Jatim Catat Kasus Leptospirosis Capai 252 pada 2020, Tertinggi di Pacitan




      Dinas Kesehatan Jawa Timur (Jatim) mencatat penyakit Leptospirosis yang disebabkan oleh tikus ini tercatat mencapai 252 kasus sepanjang 2020.




Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Herlin Ferliana menuturkan, Leptospirosis adalah penyakit zoonosa yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira yang berbentuk spiral, dari genus Leptospira yang pathogen. Penyakit ini ditularkan secara langsung dan tidak langsung dari hewan ke manusia.

"Penyakit ini dilaporkan ditularkan terbanyak melalui air seni tikus yang mengandung kuman lepto dan berada pada daerah yang kurang bersih, kelembapan tinggi, becek dan banjir,” ujar Herlin, seperti dikutip dari Times Indonesia, Jumat (20/11/2020).

Di Jawa Timur, penyakit leptospirosis tertinggi terjadi di Pacitan yang mencapai 104 orang. Selanjutnya di Trenggalek sebanyak 37 orang, Gresik 32 orang, Sampang 29 orang, Probolinggo 26 orang, Kota Probolinggo 12 orang, Lumajang empat orang, Ponorogo, tiga orang, Banyuwangi sebanyak dua orang, Tulungagung satu orang, Bondowoso dan Blitar masing-masing satu orang.

Sedangkan kematian akibat Leptospirosis pada 2020 sebanyak 11 orang. Rincian kematian akibat penyakit itu antara lain di Kota Probolinggo sebanyak empat orang, Probolinggo tiga orang, Trenggalek satu orang, Ponorogo satu orang, Blitar satu orang dan Banyuwangi satu orang.

Adapun risiko penularan penyakit ini seperti ada luka pada kulit yang kontak dengan media yang terkontaminasi kuman Leptospirosisi, melalui banjir, genangan air sungai, danau, selokan, saluran air, sawah dan lumpur.

Gejala dan tanda klinis seperti demam lebih dari 38,5 derajat celsiusn, nyeri otot, lema, mata merah, sakit kepala, kekuningan pada kulit, nyeri otot betis, anuria, dan oliguria, serta aritmia jantung. Masa inkubasi bakteri rata-rata sekitar antara 3-7 hari.

"Pencegahan terhadap penyakit leptospirosis bisa dilakukan lebih awal,” ujar dia.

Pencegahan dilakukan dengan menjaga higienitas sanitasi lingkungan, menggunakan alat pelindung diri (APD) dengan memakai sarung tangan, sepatu boot saat beraktivitas dengan faktor risiko lepto tinggi, mencuci tangan dengan sabun saat dan setelah beraktivitas serta pengendalian  populasi tikus.

Bila mengalami Leptospirosis ringan, penderita bisa konsumsi Dosisiklin dua kali 100 mg selama tujuh hari. Namun, apabila mengalami Leptospirosis berat, penderita bisa melakukan terapi suportif bila disertai komplikasi.

Herlin menuturkan, jika Dinkes Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya pencegahan. Upaya itu membuat surat kewaspadaan kejadian Leptospirosis kepada dinas kesehatan  kabupaten/kota di Jawa Timur, menyediakan RDT kepada dinas kesehatan, rumah sakit yang membutuhkan, sosialisasi leptospirosis kepada dinas kesehatan/kota melalui workshop, pertemuan, pendampingan dalam penanggulangan KLB Leptospirosis dan workshop bagi dokter rumah sakit.

Herlin juga meminta agar masyarakat terus mewaspadai potensi Leptospirosis. Apalagi saat ini hampir semua wilayah Indonesia tengah mengalami pancaroba ke musim penghujan. Pada musim penghujan, tubuh dipaksa untuk beradaptasi dengan suhu dan kelembapan yang berbeda dari cuaca sebelumnya.

“Sehingga jika tidak mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat akan mudah terjangkit penyakit,” kata dia.

Sumber :Liputan6

No comments

Powered by Blogger.