Kisah 'Kuburan Bule' di Bumi Rafflesia


Tugu Thomas Parr. (Foto: Okezone.com/Demon Fajri)


BENGKULU - Bumi Rafflesia, begitulah julukan Provinsi Bengkulu. Daerah satu ini merupakan bagian dari provinsi di Pulau Sumatera. Bengkulu punya peninggalan bangunan sejarah zaman penjajahan, salah satunya Monumen Thomas Parr.

Monumen itu masih berdiri kokoh, tak jauh dari Benteng Pertahanan Inggris, Fort Marlborough. Bangunan berbentuk oktagonal itu terletak di Kelurahan Malabero, Kecamatan Teluk segara, Kota Bengkulu.

Thomas Parr merupakan residen pertama Fort Marlborough, tahun 1805-1807. Nama monumen yang memiliki tinggi sekira 13,5 meter itu diambil dari pedagang senior (senior merchant) di India yang diangkat sebagai Residen Bengkulu.,

Tugu yang memiliki kubah di bagian atas tersebut memiliki catatan sejarah bagi bangsa Indonesia. Monumen yang dikenal dengan ''Kuburan Bulek'' itu pun telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tugu Thomas Parr yang dilindungi UU No, 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. 

''Monumen ini disebut masyarakat setempat dengan nama Kuburan Bulek, karena dilihat dari bentuknya,'' kata pendiri Bengkulu Heritage Society, Almidianto kepada okezone, Minggu (8/10/2020).

Lantas bagaimana kiprah Thomas Parr di provinsi yang dihuni tidak kurang 2,2 juta jiwa ini?


1. Residen Pertama Fort Marlborough

Thomas Parr adalah residen pertama Fort Marlborough, tahun 1805-1807. Pada awalnya Parr bekerja sebagai pedagang senior di India. Kemudian, Parr diangkat sebagai Residen Bengkulu.

Penugasan Parr sebagai residen di Bencoolen, untuk memperbaiki keadaan kantor dagang. Berdasarkan laporan internal East India Company (EIC), kantor dagang telah merugi sejumlah Euro 87.000 per tahun. 

Parr menemui kesulitan dalam usahanya memperbaiki administrasi kantor dagang. Parr menemukan adanya praktik korupsi, penyalahgunaan wewenang khususnya di Selebar dan Pulau Baai.

Selain itu, adanya pengabaian pajak lada yang seharusnya menjadi hak dari Sultan Muco-muco (Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu). Untuk memperbaiki keadaan, Parr menerapkan kebijakan.

''Kebijakan yang diterapkan Parr, seperti mengontrol semua aspek perdagangan, membubarkan laskar Bugis, mencampuri keputusan pengadilan dan tanam paksa kopi,'' kata Almidianto. 

2. Tragedi Mount Felix

Perubahan yang dilakukan Parr mengakibatkan kekecewaan dan kebencian terhadapnya. Pada Kamis 23 Desember 1807, di kediamannya yang disebut ''Mount Felix'' diserang. 

Sekelompok orang melakukan penyerangan dan pembunuhan. Akibat peristiwa ini Parr terbunuh, istri Parr terluka dan Charles Murray, Sekretaris Parr meninggal Kamis 7 Januari 1808. Kelompok yang menyerang Parr masih dalam perdebatan keabsahan sampai saat ini.

''Parr dimakamkan di Komplek Fort Marlborough. Selain itu, untuk menghargai jasa-jasanya, kerajaan Inggris membangun sebuah monumen, The Parr Mausoleum (Monument Parr),'' jelas Almidianto. 

Richard Parry (1808-1810) menggantikan Thomas Parr sebagai Resident Fort Marlborough. Goerge John Siddons menjabat sebagai Avting Resident tahun 1810, William Parker menjadi residen tahun 1810-1812.

''Fort Marlborough kembali dipimpin Acting resident tahun 1813-1816 oleh George John Siddons yang kemudian menjadi Residen tahun 1816-1818,'' ujar pria yang akrab disapa Yanto ini. 

3. Sir Thomas Stamford Raffles

Raffles berlabuh di Bengkulu, pada Kamis 19 Maret 1818. Dia menjadi Lieutenant Governor Fort Marlborough. Selama kepemimpinannya sampai dengan tahun 1824 terjadi beberapa perubahan penting terhadap Fort Marlborough dan Bengkulu. 

Perhatian utama Raffles adalah kondisi pemerintahan di Bencoolen. Dia menyusun perjanjian baru dengan penguasa lokal.

Perjanjian ini meliputi semua perjanjian sebelumnya dibatalkan, kewenangan diberikan kepada Inggris (company) untuk mengelola wilayah menurut kesetaraan, keadilan dan kebijakan yang tepat, terakhir kebebasan budidaya lada bagi penduduk.

''Raffles juga menambahkan peraturan yang melarang penduduk lokal untuk membawa keris atau senjata lainna di wilayah ''kota'' Marlborough untuk antisipasi keamanan,'' sampai Yanto. 

4. Duka Raffles di Bencoolen

Tahun 1820-an, epidemi menghampiri Bencoolen termasuk keluarga Raffles. Leopold Stamford (3), anak kedua Raffles meninggal pada 1821. Setahun kemudian Stamford Marsden (2) anak ketiga yang lahir di Bengkulu meninggal karena radang usus. 

Beberapa hari kemudian, anak pertama Raffles, Charlotte (4) juga meninggal karena penyakit yang sama pada Senin 14 Januari 1822. Terakhir, anak kelima Raffles mengikuti jejak kematian saudaranya, meninggal pada 18 November 1823.

''Semua anak-anak Raffles yang meninggal dimakamkan di Bencoolen (Bengkulu),'' jelas Yanto.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.