemi anak mereka memang lebih sering online. Hanya 20 persen yang membantah pengamatan ini.

Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky Stephan Neumeier mengatakan, saat ini orangtua membesarkan anak-anak digital natives, atau mereka yang lahir dengan perangkat digital dan internet.

Kesenjangan generasi ini menyebabkan miskomunikasi dan skenario ini umum terjadi ketika seorang anak mengetahui lebih banyak tren online dibandingkan ibu atau ayah.

"Masa PSBB yang terjadi menyoroti hal ini dengan meningkatnya ketergantungan pada internet dan bagaimana orangtua perlu mengatur waktu bekerja sekaligus parenting di saat yang sama, di rumah mereka," kata Neumeier, dikutip dari keterangan Kaspersky, Selasa (13/10/2020).

"Ketakutan orangtua terkait video gim kadang cukup objektif dan terkadang juga berlebihan," kata dia.

Lebih lanjut, Neumeier menyebut, ada beberapa bahaya yang tidak dapat disangkal. Namun sejumlah penelitian juga menyebut, bermain gim online bisa memiliki manfaat bagi anak-anak.

"Pada dasarnya semuanya akan memiliki manfaat asal moderasi dan bimbingan tetap diterapkan," kata Neumeier.


Masalah dan Solusi untuk Anak yang Main Gim


Berikut adalah identifikasi masalah terkait video gim dan solusi bagi orangtua.

1. Takut merasa terasing akibat anak dilarang main gim

Orangtua bimbang memperbolehkan anak bermain atau tidak. Pasalnya jika tidak dibolehkan main gim, anak akan terasing dan dikucilkan.

Solusi yang bisa dilakukan adalah, orangtua tidak boleh melarang anak main gim, namun harus mengontrolnya. Pakai perangkat lunak dan pengaturan untuk memberikan batasan. Hal ini juga perlu dibarengi dengan komunikasi tentang aturan-aturan saat bermain.

2. Takut gim bahayakan penglihatan

Orangtua khawatir main gim berlebihan bisa membuat mata rusak.

Solusi yang bisa dilakukan, orangtua memasang monitor yang baik dan mampu meringankan masalah penglihatan. Selain itu, selalu ingatkan posisi yang nyaman saat duduk di depan komputer atau laptop.

Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah membatasi waktu bermain dengan membuat kesepakatan bersama dengan anak. Pembatasan bisa dilakukan dengan software Kaspersky Safe Kids atau pengaturan perangkat internal.

3. Takut Virus di Komputer

Pengembang gim Fortnite menuntut anak berusia 14 tahun karena berbuat curang. (Doc: Epic Games)

Beberapa orangtua khawatir akan adanya malware di gim online. Orangtua patut khawatir karena memang benar, aktivitas peretas meningkat di tengah pandemi Covid-19, dengan berbagai modusnya.

Solusinya, jelaskan ke anak apa itu malware dan bahayanya. Orangtua perlu menjelaskan ke anak bahayanya pembajakan. Selain itu, pergunakan antivirus untuk melindungi perangkat dari malware.

4. Takut Anak Agresif karena Gim

Pemandangan balita memainkan gim (game) di gawai kini merupakan pemandangan biasa kita temui.

Orangtua yang tidak mahir main gim berpikiran, anak-anak bisa menjadi agresif gara-gara gim kekerasan. Oleh karenanya orangtua melarang anak main gim.

Padahal, perilaku agresif tidak didorong oleh gim yang mereka mainkan, tetapi karena alasan yang lebih luas.

Solusinya, orangtua perlu mempertimbangkan peringkat usia atau rating gim jadi gim bisa dimainkan sesuai usia anak.

Untuk mencegah anak membuka gim yang tak sesuai usianya, gunakan software untuk membatasi kemampuan peluncuran gim atau konten yang didasarkan pada peringkat usia. Jangan lupa untuk memberi penjelasan kepada anak mengenai tindakan ini.

Terpenting, bukan melarang anak main gim tetapi menjaga mereka tetap aman. Untuk itu, orangtua perlu berkomunikasi, menerapkan rating, beri batasan waktu, melindungi anak dari malware, memberlakukan pengaturan yang membatasi pembelian aplikasi, serta mendorong anak punya hobi di dunia nyata.



Sumber : liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.