5 Fakta Unik Batu Meteor Rp200 Juta Jatuh di Tapanuli


Joshua Hutagalung (34) mendapat Rp200 juta usai menjual batu meteor yang jatuh menimpa rumahnya di Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 1 Agustus 2020.

Peristiwa sangat langka itu sontak membuat heboh warga Indonesia. Penemuan batu meteor di Tapanuli ini juga menjadi pemberitaan media internasional. Berikut beberapa fakta soal batu meteor yang akhirnya dibeli oleh warga Amerika Serikat (AS) tersebut.

Meteor Jenis Kondrit CM 1-2

Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) menyebut meteor yang jatuh di Tapanuli adalah meteorit kondrit CM 1-2. Batu meteor itu mengandung sekitar 20 persen besi dan 25 persen silikat (seperti kaca/pasir). Kandungan logam mulia atau logam tanah sangat kecil ditemukan pada jenis meteorit itu.

Secara material, menurut LAPAN meteor itu bisa kurang bernilai. Namun, meteor tipe kondrit belum terdiferensiasi seperti batuan-batuan di bumi.

"Dengan kata lain, masih ada indikasi bahwa meteor tersebut masih menyimpan informasi tentang masa lalu tata surya. Inilah yang membuat meteor ini bernilai dari perspektif ilmiah," ujar Peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, Rhorom tidak mengelak ada beberapa jenis meteor yang hampir sama dengan batuan di Bumi. Tapi, secara mikroskopis ada indikasi struktur kristal dan sebagiannya yang berbeda.

Total 60 ribu Meteor yang Pernah Jatuh ke Bumi

Melansir National Geographic, meteorit adalah batuan luar angkasa yang jatuh ke permukaan bumi. Batu meteor adalah batu dari ruang angkasa yang sedang terbakar di atmosfer. Sementara meteorit adalah meteor yang sampai ke muka Bumi.

Tercatat lebih dari 60 ribu meteorit telah ditemukan di Bumi. Para ilmuwan membagi meteorit ini menjadi tiga jenis utama, yakni berbatu, besi, dan besi berbatu. Masing-masing jenis itu memiliki banyak sub-kelompok.

Meteorit batu tersusun dari mineral yang mengandung silikat, bahan yang terbuat dari silikon dan oksigen. Mereka juga mengandung beberapa logam, nikel dan besi. Ada dua jenis utama meteorit berbatu, yakni kondrit dan akondrit.

MelansirNASA, para ilmuwan memperkirakan bahwa sekitar 48,5 ton (44.000 kilogram) materi meteorit jatuh di Bumi setiap hari.

NASA mengatakan sebagian besar batuan luar angkasa yang lebih kecil dari lapangan sepak bola akan pecah di atmosfer bumi. Melaju dengan kecepatan puluhan ribu mil per jam, meteor biasanya hancur karena tekanan melebihi kekuatan objek, menghasilkan suar yang terang.

Biasanya kurang dari 5 persen dari objek asli yang akan jatuh ke tanah. Meteorit, potongan meteor yang ditemukan biasanya berkisar antara ukuran kerikil dan kepalan tangan.

NASA menyampaikan sebagian besar meteorit yang ditemukan di Bumi berasal dari asteroid yang hancur, meskipun beberapa berasal dari Mars atau Bulan. Secara teori, potongan kecil Merkurius atau Venus juga bisa mencapai Bumi, tetapi tidak ada yang dapat diidentifikasi secara meyakinkan.

Meteor yang Jatuh ke Bumi Rata-rata Jenis Kondrit

Kondrit sendiri diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yakni biasa dan karbon. Kondrit biasa adalah jenis meteorit berbatu yang paling umum. Sebanyak 86 persen dari semua meteorit yang jatuh ke Bumi merupakan kondrit biasa.

