12 Calon TKI Ilegal Direkrut Lewat Medsos, Dijanjikan Gaji Rp6 Juta Sebulan


 

     Polda Kepri berhasil mengamankan 12 orang calon tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal, yang ditampung di Perum Cipta Emerald Batam Centre Kota Batam. Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi yang diberikan oleh masyarakat bahwa adanya tempat penampungan TKI ilegal di lokasi.




"Informasi ini selanjutnya ditindaklanjuti dengan penyelidikan. Hingga akhirnya diketahui bahwa benar di tempat tersebut ditemukan 2 orang perempuan calon pekerja migran Indonesia ilegal dan 1 orang pengurusnya yang berinisial SC," ujar Wadirreskrimum Polda Kepri, AKBP Ruslan Abdul Rasyid di Mapolda Kepri, Batam, Selasa (3/11/2020). 

Selanjutnya dilakukan pengembangan dan pada pukul 17.00 WIB, Tim Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri berhasil menemukan 10 orang perempuan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) Ilegal yang ditampung di Perum Muka Kuning Paradise, Sagulung, Kota Batam beserta 1 orang pengurusnya berinisial FA.

"Modus operandi yang dilakukan oleh terduga tersangka yaitu, pelaku merekrut korban dari daerah asalnya melalui media sosial Facebook (FB) dengan akun @lowongan kerja batam untuk dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (art) di Singapura dan Dubai dengan iming-iming gaji sebesar Rp6 juta per bulan," ungkapnya.

Terungkap juga bahwa aksi ini sudah dilakukan tersangka selama 2 tahun. Tersangka inisial FA berperan sebagai pengurus pekerja migran. Sedangkan tersangka inisial DW berperan sebagai perekrut dan penampung TKI ilegal ini.

"Sementara tersangka inisial SC yang berperan sebagai perekrut pekerja migran," katanya.

Adapun barang bukti yang telah diamankan yakni 4 unit handphone, 8 lembar surat peryataan bermaterai 6.000, 9 buku paspor, 1 rangkap akta perseroan komanditer CV Aura Ria Batam, 5 lembar dokumen perijinan CV Aura Ria Batam, 1 rangkap dokumen certificate EA TRUST, 4 rangkap dokumen hasil MCU + CD RD, 1 rangkap dokumen hasil PCR SWAB an. Risa Rusita yang diterbitkan Klinik Medilab tanggal 26 Oktober 2020.

"Juga ada 4 lembar dokumen surat hasil rapid test COVID-19, 1 buku cacatan warna cokelat gambar batik, 1 buku catatan warna ungu, 1 pakaian kaos warna merah dan 1 set pakaian kaos warna merah biru dan merah," katanya. 

Ditegaskannya bahwa para tersangka ini telah melanggar Pasal 81 Undang Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. "Ancamannya paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar," tegasnya. 

Sumber :okezone

No comments

Powered by Blogger.