Napak Tilas Sejarah di 4 Taman Air Peninggalan Raja-Raja

\
Taman Ujung Sukasada, Karangasem, Bali (Instagram @ujungwaterpalace)


INDONESIA punya banyak tempat bersejarah dengan cerita yang melegenda dan bisa menjadi pilihan wisata yang menarik. Misalnya taman air para raja-raja nusantara zaman dulu.

Tempat ini adalah salah satu bukti rekam jejak para raja dalam melakukan kegiatan sosial di kerajaan. Kini taman tersebut telah dijadikan objek wisata dan terus dilestarikan keberadaannya.

Berikut 4 destinasi taman air para raja terdahulu yang dijadikan tempat wisata. Bisa dikunjungi untuk memahami kisah hidup pemimpin sejarah pada masanya.

Taman Sari Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta atau istana air terletak di Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Dalam situs resminya disebutkan, taman ini dibangun pada era pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I pada 1758-1765.

Namun, bangunan ini sempat hancur karena diserang pasukan Inggris. Kemudian pada 1970-an taman ini kembali dibuka.

Di dalam taman ini terdapat peninggalan bersejarah berupa gedung, kolam pemandian, kanal air, jembatan gantung, danau dan pulau buatan, serta Lorong bawah air.

Taman Sari Yogyakarta (Instagram @wisata_tamansari_yogyakarta)

Arsitektur dan relief setiap sudut taman memadukan gaya khas Islam, Hindu, Buddha, China, dan Eropa. Tempat ini menjadi saksi kejayaan Keraton Yogyakarta yang dulu digunakan sebagai tempat peristirahatan, pertahanan, ibadah, dan tempat bersemedi bagi raja.

Tidak hanya peninggalan sejarah yang menarik untuk didapati, di tempat ini pengunjung juga dapat mengetahui pola kehidupan lama yang diterapkan raja bersama keluarganya. Mulai dari mengenal ritual agama, seni budaya, serta kegiatan sosial raja. Konon menurut penuturan masyarakat, Taman Sari juga digunakan sebagai tempat pemandian permaisuri dan para putri raja.

Taman Ujung Sukasada

Objek wisata yang juga menarik dikunjungi adalah Taman Ujung Sukasada. Tempat ini merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem yang dibangun atas perintah Raja I Gusti Bagus Jelantik pada 1909.

Pembangunan sempat rampung pada 1921 dan akhirnya diresmikan pada 1937 dengan penanda prasasti. Tapi, taman ini pun pernah mengalami kerusakan parah karena letusan Gunung Agung pada 1963 dan gempa pada 1976. Akhirnya dengan bantuan Bank Dunia, taman kemudian diperbaiki.

Dulunya, taman ini digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja dan tempat menjamu tamu-tamu kehormatan. Kemegahan dan keunikan bangunan pada taman adalah karya arsitek Belanda, China, dan undagi (arsitek Bali). Uniknya, tatanan bangunan tetap dibuat dengan gaya arsitektur Bali dan Eropa.

Di taman ini terdapat tiga buah kolam besar, satu kolam di selatan dengan bangunan Bale Bengong dan dan dua kolam di utara dengan bangunan Bale Geli yang menghubungkan jembatan ke arah utara.

Daya tarik taman juga ada pada bangunan pilar tanpa atap. Pengunjung perlu menaiki seratus anak tangga untuk menikmati bentangan laut biru dengan pemandangan bukit-bukit hijau yang indah. Lokasi taman ini ada di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem. Jarak tempuh ke tempat ini sekitar 60 Km dari Denpasar.




Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.