Kondrit terbentuk dari debu dan partikel kecil yang bersatu membentuk asteroid di tata surya awal, lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu. Karena terbentuk pada waktu yang sama dengan tata surya, kondrit merupakan bagian integral dari studi tentang asal-usul, usia, dan komposisi tata surya.

Sedangkan kondrit berkarbon diketahui jauh lebih jarang daripada kondrit biasa. Para astronom menilai kondrit karbon terbentuk jauh dari matahari, saat tata surya awal berkembang.

Sesuai dengan namanya, kondrit berkarbon mengandung unsur karbon, biasanya berupa senyawa organik seperti asam amino. Kondrit berkarbon juga sering mengandung air atau bahan yang dibentuk oleh adanya air.

Seperti kondrit biasa, kondrit berkarbon dapat diklasifikasikan secara lebih singkat berdasarkan komposisi mineralnya. Semua kelompok kondrit berkarbon ditandai dengan kode dua atau tiga huruf yang dimulai dengan C. Kondrit berkarbon sering dinamai sesuai dengan spesimen pertama dari jenis yang ditemukan.

Sedangkan meteorit besi sebagian besar terbuat dari besi dan nikel. Mereka berasal dari inti asteroid dan menyumbang sekitar 5 persen meteorit di Bumi.

Meteorit besi adalah meteorit paling masif yang pernah ditemukan. Komposisi mineral mereka yang berat karena mengandung besi dan nikel seringkali memungkinkan mereka untuk tetap utuh saat jatuh ke bumi. Meteorit terbesar yang pernah ditemukan, meteorit Hoba Namibia adalah meteorit besi.

Adapun meteorit memiliki jumlah mineral silikat dan logam. Satu kelompok meteorit berbatu-besi, pallasites, mengandung kristal olivin kuning-hijau yang terbungkus logam mengkilap.

Para astronom berpendapat bahwa banyak pallasites adalah peninggalan dari batas mantel inti asteroid. Komposisi kimianya mirip dengan banyak meteorit besi, membuat para astronom berpikir mungkin mereka berasal dari berbagai bagian asteroid yang sama yang pecah saat menabrak atmosfer bumi.


LAPAN menyampaikan bahwa potensi kejatuhan meteor seperti yang dialami Joshua di Tapanuli teramat kecil. Pertama, banyak meteor berukuran kecil dan habis terbakar di atmosfer. Kedua, sebaran manusia di Bumi masih terbilang tak merata sehingga probabilitas tertimpa menjadi lebih kecil.

Kemudian, Rhorom menjelaskan meteor bisa menembus atmosfer dan mencapai muka Bumi jika ukurannya cukup besar. Sebab, meteoritu tidak terbakar habis di atmosfer. Selain itu, meteor bisa menembus atmosfer Bumi karena tata surya tidak hampa.

"Banyak debu dan kerikil meteorit yang bisa menghampiri Bumi dan masuk ke atmosfer," ujar Rhorom.

Lebih dari itu, Rhorom mengaku Lapan tidak bisa mendeteksi meteor yang menembus Bumi. Sebab, deteksi dan lokalisasi meteor memerlukan sistem kamera pemantau yang terdistribusi rapat di suatu area.

NASAmengingatkan jangan berharap menemukan meteorit setelah hujan meteor. Sebagian besar hujan meteor berasal dari komet yang materialnya cukup rapuh. Fragmen komet kecil umumnya tidak akan bertahan masuk ke atmosfer Bumi.

Melansir National Geographic, Pada 1825, seorang laki-laki dilaporkan terbunuh saat terhantam meteorit di Oriang, India. Pada 1827 masih di India, tangan seorang pria terluka saat dihantam batu angkasa di Mhow. Di Rusia, meteorit meledak dan melukai 1.200 orang gara-gara kaca yang pecah pada 2007.

Sementara itu, pada Oktober 1992, meteorit terbakar membentuk bola api dan mengenai mobil seorang perempuan di New Yorks. Lalu pada 2007, warga desa di Peru dilaporkan sakit setelah jatuhnya meteor memicu asap beracun yang keluar dari tanah.

