Jepang Punya Rumah Sakit untuk Boneka dan Mainan

Natsumi Hakozaki, pemilik Natsumi Clinic, rumah sakit khusus boneka dan mainan di Tokyo, Jepang. (AFP/PHILIP FONG)


Di sebuah klinik di Tokyo, seorang wanita berjas putih dengan hati-hati mencatat kondisi kesehatan pasien terbarunya: boneka berbentuk domba.

Natsumi Clinic punya spesilisasi dalam memulihkan boneka dan mainan lainnya ke kondisi primanya, hal yang menyenangkan pemilik yang sangat terikat seperti Yui Kato, yang membawa boneka dombanya, Yuki-chan.

"Saya pikir saya tidak punya pilihan selain membuangnya karena dia benar-benar rusak, tapi kemudian saya mendengar ada rumah sakit yang menangani hal semacam ini," kata pemain berusia 24 tahun itu kepada AFP.

"Mungkin dia tidak akan seperti dulu lagi, tapi saya datang ke sini berharap melihatnya sehat kembali."

Klinik tersebut menawarkan perawatan mulai dari "operasi mata" dan transplantasi rambut hingga menjahit luka, jelas sang pendiri, Natsumi Hakozaki.

Dia mulai merawat mainan dan boneka empat tahun lalu di kampung halamannya, kota utara Sendai, setelah bekerja di toko jahit di mana pelanggan sering bertanya apakah dia bisa memperbaiki mainan.

"Pelanggan melihat boneka dan mainannya sebagai anggota keluarga, pasangan atau sahabat, bukan hanya benda. Setelah boneka mereka diperbaiki, banyak dari mereka memeluk (mainan), atau menangis," kata Hakozaki.

Pengalaman tersebut menginspirasinya untuk membuka toko yang menawarkan perawatan khusus, dan setiap mainan dan boneka diberi resepnya sendiri.

Untuk Yuki-chan si domba, Hakozaki pertama kali melepas isiannya lalu memandikannya dengan sabun khusus, yang dia gambarkan sebagai perawatan "spa".

Klinik lalu dengan hati-hati mendokumentasikan setiap tahap perawatan, mengunggah gambar secara online sehingga pemilik dapat mengawasi.

Hakozaki sadar betapa orang bisa terikat pada boneka mereka, dan menganggapnya penting untuk memperlakukan mainan seolah-olah mereka masih hidup.

Mentransfer 'jiwa'

"Sepertinya dia sangat lelah. Harap santai dan nikmatilah!" klinik itu memberi keterangan pada foto Yuki-chan yang sedang berendam di bak mandi berbusa.

Yuki-chan dalam kondisi yang sangat buruk sehingga dia harus dibentuk kembali dari awal. Bak mandi mengembalikan kulitnya yang compang-camping ke bentuk aslinya, memungkinkan Hakozaki menggunakannya untuk membuat pola kain baru.

Setelah dijahit menjadi satu, kain itu diisi dengan isian baaru, yang langsung memberi penampilaan baru bagi Yuki-chan, kecuali untuk "hati" - yang dibuat dari kain merah muda dan diisi dengan sedikit isian orisinalnya.

Boneka yang sedang dirawat di rumah sakit khusus boneka dan mainan, Natsumi Clinic. (AFP/PHILIP FONG)

Hakozaki melihatnya sebagai cara mentransfer "jiwa" mainan itu ke dalam tubuh baru.

Pria berusia 34 tahun itu memindahkan bisnisnya ke Tokyo dua tahun lalu, dan sekarang memperbaiki 100 mainan boneka dalam sebulan dengan lima "dokter" lainnya.

Klien telah mengirim mainan dari Hong Kong, Taiwan, Prancis, dan Inggris untuk perawatan, dan pelanggan harus menunggu hingga satu tahun untuk mendapatkan tempat.

Perbaikan memakan waktu sekitar 10 hari, dan situs web klinik menampilkan foto-foto "pasien" yang dipulihkan dan difoto bersama di "pesta untuk merayakan kepulangannya".

Hanya ada satu "klinik" lain untuk memperbaiki boneka mainan di Jepang, di Osaka, dan permintaan datang meskipun harga berkisar antara 10 ribu hingga 500 ribu yen (Rp1,3 juta sampai Rp69,5 juta) tergantung pada cedera yang diderita boneka dan mainan.

Perawatan Yuki-chan menghabiskan biaya 100 ribu yen, tetapi baginya uang itu dihabiskan dengan baik.

"Kenangan saya (dengan dia) lebih penting daripada uang, jadi saya tidak menyesalinya," katanya, mengingat boneka domba membantunya melewati "masa-masa sulit".

"Saya berbicara dengannya ketika saya pergi tidur untuk memilah perasaan saya dan saya biasa menangis di depannya," katanya.

Lebih dari benda

Dia bilang dia menangis lagi, tapi kali ini air mata kegembiraan, ketika dia melihat foto transformasi Yuki-chan, dan sangat senang ketika dia datang untuk menjemput teman lamanya.

"Saya benar-benar terkejut! ... Dia kembali seperti saat saya mendapatkannya untuk pertama kali," katanya.

"Dia memiliki 'hati' yang penuh isian, jadi dia memiliki penampilan baru tetapi sebagian dari ingatannya masih ada di dalam dirinya," tambah Kato.

"Saya sangat senang saya bisa menyimpan kenangan itu dengan saya."

Klien lain juga mengungkapkan keterikatan emosional yang mendalam pada boneka binatang mereka, termasuk Kota Sano, yang menggambarkan mainan berang-berang lautnya yang berusia 40 tahun "Racchan" sebagai "anggota keluarga yang sangat diperlukan".

"Dia menyelamatkan saya ketika saya berada di bawah tekanan di tempat kerja ... dia seakan memaafkan saya dan menerima saya," katanya kepada AFP, seraya menambahkan bahwa istri dan putranya juga menyukai boneka itu.

Sano mengaku terkadang merasa malu mengungkap kecintaannya pada mainan tersebut, tetapi mencatat bahwa cerita rakyat tradisional Jepang mengatakan benda-benda memiliki jiwanya sendiri.

Mereka "bisa lebih dari sekadar menjadi sesuatu dan bisa memiliki kepribadian," katanya.

Dan Hakozaki memahami perasaan pemilik terhadap mainan mereka.

"Kami tidak hanya mengganti seorang ayah karena dia sakit. Itu sama saja untuk boneka mainan," katanya, menggambarkan keterikatan itu sebagai sesuatu yang "universal".

"Ada orang yang menganggap boneka mainan mereka sebagai anggota keluarga tidak hanya di Jepang tetapi juga di seluruh dunia."




Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.