Siap Menderita, Resep Kejayaan Barcelona Bakal Sulit Terwujud Lagi


Krisis tanpa ampun yang menimpa raksasa LaLiga Spanyol, Barcelona, membuat klub harus bersiap menghadapi kenyataan terburuk, yakni kehilangan kejayaan turun-temurun.

Barcelona kembali terguncang. Pihak manajemen kembali berencana memotong gaji pemain dan karyawannya hingga 70 persen di tahun 2020 ini.

Padahal langkah ekstrem ini sudah mereka lakukan di puncak pandemi beberapa bulan lalu. Di saat klub-klub raksasa lain mulai membaik, Barcelona justru makin terpuruk.

Laporan keuangan menunjukkan klub Catalan itu mengalami kerugian dengan jumlah yang fantastis yakni 97 juta euro atau Rp1,68 triliun dengan beban utang sebesar 488 juta euro (Rp8,4 triliun). 

Kepemimpinan Josep Maria Bartomeu dalam sorotan tajam. Untuk pertama kalinya dalam berdekade-dekade, Barcelona di titik nadir dalam hal pengelolaan klub.

Hal ini jelas berdampak kepada para pemain bintang di dalamnya. Dengan adanya pemotongan gaji ini, sesuai dengan Statuta Pekerja Spanyol, para pemain dan karyawan Barcelona termasuk Lionel Messi bisa melakukan pemutusan kontrak tanpa adanya hukuman.


Klub yang Tahu Bagaimana Meraih Sukses 

Barcelona selama bertahun-tahun dikenal sebagai klub elite di Spanyol dan Eropa. Sebanyak 26 gelar La Liga, 30 Copa del Rey, 13 Super Spanyol, 5 Liga Champions, sampai 3 Piala Dunia Antarklub berhasil mereka kantongi.

Barca memegang rekor trofi domestik terbanyak di Spanyol, yakni 74 trofi. Hal tersebut jadi bukti bahwa mereka adalah klub yang tahu bagaimana meraih kesuksesan.

Salah satu kunci kesuksesan mereka tak lain adalah kemampuan untuk meregenerasi tim dengan pemain-pemain bintang kelas dunia baik itu dengan membeli maupun mencetaknya.

Puncak cerita kesuksesan Barca bisa dimulai dari ketika Johan Cruyff datang sebagai pelatih di Camp Nou. Saat Cruyff datang sebagai pelatih, Barca telah memiliki reputasi sebagai klub besar.

Namun di tangan legenda terbesar Belanda itu, Barcelona dibawa ke level yang berbeda. Meski begitu, Cruyff diwarisi tim Barcelona yang tengah kurang baik saat datang pada 1988. Perpecahan terjadi di dalam tim aantarpemain dengan petinggi klub. Akhirnya, pada tahun 1988, Cruyff mendepak 13 pemain sekaligus termasuk bintang-bintang senior mereka kala itu Schuster, Victor, Manolo, Cristobal, dan Moratalla.

Bahkan, setahun kemudian Gary Lineker juga ikut didepak karena tak masuk rencana Cruyff. Setelah itu, Cruyff membangun tim dengan darah-darah muda sesuai yang ia mau seperti Bakero, Begiristain, Eusebio, dan tentu saja Ronald Koeman.

Hasilnya? Barcelona meraih masa kejayaan dengan merebut tiga gelar LaLiga beruntun dan Liga Champions Eropa 1992.

Kesuksesan ini pun terus dilanjutkan Barca meski tanpa Cruyff. Setelah Real Madrid sempat mengambil alih, Barca bangkit dengan mendatangkan pemain kelas dunia seperti Ronaldo dan Rivaldo.  
Mereka pun mampu menguasai LaLiga di akhir 90-an. Setelah kepergian dua sosok tersebut, Barcelona sempat beberapa tahun tanpa gelar prestisius.

Namun, mereka tak mau berlama-lama. Blaugrana mendatangkan seorang megabintang dunia bernama Ronaldinho. Bersama Ronaldinho, Barcelona kembali ke puncak sepak bola Spanyol dan bahkan Eropa.