Meteorit juga pernah mengganggu pesta pernikahan pada 1929 dan upacara pemakaman pada 1924.

Profesor dari Tulane University Stephen Nelson menegaskan peluang orang kejatuhan benda langit sampai mati adalah 1 banding 1,6 juta. Sedangkan Astronom Alan Harris menghitung bahwa manusia punya peluang 1 banding 700 ribu untuk kena benda asing selama hidup seseorang di muka bumi.

Bernilai Miliaran, dibeli kolektor meteor AS

Sang pembeli batu metero di Tapanuli diketahui merupakan warga negara asing bernama Jared Collins.

Mengutip Daily Mail, Jared Collins merupakan ahli meteor asal Amerika Serikat (AS). Ia kemudian mengaku dikirim oleh kolektor bernama Jay Piatek untuk mengamankan meteorit dan melakukan negosiasi harga dengan Josua.

"Ponsel saya menyala dengan tawaran gila bagi saya, saya kemudian pesan tiket pesawat," kaya Jared.

"Saya membawa uang sebanyak yang saya bisa kumpulkan dan pergi mencari Josua, yang ternyata adalah negosiator yang cerdik," tambahnya.
Rampung transaksi dengan Josua, Jared mengirimkan batu tersebut ke AS, dan saat ini resmi menjadi koleksi pribadi Jay Piatek.

Rampung transaksi dengan Josua, Jared mengirimkan batu tersebut ke AS, dan saat ini resmi menjadi koleksi pribadi Jay Piatek.

Pecahan batu tersebut kemudian dijual kembali seorang kolektor kedua melalui situs jual-beli eBay seharga 757 poundsterling (Rp14,1 juta) per gram. Harga batu seberat 1.800 gram yang dijual Josua bisa mencapai hampir 1,4 juta poundsterling atau setara dengan Rp26 miliar.

Melansir Science Mag, kiprah Piatek (53) di dunia koleksi meteor sudah masyhur di komunitas astronomi AS. Lahir d Indiana, AS, Piatek adalah jebolan kedokteran Indiana University dan menjadi dokter hingga membuka klinik sejak 1995. Berburu meteor adalah hobinya yang dimulai tahun 2003.

Piatek mengaku tertarik meteor sejak anaknya yang masih kelas 4 SD kala itu belajar meteordi sekolah. Namun Piatek sadar meteor hanya dimiliki lembaga riset antariksa saja atau museum.

Piatek pun mulai mencari dari eBay dan pameran batu dan mineral. Piatek kemudian membuka jaringan dengan komunitas ilmuwan dan lembaga riset antariksa. Dia berburu meteor ke seluruh dunia.

Singkat cerita, Piatek pernah punya koleksi sebanyak 1.300 spesimen meteor. Namun beberapa tahun lalu, akibat sakit yang ia derita, Piatek memutuskan untuk mengurangi kecanduan meteroit dan menjual 400 spesimen yang ia punya.

Salah satu yang paling berharga adalah meteor Black Bauty. Ia mengaku menjualnya sebesar satu juta dolar AS ke miliarder teknologi Naveen Jain.

Ia pun menceritakan bahwa Black Bauty adalah meteor dari Planet Mars. Batu ini jatuh di Maroko, jutaan tahun lalu dan ditemukan suku nomaden Maroko tahun 2011. Tak butuh waktu lama, Piatek langsung membeli Black Beauty lewat perantara penjual batu mulia dan meteor bernama Aziz Habibi seharga Rp 85,2 juta.

Penemuan batu sontak menghebohkan para kolektor meteor dunia. Pasalnya harganya mencapai USD10.000 per gram dan cuma ada 2 kg di dunia. Piatek memiliki sekitar 1,4 kg atau senilai USD14 juta atau Rp199 miliar.




Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.