Di bawah Frank Rijkaard, Barca meraih kejayaan penting setelah era Cruyff. Selain resep untuk mendatangkan pemain terbaik dunia tiap generasinya, Barca juga tak lupa mencetak bintang-bintang dari akademi LaMasia seperti Andres Iniesta dan Xavi Hernandez.

Akademi ini pula yang mempromosikan pemain sepak bola terbaik yang pernah ada di dunia, yakni Lionel Messi. Pemain berbakat asal Argentina itu langsung melanjutkan kejayaan Barcelona warisan Ronaldinho.

Barcelona pun tanpa henti selama satu setengah dekade untuk merebut trofi, baik itu domestik maupun Eropa. Dari era Guaridola sampai Luis Enrique.

Barca kembali mengulangi resep kesuksesan itu dengan membeli pemain terbaik Brasil, Neymar Jr. Sayang, Neymar cuma bertahan beberapa musim. Setelah itu, rekrutan anyar Barcelona bisa dibilang tak maksimal bahkan cenderung gagal. Dan kini, resep kesuksesan Barcelona perlahan mulai tak mujarab lagi.

Barcelona mulai ketar-ketir ketika mereka mengakhiri musim 2019-2020 tanpa trofi. Bintang-bintang mahal seperti Antoin Griezmann dan Philippe Coutinho belum memberikan dampak signifikan. Tekanan diperparah dengan Lionel Messi yang ingin meninggalkan klub di usia 33 tahun.

Namun di atas semua itu, masalah manajemen dan krisis finansial menjadi ancaman terbesar bagi Barcelona untuk melanjutkan tradisi kejayaan mereka.



Krisis Besar di Tahun 2021 dan Transisi Barca Nampaknya krisis takkan pergi dalam waktu dekat dari raksasa LaLiga Spanyol, Barcelona. Di tengah kacaunya kubu internal Blaugrana, tim asal Catalan ini dihadapkan pada situasi pelik di mana para pemainnya berpotensi hengkang secara gratis pada 2021. 

Setali tiga uang, buruknya kondisi finansial Barcelona dibarengi dengan carut marut di internal klub. Bahkan situasi ini sempat membuat sang megabintang, Lionel Messi berniat hengkang.

Kegagalan di lapangan dan kekacauan di internal klub membuat situasi Barcelona kini tak menentu. Namun kondisi saat ini tak cukup buruk jika menilik kemungkinan pada tahun depan atau 2021. 

Dilansir dari Football Espana, pada tahun 2021 nanti, Barcelona dihadapkan pada  krisis baru di mana para pemainnya bisa memutuskan kontraknya dengan pihak klub jika Blaugrana tetap melakukan  pemotongan gaji. 

Josep Maria Bartomeu diyakini bakal lengser lebih cepat setelah mosi tak percaya telah mencapai 16 ribu dukungan. Dengan kerugian 97 juta euro  (Rp1,68 triliun) dan beban utang sebesar 488 juta euro (Rp8,4 triliun), Barca jauh lebih buruk dari ketiak Cruyff mengambil alih.

Saat ini sulit bagi Barcelona untuk mewujudkan resep rahasia kesuksesan mereka di masa lalu. Untuk membeli pemain terbaik dunia, Barcelona tidak mampu. Mencetak pemain seperti Xavi dan Iniesta membutuhkan waktu lama mengingat LaMasia kini tak sebaik dahulu.

Sedangkan berharap pada sosok baru seperti Lionel Messi bisa dibilang adalah kemustahilan, sebab pemain seperti Messi hanya muncul dalam 50-100 tahun sekali, atau bahkan tidak pernah akan ada lagi.  
Suka tidak suka, Barcelona harus menjalani masa transisi. Mereka harus terbiasa untuk mengerem pembelian. Bermain dengan pemain kelas dua dan mungkin berkompetisi di Liga Europa. 


Tentu saja masa transisi hanya sementara. Bisa tiga tahun, lima tahun, atau 10 tahun. Namun yang jelas, mengulangi kejayaan di era estafet Ronaldinho dan Lionel Messi bisa berakhir sebagai sebuah mitos di Barcelona. 




Sumber : indosport.com

No comments

Powered by Blogger.